Bata-Bata di Mata Tasaro GK

ADMINPESANTREN Kamis, 25 Januari 2018 20:28 WIB
421x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren Pekan Ngaji 3

Oleh: Tasaro GK

Saya hanya menjahit cerita Sang Nabi, lalu segala kebaikan datang tanpa berhenti.

Sembilan tahun lalu saya tidak pernah berpikir ini akan terjadi. Bahkan, meski puncak istiqomah masih teramat jauh dan terjal bukan main, rasa-rasanya, Allah tak berhenti membisiki kuping saya:  "Ayo, anak Adam. Merangkaklah...jangan menyerah."

Empat hari terakhir, Allah seperti "membisiki" saya satu kalimat, "Temui Aku di Bata-Bata."

Saya menulis ini di atas kereta, pulang kepada anak istri saya sembari berkaca-kaca. Betapa manusia mestinya cukup dengan sapaan surat Ar Rahman saja alih-alih menggelisahkan surga atau neraka.

Setelah perjalanan ke Tanah Suci hampir setahun lalu, saya teramat takut portal itu telah ditutup dan saya mesti mengumpulkan segala kemungkinan untuk sowan ke rumah Tuhan, supaya saya bisa membincangi-Nya seperti malam-malam syahdu di Nabawi dan Al Haram.

Rupanya tidak. Bumi Allah amat luas, sedangkan saya terlalu meremehkan Tanah Air saya sendiri: Indonesia.

Bahwa, Allah "hadir" di sini, "membincangi" manusianya setiap hari. 

Setelah hampir satu dekade sejak kali pertama novel "Lelaki Penggenggam Hujan" saya tuliskan, tak berhenti kebaikan, majelis-majelis ilmu yang tak terbilang, saya datangi, saya resapi.

Lalu apa yang saya alami empat hari ini teramat membahagiakan. Lalu saya membisiki diri saya sendiri, berulang kali, "Saya teramat bahagia menjadi seorang Muslim Indonesia."

Sebelum berangkat ke Timur Jawa, menyeberangi jembatan Suramadu dan menjejak ke pulau legenda: Madura, saya sungguh tak tahu apa-apa. Madura adalah rumah Arya Wiraraja, memori kanak-kanak saat saya mendengarkan sandiwara radio Tutur Tinular memberitahu saya. Itu saja.

Sisanya adalah remang-remang di antara berita sedih tentang tragedi, dan sayup cerita pulau Gili yang saya baca dalam novel Lintang Sugianto.

Saya datang atas undangan sebuah pondok pesantren yang sayup sampai saya dengar, selalu disebut sahabat hati saya, guru saya yang selalu membuat saya yakin berislam amatlah mudah meski tak patut dimudah-mudahkan : Bahauddin Amyasi. Dia adalah satu di antara sekian banyak kerlip di dalam rumah besar bernama Keluarga T(j)inta.

Sejak dua tahun lalu, saya selalu mencarinya sewaktu beragama, rasa-rasanya menyempitkan hati, menyesakkan dada.

Saya benar-benar merasakan itu. Ketika isu-isu keislaman, belakangan, menjadi teramat sering memberatkan pikiran. Bukan Islamnya, tapi bagaimana sebagian umat ini berhadap-hadapan, mengibarkan bendera perbedaan, "menancapkan" Al Qur'an di ujung tombak, menggemakan takbir, tapi kehilangan senyuman.

Saya teramat gelisah, terkenang Peristiwa Jamal dan Siffin yang meluluhlantakkan.

Saya lebih sering takjub dengan isi kepala Cak Baha dan bagaimana dia melisankannya.

Saya bertanya-tanya, tempat dia menempa dirinya, semacam apa?
Dua tahun ini, Cak Baha bercerita tentang Pesantren Bata-Bata yang bersahaja. Sebuah pesantren tradisional yang menjadi rumah anak-anak Madura dan mereka yang datang dari tempat-tempat yang jauh.

Hampir satu dekade, novel Muhammad mengantar saya ke puluhan pondok pesantren dari pangkal barat sampai ujung timur Jawa. Meski rupa-rupa, saya selalu menemukan benang merah yang sama: rumah-rumah ilmu ini tengah menyiapkan Indonesia.

Saya tak mengharap cerita berbeda di Bata-Bata. Semangat besar saya hanya bertemu Cak Baha. Agar kami bisa meneguk kopi dan tertawa-tawa membincangkan ilmu dan hikmah.

Lalu, setelahnya saya mengatakan ini: "Saya hanya menjahit cerita Sang Nabi, tapi hikmah seperti air bah yang hadir tak henti-henti."

Saya hancur lebur di Bata-Bata. Menjadi remah-remah tak berguna. Menyaksikan, merasakan, meyakini segala teori, kerja kecil saya, teramat tak ada apa-apanya dengan apa yang kemudian saya temui.

Saya tak menemukan seorang Cak Baha, tapi ribuan Baha lain yang berpikir, tertawa, berkata, dengan hati mereka, dengan cinta mereka.

Hari itu, dari Surabaya saya dijemput panitia yang "memaksa" saya satu kendaraan dengan dua calon profesor UIN Jogja: Dr. H. Abdul Mujib, M, Ag dan Dr. Ali Sadikin.

Mau apa pun spesialisasinya, sejak lama saya selalu minder jika mesti berdekat-dekat dengan para cendekia, merasa cekak ilmu dan pengetahuan. Namun, perjalanan empat jam menyeberang ke Madura begitu seru dan penuh tawa. Melaluinya amat tak terasa.
Bermacam seloroh perihal budaya, politik, spiritual, mengalir deras dan bebas. Mungkin dua orang kandidat guru besar yang awet muda ini adalah para doktor paling menyenangkan yang pernah saya temui.

Sambil membahas spanduk calon kepala daerah, KPK, sampai rumah makan Syahrini, saya menyerap sebanyak-banyaknya ilmu dari kedua guru baru. Merasa mendapat bonus dari sebuah misi yang sederhana: mengajar santri menulis novel lalu minum kopi bersama beberapa sahabat yang lebih dulu tahu saya hendak mengunjungi pulau itu. 

Bahkan, setelah kami sampai di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata yang menjadi tujuan, saya masih tidak sadar benar apa yang hendak saya hadapi. Cak Baha yang mendampingi saya lalu memperkenalkan kami dengan Cak Miftah, ketua panitia yang tentu adalah ustad dan alumni pesantren ini. Para alumni, seperti Cak Baha adalah para cendekia yang telah berkarya di luar Madura namun selalu terpanggil pulang ketika almameter membutuhkan kehadiran mereka.

Para laki-laki yang semua bersarung dan berkopiah, bersenyum merekah, mengira-ngiranya teramat susah: siapa yang menjadi apa?

Tidak ada yang resmi diperkenalkan sebagai siapa dan berperan di mana. Namun dari obrolan akrab penuh tawa saya segera tahu, para lelaki bersarung ini punya macam-macam capaian yang menakjubkan. Beberapa adalah lulusan sekolah master atau doktoral di Australia dan Eropa. Beberapa yang lain adalah bagian dari tim-tim pembuat kebijakan di ibukota. 

Lewat tengah malam saya baru berminat masuk kamar dan tidur. Beberapa jam saja, karena menjelang subuh kami terbangun lalu menyiapkan diri untuk hari pertama mengisi kelas "Ngaji Menulis" di kelompok putra.
Ini hal biasa. Tidak ada yang istimewa. Bertahun-tahun inilah yang saya lakukan.

Memotivasi anak-anak muda supaya mereka tak mati dulu sebelum setidaknya sekali seumur hidup menuliskan sebuah buku.

Memberikan tips penulisan lewat permainan, bersenda gurau dengan tujuan, mempraktikkan teori langsung ke dalam tulisan.

Menyenangkan, lebih-lebih bagaimana saya menemukan santri-santri ini, memiliki ide-ide tak terduga di kepala mereka. 
Sejak pagi sampai petang hari saya berada di Pesantren Putra dimoderasi Cak Baha. 

Sekembali kami ke paviliun tamu, hari itu yang seharian saya menahan sakit perut gara-gara makan kepedasan, berusaha untuk tidur.

Tapi gagal. Menjelang maghrib, Cak Baha menghampiri saya yang tengah berupaya memejamkan mata. "Gus saya pengen ngobrol, Bah."

Ya, saya tahu, siapa pun yang dipanggil "Gus" dalam lingkungan pesantren amatlah dimuliakan. Saya tentu saja menghormati tapi dengan pengertian-pengertian tertentu. Lahir, tumbuh, menua, di luar pesantren sudah pasti menyulitkan saya untuk memahami, merasakan, mempraktikkan rasa hormat yang identik dengan apa yang dipraktikkan mereka yang berlatar belakang sebagai santri.

Saya menduga, awalnya, beliau yang kemudian saya tahu disebut "Lora" (panggilan Gus khas Madura) adalah ulama langitan yang biasa saya temui sebelum-sebelumnya. 

Tapi tidak, ternyata.

Nama beliau Lora Thohir, salah seorang putra Kiai pengasuh Pesantren Bata-Bata, yang bahkan usianya satu tahun lebih muda dibanding saya.

Beliau menyalami saya lebih dulu dengan cara yang biasa sedangkan para santri di ruangan itu berdiri dengan bahasa tubuhnya: segan, hormat, cinta, penuh adab, menahan diri, kepada beliau. 

Sementara Lora Thohir justru menyambut kami, para tamunya dengan amat empatik dan tulus. 

Kami kemudian duduk di sofa yang disusun kotak. Beberapa alumni yang hebat-hebat itu memilh duduk timpuh di karpet permadani.

Kami, saya dan dua doktor rendah hati dari UIN itu, lalu menyimak tuturan Ra Thohir yang runut dan jelas. Tapi kepada saya, Ra Thohir memberi tugas tambahan. Beliau meminta saya membaca tulisannya di sebuah alamat blogspot.

Tentu saya menyambutnya meski tanpa ekspektasi. Saya sudah bertemu buuanyak orang-orang berkedudukan istimewa yang menulis sekelompok kata lalu yakin betapa baik karyanya. 

Jadi saya mulai membaca tulisan Ra Thohir dengan pendekatan yang sama seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya. Iya, bahwa seorang tokoh yang menulis saja sudah luar biasa. Sehingga apa pun tulisannya harus diapresiasi. Tapi biasanya tulisan itu akan mengalami beberapa problem mendasar dalam tata bahasa dan keterbacaan.

Tapi, saya segera mengoreksi keterburu-buruan saya.

Hanya dari paragraf pertama, saya segera percaya, ulama di hadapan saya ini....beda.

Bahkan, tulisan yang sedang saya baca adalah fiksi romansa. Saya seperti sedang membaca Buya Hamka.

Jenaka bahasanya namun bernas dan hidup. Bahkan tokoh utama cerita ini seorang santri putri dan penulisnya amat...sangat mengerti bagaimana psikologi seorang perempuan.

Bagimana tokohnya membatin, berpikir, jatuh cinta, amat feminin. Sedangkan narasi ceritanya lunak, mudah dicerna, unik, memancing tawa. 

Kisah santri putri yang jatuh cinta kepada lora di pesantren tempat dia belajar saya baca perlahan, dijeda oleh penjelasan Ra Thohir yang mengajak kami mengenal Bata-Bata melalui lisannya.

Saya sendiri amat takjub dengan kisah fiksi itu dan segera menemukan konteks akan segala hal. Bahkan jawaban mengapa Cak Baha sebagai seorang santri, cara berpikirnya amat menyamankan. 

Rupanya Sang Lora yang menjadi gurunya, penuntunnya, pemimpinnya memiliki kedalaman pemahaman tanpa mencampakkan seni.

"Kami tidak pernah menolak santri," kata Ra Thohir menjeda pembacaan saya beberapa kali. Saya memang ingin melakukan keduanya. Membaca habis fiksi romantis itu sekaligus menyimak penjelasan Ra Thohir yang kian menarik.

"Santri kami hampir sepuluh ribu jumlahnya. Mereka masuk tanpa seleksi," lanjutnya.

Lalu berbagai angka dan fakta mengejut-ngejutkan saya. Bahwa para santri yang memang sejak pagi saya lihat bersliweran dengan jumlah ribuan di gang-gang pesantren, datang dari pelosok Madura. Banyak di antara tunas-tunas sejati ini datang dari keluarga sederhana di perkampungan-perkampungan jauh. Tempat-tempat yang bahkan belum dialiri listrik atau mencapainya mesti berkapal selama 18 jam!

Oleh karenanya tak ada yang ditolak. Orangtua mereka hanya membayar Rp25.000 per bulan. Sedangkan pesantren ini menolak sama sekali berbagai jenis bantuan, kecuali BOS. Bahkan program bantuan operasional sekolah dari pemerintah itu tidak bisa mengakomodasi seluruh santri saking banyaknya jumlah pencari ilmu di pesantren ini.

Mengalir....mengalir....cerita terus mengalir. Saya berkali-kali menjeda pembacaan saya akan fiksi Sang Lora untuk menyimak langsung kalimat beliau. Dua-duanya tak bisa saya dahulukan satu di atas yang lain.

Sebab, fiksi itu berbicara lebih dari rangkaian kata yang terbaca. Dalam teks itu saya mendapati sebuah cara pandang, cara hidup, cara berseni yang begitu istimewa, sebab beliau seorang lora, tentu saja.

Seorang lora adalah wajah muda sebuah pesantren. Ia adalah visi yang melahirkan masa depan.

Maka, membaca narasi fiksi ini, yang terasa lincah dan segar namun tetap dengan nilai kuat yang mengakar bagi saya teramat menjanjikan.

Menyempurnakan diskusi kami petang itu, Ra Thohir lalu memanggil lima atau enam santri yang memercikkan air mata saya, meski dalam tawa. Keharuan yang aneh.

Anak-anak belasan tahun yang dihadapkan kepada kami adalah mereka yang belajar macam-macam bahasa asing di sela memenuhi standar akademik pesantren yang berkitab-kitab.

Satu per satu mereka berbicara lancar dalam bahasa Jepang, Spanyol, Perancis, Mandarin, Jerman.

Saya tertawa oleh rasa bahagia. Tertawa karena tidak sanggup membahasakannya. Air mata merembes sebagai gantinya. Anak-anak ini, meninggalkan kampung-kampung mereka yang jauh dan bahkan susah dicari di dalam peta. 

Di Bata-Bata mereka menanam benih mimpi yang dirawat dengan hati-hati. Saya melihat benih-benih itu telah bertunas sewaktu mereka melisankan apa saja dengan bahasa-bahasa yang asing di telinga.

Bukan perkara kecanggihannya. Meski bagi saya tetap pantas diberi tepukan yang gemuruh, tapi bukan hal itu yang membuat saya terharu.

Membaca mata anak-anak itu, mencerap api semangat padanya, kesungguhan, tekad untuk mengubah hidup, amat membakar mata saya. 

Seketika membuat saya berpikir tentang Indonesia. Saya pada akhirnya menemukan alasan mengapa saya semestinya bahagia, menjadi Muslim Indonesia.

Melihat wajah-wajah itu yang hanya beberapa nama mewakili ribuan teman-teman seperjuangan mereka, saya merasa betapa Allah mencintai Indonesia. Sementara negeri-negeri jauh yang bertauhid sama kini tengah tercabik-cabik buminya, generasinya, Indonesia justru sedang bersiap hendak melakukan panen besar peradaban.

"Kami berusaha mandiri. Tidak membebani santri, alumni, dan pihak manapun. Kami menciptakan unit-unit usaha untuk membiayai pesantren ini dan kegiatan-kegiatannya. Acara kita sekarang pun dibiayai oleh keuntungan dari unit-unit ekonomi itu," lanjut Ra Thohir.

Acara yang Ra Thohir maksud adalah "Pekan Ngaji" yang juga mengundang saya sebagai pembicara. Saya, satu-satunya pembicara yang tidak jelas kompetensinya. Sedangkan acara bertaraf internasional ini mengundang puluhan profesor dan doktor dari Indonesia, Malaysia dan Brunei Darrusalam.

Sedangkan saya ini apa?

Keseluruhan acara terus-menerus yang isinya seminar, pelatihan, kuliah ini menghabiskan biaya lebih dari Rp700 juta. Pembiayaannya tertutup oleh keuntungan berbagai unit usaha pesantren, salah satunya jaringan minimarket yang namanya mengingatkan kepada nama saya 'Homastas".

Semakin detail Ra Thohir berbicara tentang Bata-Bata semakin saya merasa rontok menjadi remah-remah.

Kiai muda ini berpikir, berdiskusi, bervisi, mengeksekusi, seribu tahun cahaya jauhnya dari mimpi-mimpi saya.

Malam itu sungguh-sungguh saya merasa Allah menitipkan pesan kepada udara. Agar manusia semacam saya tak kehilangan asa. Seolah-olah Ia berkata: "Hanya karena orang semacam kamu sibuk dengan hal-hal tak perlu, bukan berarti Aku tak akan mengirim ribuan mukmin yang akan menjaga agama ini, menyiapkan masa depan yang gemilang, menghadirkan kemanfaatan."

Hal-hal tak perlu. Hal-hal yang kadang lebih menghabiskan energi dibanding manfaat berarti: mengadu pemimpin, menilai kelompok lain, mengembuskan kebenaran tunggal yang kanibal.

Ah, bahkan ketika udara telah begitu sesak oleh teriakan-teriakan yang penuh kemarahan, Allah tetap menjaga Indonesia.

Malam terakhir di Bata-Bata, ketika saya dan Cak Ganteng Ikhsan yang calon doktor dari Australia membedah buku berjudul Lora, sebuah pertanyaan santri memaksa saya diam beberapa lama.

"Jika menurut Anda kehidupan pesantren begitu Indahnya, mengapa Anda tidak menjadi santri saja?"

Saya berusaha tak bicara sesuatu yang terdengar bodoh. "Seperti nasihat yang Anda kutip pernah disampaikan Lora tadi, bahwa Lora lebih berbahagia memiliki santri di luar Bata-Bata tapi cara berpikirnya ada di dalam pesantren ini dibanding santri yang tinggal di dalam pesantren tapi cara berpikirnya ada di luar Bata-Bata. Anggaplah saya kategori yang pertama," kata saya disambut hiruk pikuk tiga ribu peserta bedah buku. Tiga ribu! Islamic Book Fair pun rasanya tak mencatat rekor itu.

"Tapi...," ujar saya,"...jika suatu ketika saya memutuskan untuk menjadi santri pondok, saya akan pulang ke Bata-Bata."

(Kereta meninggalkan Surabaya: Tasaro Gk)