Santri Muba Ngaji Bersama Syeikh Abdun Nashir Ahmad al-Malibari

SAJJAD Selasa, 6 Februari 2018 20:38 WIB
172x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren Ponpes Muba

Bata-Bata – Ribuan santri  Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba) ikuti ngaji bersama Syeikh Abdun Nashir Ahmad al-Malibari As Syafi’i al-Hindi, salah seorang dosen di Universitas As Syafii, Cianjur, Jawa Barat. Pegelaran ngaji tersebut diletakkan di Mushallah, Ahad, (05/02/2018).

Dalam kajiannya, Syaikh Abdun Nashir  - sapaan akrab Syeikh Abdun Nashir Ahmad al-Malibari as Syafi’i al-Hindi berpesan, yang diterjemah langsung kedalam bahasa Indonesia oleh Ahmadi Nahrawi selah seorang Asatid Ponpes Muba agar santri tidak melupakan sejarah. beliau juga menambahkan bahwa Indonesia yang sekarang tidak lepas dari jerih payah ulama-ulama terdahulu yang telah memperjuangkan tanah air ini. Menurut beliau, meneladani jasa para ulama layaknya berpijak pada pijakan yang benar.

“Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, tidak bisa dilepaskan dari jerih paya para ulama-ulama terdahulu yang telah berjuang menyebarkan Islam di Indonesia. Menjadi keharusan bagi pelajar untuk mengenal jasa-jasa para ulama terdahulu. Misal, tentang biografi Syeikh Nawawi al-Banteni al-Jawi. Mengenal sirah atau biografi para ulama-ulama shaleh terdahulu merupakan bagian dari upaya untuk berpijak pada pijakan yang benar. Baik dalam berakidah atau beribadah dan bahkan bermuamalah antar sesama manusia,” pesannya.

Meneladani sajarah para ulama bukan hanya dilihat dari aspek sosial saja, namun juga personal seseorang, lebih-lebih dari segi keilmuan seseorang itu sendiri. Bahkan, beliau mengungkapkan bahwa setiap pribadi yang belajar agama, harus tahu sumber pengetahuan agama yang ia dapat. Sebab menurut beliau Sumber belajar dalam beragama sangat menetukan sikap keberagamaan seseorang.

“Mengenal pola pikir serta pijakan para ulama terdahulu menjadi satu kepastian untuk menjaga dan senantiasa berjalan di atas jalan yang benar. Upaya dalam mengembangkan pemahaman dalam beragama tidak bisa dilepaskan dari sajarah ulama terdahlu, yang telah mengawal berkembangnya Islam di Indonesia. Dalam beragama, dibutuhkan kejelasan dari siapa setiap pribadi belajar agama. Sumber belajar dalam beragama sangat menetukan sikap keberagamaan seseorang,” tambahnya.

Sebeum menutup jalannya kajian tersebut, beliau bahkan mengakui jika ulama-ulama Indonesia tidak hanya dikenal di tanah air saja, namun di seluruh penjuru dunia tidak terkecuali, Malibar, India, kampung halaman dari Syeikh Abdun Nashir Ahmad al-Malibari As Syafi’i al-Hindi sendiri.

“Ulama Indonesia banyak yang namanya tercatat dalam khazanah keilmuan Islam, Sebagai salah satu bukti antara lain adalah, apa yang telah ditulis oleh Syaikh Nawawi al-Banteni al-Jawi, dalam kurang lebih 50 judul karya dalam bahasa arab yang tercetak dan dinikmati oleh umat muslim dunia, tak terkecuali, Malibar yang merupakan kampung halaman saya sendiri,” pungkasnya, meutup jalannya kajian tersebut.

Dengan adanya kajian tersebut, Ketua Dewan Ma’hadiah Ahmad Khusairi berharap, dengan modal ilmu yang didapat dari orang yang tidak lagi diragukan keilmuannya, bisa menjadi modal dasar santri Bata-Bata dan genersi muda Indonesia secara umum untuk mengambagkan khazanah keilmuan masing-masing. Juga, bisa menjadi pembasmi ajaran-ajaran yang melenceng, tentunya bermodalkan ilmu pengetahuan yang cukup.

“Modal inilah yang semestinya menjadi modal dasar begaimana generasi muda Indonesia untuk mengembangkan diri terlebih dalam khazanah keilmuan. Generasi yang siap berbicara banyak tentang kebenaran bermodalkan ilmu pengetahuan, lebih-lebih dizaman dengan banyak munculnya ajaran-ajaran yang melenceng” harapnya.

Selah itu, para santri mendapatkan ijazah kitab Fatul mu’in bisyarhi qurrotul ain langsung dari Syeikh Abdun Nashir Ahmad al-Malibari As Syafi’i al-Hindi, yang langsung terhubung sanadnya lewat guru beliau kepada Syeikh Zainuddin al-Malibari, Pengarang kitab Fathul Mu’in tadi. (Asa/Jad)