Kiai Abdul Hamid Dimata Santrinya

ANIES Ahad, 11 Februari 2018 10:25 WIB
589x ditampilkan Headline Resensi

Tradisi pesantren mengajarkan kepada santri untuk menghormati kiai dengan berbagai bentuk penghormatan. Di pesantren, kita akan disuguhkan beragam cara unik santri mengabdikan diri, untuk sekadar ngalap berkah, atau berharap keberkahan dari sang kiai.

Hubungan antara santri dan kiai, pada akhirnya bersifat kontinu. Korelasinya bisa tak terputus, meski seorang santri tak lagi menuntut ilmu di pesantren. Keterikatan itu dalam banyak kasus, bahkan menjadikan antara satu dan lainnya, layaknya ikatan emosional antara anak dan bapak. Ragam persoalan akan dikonsultasikan santri itu. Dari soal pendidikan, sosial masyarakat, hingga politik.

Buku ini, merupakan kumpulan tulisan beberapa santri yang pernah belajar langsung kepada RKH Abdul Hamid, Pengasuh keempat Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan. Didikan serta ilmu yang diberikan membuat para santrinya sulit untuk melupakan jasa-jasanya.

Jiwa visioner berbalut kharisma yang luar biasa menjadikan Kiai Abdul Hamid sosok luar biasa di mata santrinya. Melihat kehidupan dengan kaca mata masa depan, sehingga apa-apa yang sering di dawuhkan kepada santrinya tidaklah normativ belaka. Dalam banyak kesempatan Kiai Abdul Hamid mengingatkan para santrinya agar terus giat belajar serta tidak melakukan hal-hal yang dapat menyakiti gurunya (hal. 27).

Bahkan dalam kitabnya, Imam Nawawi mengatakan bahwa seorang murid yang menyakiti gurunya dosanya tidak dapat dihapus oleh sesuatu apapun. Artinya, jika murid durhaka kepada guru tidak ada ampunan baginya.

Dalam pandangannya, kesuksesan para santri dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, bukan hanya ditentukan dengan semangat belajar, metode belajar. Tapi, yang paling dominan adalah ditentukan oleh bagaimana akhlak santri kepada gurunya.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa, Kiai Abdul Hamid sejak belajar di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan sangatlah ta’dhim kepada guru-gurunya. Begitu juga ketika belajar di Mekkah. Kiai Abdul Hamid setiap hari mengepel lantai majlis gurunya yang penuh dengan kotoran dengan menggunakan tangannyadan terkadang dengan pakaiannya (hal. 33).

Kiai Abdul Hamid merupakan tokoh yang mempunyai peran strategis dalam tatanan pendidikan dan dakwah. Hal itu dapat dilihat dari para santri didikannya yang sudah banyak berkiprah diberbagai daerah di bumi nusantara ini.

Suatu hal yang tidak boleh dilupakan para santri bahwa Kiai Abdul Hamid adalah seorang mujahid, seorang pejuang yang ahli mujahadah. Pejuang dan mujahadah merupakan dua hal yang niscaya. Tidak ada perjuangan tanpa mujahadah. Itulah yang dicontohkan Kiai Abdul Hamid dan para pejuang Islam lainnya.

Di samping mendidik dan mengajar para santri, kiai Abdul Hamid menyempatkan diri untuk menulis kitab. Beberapa karyanya sudah dicetak dan sebagian diajarkan di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Kitab-kitab tersebut yaitu al-Faraid al-Bahiyah fi al-Hudud al-Manthiqiyah, al-Wasaid fi Nayl al-Fawaid.

Karya Kiai Abdul Hamid yang berjudul al-Wasaid fi Nayl al-Fawaid berisi 176 catatan yang didapatkan dari beberapa gurunya saat menuntut ilmu di Makkah. Selain didapat dari berbagai sumber, kitab ini memuat berbagai disiplin ilmu seperti nahwu, ushul fiqh, Bahasa, balaghah, manthiq, hadist, tafsir dan fiqih (hal. 46).

Selanjutnya, Kiai Abdul Hamid merupakan sosok guru yang selalu dirindukan oleh para santrinya. Didikan serta ilmu yang diajarkan, begitu kentara dirasakan para santri ketika berada dalam kehidupan sosial masyarakat.

Seiring berjalannya waktu sosok yang menjadi panutan tidak lagi dapat mendidik secara langsung para santri. Kondisi fisik yang sudah dimakan usia membuat para santri sulit komunikasi langsung dengannya. Meski demikian, tak jarang para santri berkhayal dapat bimbingan langsung seperti sediakala.

 

Anis Billah

Salah satu redaksi majalah New Fatwa Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata

(Nis/bil)