Wajah Pendidikan Bangsa

ANIES Rabu, 21 Februari 2018 08:13 WIB
590x ditampilkan Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri Pp Muba

Oleh: Moh Makinun Amien*

Sangat disayangkan dunia pendidikan pada akhir-akhir ini menjadi sorotan dan perbincangan bahkan diskusi sangat panjang mulai tukang becak hingga meja akademisi. Karakter pendidikan bangsa yang sudah mulai pincang. Hal ini dibuktikan dengan kejadian terbunuhnya almarhum bapak Ahmad Budi Cahyanto, ditangan siswanya sendiri.

Berselang beberapa pekan setelahnya, publik pendidikan kembali dicengangkan kasus pencabulan oleh guru PNS SMP Negeri 6 Jombang. Diduga perbuatan tak terpuji itu dilakukan dengan dua puluh lima korban sekaligus. Yang paling terbaru hal serupa terjadi di Kediri. Siswa SMP disetubuhi Tiga ABG dalam keadaan mabuk dan mereka semua adalah siswa.

Kejadian bejat ini terjadi dalam kurun waktu yang sangat singkat, yakni dalam kurun waktu dua pekan pertama bulan Februari. Inilah wajah pendidikan di Negara tercinta saat ini. Padahal fungsi dan tujuan pendidikan seperti tertuang dalam UU Tahun 2003 pasal 3 yaitu, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa.

Selain itu, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tentunya untuk mengwujukan tujuan pendidikan yang disebut harus diperankan dan dipengaruhi oleh berbagi aspek, diantaranya.

Peran Orang Tua atau Penanggung Jawab

Orang tua berperan paling utama dalam suksesi pendidikan anak. Seyogyanya kewajiban untuk memberi didikan, pengajaran, serta bimbingan dilakukan orang tua lansung. Namun, dirasa saat ini orang tua hanya fokus dalam nafaqah atau finansial yang akrab disebut biaya kebutuhan hidup, sehingga mereka hanya menitipkan anaknya pada lembaga pendidikan atau pusat dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini terjadi karena ketidakpiawaian orang tua untuk mendidik sendiri.

Dewasa ini bukan hal yang wajar lagi menitipkan anak kepada lembaga formal maupun non formal disekitar. Gaya hidup yang demikian sudah tidak relevan. Selain itu tidak cukup melengkapi kebutuhan dengan materi, finansial semata. Ada hal lain yang sangat berpengaruh dan dibutuhkan oleh anak terlebih diusia pertumbuhan atau menginjak dewasa yakni kasih sayang, perhatian, langsung dari orang tua. Sehingga pola pikir atau psikologi anak tidak liar. Hal ini bukan bermaksud untuk membatasi psikomotorik anak, namun memaksimalkan efektifitas yang berdampak pada kognitifnya.

Tak jarang, dari banyaknya kasus yang terjadi ketika ditelusuri masalahnya adalah kurang komukasi dan perhatian dari orang tua selaku pendidik yang sebenarnya. Selain itu, tindakan, kegiatan, atau perbuatan orang tua itu berpengaruh besar dalam membentuk karakter anak. Sebab, anak belajar dengan indra baik penglihatan, pendengaran ataupun yang lainnya, selain juga didorong oleh faktor genetik (keturunan). Hal itu pengaruhnya tidak signifikan dibandingkan faktor yang sudah dipaparkan sebelumnya.

Peran Tenaga Pendidik

Guru atau tenaga pendidik merupakan panjang tangan dari orang tua. Dipandang penting bagi orang tua tahu betul dimana anaknya akan melahap pengetahuan serta kualitas kelayakan menu yang akan dilahap. Sebab, sebuah pengetahuan akan menjadi ilmu sebagai terapan. Dari sinilah awal semua karakter terbentuk.

Imam Ghazali menyampaikan dalam kitab minhaj al-‘abidin nya bahwa ilmu yang wajib diketahui ada tiga; ilmu tauhid, ilmu alsirr (ilmu yang berhubungan dengan hati), dan ilmu syariah.

Dewasa ini tak jarang pendidik dan peserta didik hanya menyelesaikan diruang pembelajaran saja. Sangat disayangkan dan hal ini bukan sebuah kelayakan menjadi tradisi pendidikan. Sama sekali tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang tertuang dalam UU tahun 2003 diatas. Lalu bagaimana karakter anak bangsa akan terbentuk? Maka kemudian, seorang pendidik selaku wakil atau orang tua kedua bagi peserta didik akan dijadikan teladan dari setiap hal dan pola kehidipannya.

‘Guru adalah cermin, jika cerminnya retak maka bayangan yang dihasilkan juga retak’. Istilah ini tak asing kita dengarkan. Namun jika mengaca pada sahabat, sepupu, sekaligus menantu Rasulullah, Sayyidina Ali ibn Abi Thalib RA yang beliau juluki sebagai madinah al-ilmu rela menjadi budak bagi yang mengajarinya walau hanya satu huruf, kenapa kita tidak?

Salah satu penyakit baru yang harus dihilangkan dari peserta didik ialah membedakan istilah guru, ustadz, dosen, dan yang lainnya. Tak jarang ditemui baik berupa ucapan ataupun tindakan dari hal ini sudah mulai tampak hilangnya karakter dan jati diri sebagi peseta didik. Bagaimanapun yang kita istilahkan sejatinya pendidik merupakan orang yang memberi ilmu dan peserta didik merupakan orang pencari ilmu.

Peran Lingkungan Belajar

Pengaruh terbesar selain orang tua dan guru adalah lingkungan. Nah, dari inilah terkadang kita kurang menyadari bagaimana pentingnya lingkungan belajar yang harus dibangun dalam pendidikan saat ini.

Perlu disadari, lingkungan belajar yang kita pahami saat ini bukan sekadar tempat belajar yang biasa digunakan, tapi semua lingkungan yang sekiranya mendukung atas tumbuhnya semangat belajar dan memberi pengetahuan tambahan bagi peserta didik. Jika lingkungan tidak mendukung, dirasa kurang lengkap konsep full day school yang diterapkan oleh lembaga pendidikan sekitar dengan tujuan sebagai solusi dan merevolusi karakter bangsa sesaui dengan visi misi Presiden RI.

Generasi milenial atau akhir-akhir ini akrab dengan generasi zaman now yang notabene bisa dikata dengan generasi dunia ICT (Information Communications Technology), sudah tak bisa terlepas dari sosial kehidipan. Risert mengatakan, otak seorang anak yang nonton SpongeBob SquarePants satu episode menurun 14% apalagi yang lebih tidak baik selain itu, bayangkan!

Kemudahan untuk mengakses banyak dimedia juga perlu diperhitungkan demi karakter anak didik kita. Kembali pada awal, orang tua turut andil dan berperan penting dalam pembangunan karakter dari setiap anak didik. Bagaimana kegiatan, tontonan, dan dengan siapa mereka berteman harus diperhatikan lebih serius lagi. Diawasi penuh kasih sayang dengan pengarahan sesuai kebutuhan.

Semua konsep di atas sudah lengkap di pondok pesantren. Lumbungnya pendidikan karakter yang sampai sekarang menjadi identitas pendidikan negeri tercuinta ini. Dalam kendali kiai, pondok pesantren dalam perkembangannya semakin pesat diseluruh bidang ilmu pengetahuan. Hampir semua bidang ilmua ada dipesantren.

Pada prinsipnya pesantren tetap mempertahankan tradisi klasik yang baik dan tidak pula mengabaikan tradisi kontenporer yang lebih baik,  sehingga pengetahuan yang ada di pesantren tetap relevan sesuai pada zamannya. Kekhawatiran di atas bukan sebuah masalah besar.

Dengan lingkungan religius dan aktifitas keagaman yang padat serta larangan-larang yang dinilai sebagai pelanggaran, kemungkinan melakukan suatu hal yang kurang baik itu sedikit. Ditambah porsi belajar yang lebih banyak serta pengawasan yang ketat dan aman dengan sistem pendidikan yang ada di pesantren. Sampai saat ini pesantren diakui sebagai salah satu identitas nusantra dan Indonesia yang dikenal dengan negara santrinya. Yang berkontribusi besar atas kemerdekaan dengan gerakan resolusi jihad 22 Oktober yang sekarang dijadikan sebagai hari santri nasional.

*Pustakawan Ponpes Muba dan Mahasiswa Semister VI Manajemen Pendidikan Islam di STAI Al-Khairat Pamekasan.