Merevisi Hakikat Santri Sejati

SAJJAD Selasa, 27 Maret 2018 20:00 WIB
334x ditampilkan Headline Opini Santri Karya Santri Ponpes Muba

Oleh : Moh. Sobrun Jamil*

Kata “Santri” dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan menjadi beberapa pengertian. Diantaranya yaitu orang yang mendalami agama Islam, dan kedua sebagai orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh atau bisa diartikan sebagai orang saleh. Namun secara istilah dapat diartikan sebagai orang yang belajar di pondok pesantren. K.H Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa Gus Mus mengatakan bahwa setiap orang yang berakhlak santri adalah santri. Terlepas dari beragam makna dan istilah tentang santri. Pada hakikatnya seseorang akan dikatakan sebagai santri apabila belajar di pondok pesantren dan memiliki keilmuan agama yang mendalam. Umumnya Indonesia sebagai negara dengan mayoritas masyarakatnya yang beragama Islam tentu sangat mengenal dan mengetahui siapa itu santri.

Santri memiliki peranan besar dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu buktinya adalah santri-santri K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlhatul Ulama). Dikala itu mereka rela mengorbankan harta dan nyawanya demi membebaskan Kiai Hasyim yang sedang disandra oleh penjajah Jepang. Berbeda dengan strategi yang dilakukan oleh pahlawan nasional lainnya, para santri Kiai Hasyim menggunakan cara yang sebenarnya tidak bisa dikatakan sebuah perlawanan. Yaitu dengan cara berdzikir didepan markas tempat Kiai Hasyim disandera. Strategi semacam ini memang tidak masuk akal jika dipikir dengan kasat mata, tetapi ternyata berdampak besar. Penjajah Jepang segera memindahkan Kiai Hasyim ke Mojokerto, tetapi santri Kiai Hasyim tidak kehabisan strategi demi membebaskan guru tercinta. Mereka ikut menjemput Kiai Hasyim ke Mojokerto, tanpa membawa senjata apapun dan bekal seadanya. Karena tindakan dengan halus telah mereka lakukan dan tidak membuahkan hasil, maka mengorbankan nyawa hingga titik darah penghabisan pun mereka lakukan. Hingga pada akhirnya Kiai Hasyim berhasil dibebaskan dari sandraan penjajah Jepang.

Tak luput pula dari kejaran antek-antek PKI, lagi-lagi santri diganyang dan diserang tanpa belas kasihan. Fitnah-fitnah mentah terus menerus dilontarkan kepada kiai dan santri. Mereka di hujat dan di ikat bersama semua masyarakat yang tak patuh dan hormat, hanya ucapan dzikir dan salawat yang menjadi sahabat. Keinginan untuk melawan hanya menjadi angan, menyerah dan pasrah bermandikan darah. Kegiatan solat dan mengaji bersama kiai tak ada lagi. Hingga pada akhirnya hanya beberapa diantara mereka yang dapat bertemu lagi dengan keluarga, kembali ke pesantren dan mengaji kitab pada kiai.

Dua peristiwa tersebut membuktikan, walaupun ditempa ilmu agama setiap hari, akan tetapi santri tetap memiliki semangat nasionalisme dan humanisme yang menggebu-gebu. Menariknya santri dan pesantren memang benar-benar berperan penting bagi berdirinya negeri kita Indonesia. Maka dari itu Presiden kita Jokowi-JK menetapkan tanggal 22 April sebagai hari santri nasional. Karena tepat pada tanggal tersebut K.H. Hasyim Asy’ari mengekuarkan fatwa resolusi jihad bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seiring lapuknya zaman dan berkembangnya teknologi, keberadaan santri dan pesantren seakan semakin terbelakang. Padahal dari pesantren-lah muncul generasi-generasi muda Islam sebagai calon-calon ulama dan penyebar syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat. Menurut penulis, ada pergeseran pandangan masyarakat sekarang ini, mereka berpandangan bahwa mencari ilmu bisa didapat dari kitab-kitab terjemahan ataupun lewat media internet. Pandangan mereka diperparah dengan ambisi dunia atau penguatan ekonomi dibanding mencari ilmu di pesantren.  Hal ini seakan sangat bertolak belakang jika kita kembali pada masa Kiai Hasyim. Ketika pesantren dan santri menjadi tonggak semangat persatuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pendidikan pesantren juga semakin dianggap ketinggalan zaman, Hal inilah yang menjadikan generasi Islam masa depan menjadi semakin suram. Dan akibat dari pergeseran pandangan masyarakat tentang pesantren itulah yang menjadikan timbulnya bermacam-macam kasus di kalangan remaja dan pemuda. Maka, pandangan masyarakat yang mengatakan “Kalau anak saya mondok, nanti mau kerja apa?” adalah salah besar dan perlu diluruskan. Karena, pesantren bukan tempat mendidik mencari kerja atau memudahkan mendapat pekerjaan. Pesantren adalah ladang atau tempat mendidik kemandirian dalam hidup dan tempat mencetak generasi Islam yang berilmu dan berakhlak mulia. Rosulullah Saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan dunia hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat hendaklah dengan ilmu dan barangsiapa menginginkan dunia dan akhirat hendaklah dengan ilmu”. Jadi, sudah jelas bahwa pesantren merupakan sarana dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Keluar dari konteks pandangan masyarakat terhadap santri dan pesantren, santri dulu dengan santri sekarang juga memiliki perbedaan yang cukup jauh. Santri salaf (red. Santri dulu) identik dengan keilmuannya yang mendalam, akhlak dan perilaku sopan, pakaian sederhana, dan tutur kata yang lemah lembut. Berbeda dengan santri-santri masa kini yang mengedepankan style daripada skill. Keilmuan dan kesopanan hanya sekedar menjadi motto pesantren yang terpampang rapi. Ada beberapa faktor yang menyebabkan santri masa kini tidak berperikesantrian, diantaranya adalah pengaruh dan pergaulan santri masa kini terlalu bebas ketika liburan, kesadaran bahwa mereka sedang memanggul caption “santri” tidak mereka hiraukan ketika di rumah. Gaya berpakaian yang trendy dan anti pakaian Islami. Perilaku nyeleneh keluar dari dalam diri mereka. Segala perubahan yang mereka tampilkan behasil membuat masyarakat terhipnotis bahwa santri bukan lagi, manusia berbasis agamis.

Berbagai persoalan tentang akhlak dan perilaku santri yang kian mengalami penyusutan juga terbukti di internal pesantren. Metode belajar, kebiasaan, dan tingkah laku. Turunnya minat baca santri turut membuktikan bahwa minat belajar mereka semakin hari semakin menurun. Mulai dari merokok, tidur dikelas, berhubungan dengan lawan jenis, tidak mengikuti kegiatan pesantren, hingga pelanggaran berat seperti mabuk-mabukan, dan memakai narkotika. Apabila akar masalah semacam ini tidak segera di basmi, maka akan semakin mengakar dan tertancap kuat di pesantren khususnya dan santri yang akan menjadi korbannya.

Berbagai usaha dan upaya sedang digalakkan oleh sebagian pesantren di nusantara. Visi kita sebagai santri sejati-pun tidak boleh dilupakan. Anggapan buruk masyarakat terhadap santri dan pesantren harus kita patahkan. Buktikan bahwa santri masa kini masih sama seperti santri salafi di masa lalu. Bahkan lebih baik. Santri masa kini juga bisa menjadi tonggak bagi nusa, bangsa, dan agama. Jangan malu untuk menonjolkan identitas kesantrian kepada khalayak umum. Karena kita adalah santri sejati, akhlak dan tingkah laku adalah harga mati yang tak bisa di tawar lagi, ilmu dan amal adalah makan kita sehari-hari, hijab, sarung, dan peci adalah identitas kita. Karena santri sejati takkan pernah berhenti mencari ridho ilahi.

*Penulis Adalah santri aktif Ponpes Muba yang sekarang duduk di kelas XI IPA  MA Muba