Santri Muba Belajar Mencintai Sastra Madura

SAJJAD Sabtu, 20 Oktober 2018 21:27 WIB
306x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren Ponpes Muba

Bata-Bata – Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (PP.Muba), mengadakan pelatihan kepenulisan sastra Madura sekaligus bedah buku ‘Tora’, Sabtu, (20/10/2018) yang berlokasi di aula PP.Muba. Pemateri pada acara itu, adalah Lukman Hakim AG selaku redaktur sastra dari Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Acara tersebut berlangsung dengan lancar dan kondusif. Sebab, Lukman – sapaan akrab Lukman Hakim AG, menyampaikan materinya dengan cara yang santai dan lugas. Menurut Lukman para generasi-generasi anak muda madura sekarang sudah mulai tidak mencintai budaya-budaya yang ada di Madura, salah satu bukti dari hal itu adalah minimnya karya-karya kepenulisan terutama sastra yang menggunakan bahasa madura.

Menanggapi masalah tersebut beliau mengatakan, “Budaya Madura sekarang sudah mulai hampir punah, dan itu kebanyakan disebabkan oleh persepsi salah kaprah orang-orang Madura terhadap budaya mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa, budaya mereka  sudah ketinggalan zaman, sehingga timbullah perasaan gengsi di hati mereka untuk melestarikan budaya mereka tersebut,” Ucap Pak Lukman.

Beliau juga mengungkapkan kekecewaannya karena kepenulisan-kepenulisan yang menggunakan Bahasa Madura mulai berkurang. “Saya sangat miris sekali terhadap keadaan karya kepenulisan sastra madura, yang sudah mulai punah, padahal karya sastra madura jika diteliti lebih mendalam lagi itu meiliki nilai sastra yang lebih, tidak kalah dengan karya sastra lainnya,” Tambah beliau menegaskan perkataannya.

Namun, di samping beliau merasakan akan semakin berkurangnya minat masyarakat untuk melestarikan budaya lokal, beliau juga optimis, sebab budaya Madura menurut beliau sebenarnya bukan mati, namun hanya belum banyak diketahui akan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Dengan adanya acara pelatihan menulis dan bedah buku ini, diharapkan para santri akan menjadi generasi yang akan melestarikan budaya Madura di masa yang akan datang. “Kalian (santri, red) pewaris budaya Madura,” katanya. (Ris/Jad)