Ngaji Tafsir: Generasi Saat ini Harus Paham Tafsir!

SAJJAD Jumat, 11 Januari 2019 20:58 WIB
78x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren PonpesMubaPekanNgaji4

Bata-Bata- Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata kembali kedatangan tamu besar, KH Bahau’ddin Nursalim dan Dr KH Abdul Ghofur Maimoen, LC,MA , yang merupakan salah satu pengasuh PP.Sarang, Rembang, Jawa Tengah dan putra dari kyai sepuh pengasuh PP Sarang, Maimoen Zubair.

Kedatangan kedua tokoh tersebut bertujuan untuk mengis Ngaji Tafsir pada Pekan Ngaji 4 kali ini. Ngaji Tafsir sendiri diletakkan di mushallah putra, Jumat Pagi, (11/01/2019).

Acara tersebut diikuti kurang lebih 4000 peserta dengan rincian Santri, Asatidz, Alumni, dan Masyarakat umum. Ngaji Tafsir tersebut mengangkat tema “Khazanah Tafsir Indonesia, dari Hermeneutika hingga Ideologi”. Pemateri pertama merupakan Gus Baha’ sapaan akrab KH Baha’udin yang menjelaskan sejarah tafsir serta perjalannya, waktu munculnya tafsir dan mengupas makna di balik hermeneumatika tafsir itu sendiri.

Sedangkan pemateri kedua, merupakan Gus Ghofur yamg menjelaskan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Dia mengatakan bahwa Islam masuk di Indonesia pada abat 12 dan di lanjutkan munculnya tafsir pertama di Indonesia. Gus Ghofur mengatakan bahwa tafsir pertama yang ada di Indonesia adalah tafsir yang di temukan di ambon “Peninggalan tafsir tertua di Indonesia itu di Ambon tahun 1585 yang menggunakan Bahasa Arab,” jelasnya.

Selain itu Gus Ghofur juga menjelaskan tokoh-tokah Islam Indonesia yang telah menulis tafsir, di antaranya Hamzah Al-Fansuri, KH.Soleh Darat yang menerjemahkah tafsir al-Quran ke bahasa Melayu dan Jawa.

Tidak hanya itu, Gus Ghofur juga menjelaskan perkembangan tafsir di Indonesia pada abad 19. Ketika Belanda mulai menguasai sebagian Indonesia, tempanya di Pelembang,  dan yang telah menghancurkan 3 kerajaan Islam di Palembang, yang katanya orang Islam mulai terancam dan kalah sehingga Allah memberikan rahmat, dan mulculah pesantren-pesantren di waktu itu.

Dipertengahan penjelasanya beliau mengharap pada orang-orang pesantren yang sudah mondok untuk melanjutkan khazanah kepenulisan tafsir di Indoenesia. “Orang pesantren itu tidak boleh berhenti dalam kepenulisan agar tidak dikuasai kalangan Orientalis,” harapnya.

Di akhir mauidohnya, beliau  menyampaikan bahwa pada abad 20 kepenulisan tafsir dikuasai oleh golongan akademik yang katanya akan menyematkat gagal paham ideologi untuk keperlua pribadi dan golongan. Jadi, untuk para santri harus bisa membenung penyesatan tafsir tersebut. “Saya akan lahir mufassir-mufassir handal dari pesantren Bata-Bata ini,” pungkasnya. (Yan/jad)