676 Peserta Tamara, Pukau Ribuan Audiens

SAJJAD Ahad, 20 Januari 2019 11:45 WIB
210x ditampilkan Galeri Headline Berita Kabar Pesantren PonpesMubaPekanNgaji4

Bata-Bata – Sebanyak 676 peserta Ta’yidul Maharah (TAMARA) dari 30 badan akselerasi percepatan keilmuan pukau ribuan tamu undangan. Dimana, dari ketiga puluh instansi tersebut dibagi menjadi 4 disiplin ilmu. Yaitu; Kutubiah, Bahasa, Al-Quran, dan seni.

Yang mana, untuk acara demonstrasi tersebut dibagi menjadi 3 term waktu. Setiap satu term diberikan waktu satu jam saja, dan untuk setiap penanya diberikan waktu 10 menit untuk mencoba para santri yang siap untuk didemonstrasi. “Satu Term satu jam, dan satu penanya 10 menit,” papar Ust. Mahfudz selaku pemimpin demonstrasi, Ahad, (20/01/2019).

Pada term yang pertama diisi oleh kelompok kutubiyah, diantaranya; HUBBA (Himpunan Bahasa Arab Bata-Bata) dari disiplin ilmu balaghah, Prakomisi disiplin ilmu Nahwu, Logika dan Ushul Fiqs (LOGIS) disiplin ilmu mantiq dan ushul fiqh, bahkan sampai dengan ABED (Alumnus Of Bata-Bata English Centre Development) yang bisa membaca dan menjelaskan kita Safinah kedalam bahasa Inggris.

KH. Bustomi selaku Dewan A’wan Ponpes Al-Amien, Parenduan, Sumenep menjadi penanya perdana dalam term pertama tersebut. Dimana, beliau bertanya mengenai ilmu balaghah, fihq, sampai dengan kitab safinah dalam bahasa Inggris.

Pada term yang ke dua, demonstrasi tersebut diisi dengan demonstrasi dalam bidang bahasa. Yang mana, sekarang, Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata sudah mengembangkan 9 bahasa asing. Diantaranya; Bahasa Jerman, Prancis, Spanyol, Korea, sampai dengan bahasa Sansakerta.

Sedangkan dalam term yang terakhir akan diisi dengan Al-Quran dan seni. Kedua disiplin ilmu tersebut diantaranya; Ha’iyah Raudhotul Adfal (HRA), Raudhotul Adfal (RA), sampai dengan Jami’atul Khottod (JQ).

Dengan banyaknya disiplin ilmu tersebut, membuat banyak decak kagum di hati para audiens. Jauhari, wali santri asal Waru mengungkapkan kekagumannya. Dimana, dia menyampaikan, beluam ada pesantren di Indonesia yang sama dengan di Bata-Bata. “Pesantren langka,” katanya. (IBM/Jad)