Pemuda Indonesia Dalam Menghadapi Generasi Emas Tahun 2045

HAFIDZ Senin, 27 Mei 2019 08:36 WIB
582x ditampilkan Headline Opini Santri KARYA SANTRI PUTRI

Oleh: Mamluatur Rohmah*

Istilah generasi EMAS menjadi viral di kalangan para tokoh, pengamat, dan masyarakat umum setelah Mendikbud ---M Nuh--- memberikan sambutan dengan tema “Bangkitnya generasi emas Indonesia” dalam acara peringatan Hardiknas 2012 . Dari situlah  berbagai macam paradigma mengenai generasi emas diungkapakan. Seperti dari Kopeow (2015), menyatakan bahwa ada dua pengertian mengenai generasi emas, yang pertama generasi emas merupakan generasi setelah Indonesia mencapai 100 tahun merdeka. Sedangkan pendapat kedua, generasi emas dalam penjabaran kata “EMAS” sebagai bangsa besar dengan modalitas yang luar biasa: baik dari sember daya manusia, sumber daya alam, kultural dan sumber daya lainnya, yang sudah saatnya dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan dan kemajuan Indonesia.

Sejalan dengan hal tersebut, pengertian generasi emas yang melalui penjabaran kata EMAS, yaitu Energik, Multitalenta, Aktif  dan Spiritual. Kata Energik bermakna bersinergi, semangat. Multitalenta maksudnya cerdas: cerdas dalam logika, bahasa, visual, interpersonal dan intrapersonal. Aktif berarti giat dalam bekerja dan berinovasi. Sedangkan Spritual maksudanya memilki kualitas keagamaan yang baik yakni taat beribadah, berpegang teguh dengan norma agama, dan mejaga jiwa agar tetap konsisten dalam menjalankan agama. Jika kriteria generasi emas mampu kita ciptakan maka kemungkinan besar Indonesia akan menjadi negara maju.

 Jika dihitung dari sekarang (2019) tinggal 26 tahun lagi untuk bisa mewujudkan generasi emas Indonesia tahu 2045. Jarak 26 tahun mungkin bisa dibilang waktu yang cukup panjang untuk ukuran sebuah jarak. Tetapi untuk sebuah perubahan besar terhadap suatu bangsa yang memiliki komplikasi di berbagai aspek kehidupan seperti Indonesia, 26 tahun merupakan waktu yang sangat singkat. Oleh karenannya perlu penanggulangan dan persiapan yang cukup intens. Pembentukan generasi muda yang berkualitas pun haruslah dimulai dari sekarang.

Istilah negara maju dan negara berkembang sudah tidak asing lagi bagi kita. Negara maju dicenderungi oleh negara-negara belahan benua Eropa dan Amerika, sedangkan negara berkembang didominasi oleh negara bagian Asia. Negara di Asia yang sudah terbilang maju antara lain Jepang, Singapura, Hongkong, Korea dan Taiwan. Indonesia memang tidak masuk daftar menu negara maju bagian asia sekarang. Namun dalam beberapa prediksi menunjukkan Indonesia akan mengalami perubahan besar di tahun 2050. Bahkan bisa saja berganti status menjadi negara maju, dan prediksi tersebut akan tidak menjadi bayangan semu belaka jika bangsa Indonesia memiliki keinginan dan kesadaran untuk berubah.

Faktanya kondisi masyarakat Indonesia saat ini betul-betul mengkhawatirkan, baik dalam aspek ekonomi, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, sosial, dan dalam aspek lainnya. Husaini (2008) mengemukakan dalam sebuah penelitian Internasional bahwasanya motivasi sistem kerja bangsa Indonesia sangat rendah, sekaligus sebagai bangsa termalas nomer 3 dari 42 negara di dunia. Rendahnya motivasi kerja tersebut menunjukkan kemalasan dan kebodohan bangsa Indonesia. Sedangkan dari sisi politik menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkorup di dunia. Para pejabat negara terkenal dengan keserakahannya memakai uang rakyat dan hidup mewah dengan memperkaya dirinya sendiri. Di samping itu, bukan hanya pejabat negara yang dilanda kerusakan karakter, anak mudapun mengalami pergeseran moral. Pangaribuan (2012) melaporkan bahwasanya ada 50% dari sampel penelitiannya, yaitu anak-anak SLTA telah melakukan persetubuhan sebelum menikah. Selanjutnya Saniaga (2011) telah melaporkan kembali laporan dari depertemen kesehatan, tahun 2003 pengidap penyakit HIV/AIDS masyarakat Indonesia sebangak 3.647 orang, dengan perincian pengidap HIV sebanyak 2.556 orang dan AIDS 1.088 orang.

Berdasarkan laporan di atas, kerusakan yang dialami bangsa Indonesia terbilang cukup parah dan mengkhawatirkan. Jika hal tersebut dibiarkan, maka bukan hal yang tidak mungkin jika kesejahteraan negara dan kemurnian agama menjadi taruhannya. Oleh karenanya pembentukan karakter generasi muda haruslah mendapatkan perhatian serius, baik dari segi formal yakni persekolahan maupun informal seperti halnya rumah tangga dan masyarakat.       

Pembentukan generasi muda merupakan tugas bersama dari segala aspek dan segala lapisan. Meskipun tempat utamanya pastilah dari orang tua. Untuk pembentukan tersebut bisa dimulai pada awal terbentuknya calon generasi bangsa (sejak dalam janin), meskipun ada pernyataan lain yang menyatakan bahwa pembentukan seorang anak tersebut harus dimulai dari sebelum nikah. Yakni dalam pemilihan pasangan, hal ini merupakan tugas orang tua, dengan adanya usaha untuk mendapatkan pasangan yang baik, sehingga juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pembentukan keturunan yang baik pula. Seperti sebuah pepatah yang sering kita dengar “Buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya”.

Kembali ke konteks awal, sejarah revolusi industri sudah dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0. dan sekarang kita sudah berada di era industri 4.0. Istilah industri 4.0 ini dimulai dengan adanya proyek yang diprakarsai oleh negara Jerman untuk mempromosikan komputer manufaktur. Lee (2013) menyatakan bahwasanya Industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh 4 fakktor, 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektifitas. 2) munculnya analisis, kemampuan dan kecerdasan bisnis. 3) terjadinya interaksi baru antara manusia dengan mesin. 4) perbaikan intruksi transfer digital ke dunia fisik seperti robotika dan 3D printing.

Era industri 4.0 memiliki peluang besar bagi generasi muda untuk mewujudkan proyeksi Indonesia di tahun 2045, selain adannya bonus demografi bagi Indonesia. Pricewaterhouse Copers (PwC) memproyeksikan Indonesia di tahun 2050 akan menjadi negara dengan proyek perekonomian terbesar ke empat di dunia, yakni setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Banyaknya peluang untuk meraih kesuksesan bagi bangsa Indonesia era industri 4.0 haruslah diimbangi dengan kesungguhan masyarakat Indnesia untuk menjadi lebih baik. Hal inilah yang disebut dengan peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia. Masyarakat Indonesia harus bisa melakukan konsep yang benar dan matang dari sekarang untuk bisa mencapai kesuksesan bersama, sebab seberapa banyakpun jumlah generasi emas dan seberapa baik prediksi mengenai Indonesia selanjutnya tidak akan memberikan pengaruh apapun jika tidak dibarengi dengan sinergi dan kemantapan diri.

            Tahun 2045 jumlah penduduk Indonesia diprediksi mencapai 340 juta jiwa dengan 180 di antaranya dalam usia produktif 15-24 tahun. Kondisi itulah yang biasa disebut dengan bonus demografi. Sebuah keadaan yang memiliki peluang emas untuk menjadikan bangsa Indonesia berkompeten dalam pengembangan ekonomi, industri infrastruktur, teknologi manufaktur, dan kemudian menjadikan Indonesia negara yang maju, sejahtera, adil dan makmur. Namun peluang emas tersebut bisa beralih fungsi dari bonus demografi menjadi kutukan demografi dan menimbulkan petaka yang cukup serius jika bangsa Indonesia tidak bisa melakukan pengembangan terhadap para generasi muda. Malah yang akan terjadi adalah kesenjangan sosial semakin tinggi, terjadinya pengangguran massal yang kemudian menambah beban negara, dan tindakan kriminalpun makin meningkat sebab para pelaku didominasi oleh penduduk usia produktif.

            Salah satu faktor yang menjadi jalan menuju sebuah perubahan bangsa yakni peningkatan kualitas pendidikan. Sebab diyakini atau tidak, pendidikanlah yang mewadahi maju mundurnya suatu bangsa. Pendidikan pulalah yang kemudian mampu mencetak generasi berkualitas, ulet, multi talenta, aktif, mampu mengejar ketertinggalan bangsa lain, kreatif, disiplin, inovatif, berintelek, memiliki nilai moral, demokratis, dan memilki nilai spiritual tinggi. Oleh karenanya, untuk mencapai generasi emas Indonesia 2045, kunci strategisnya lewat pendidikan. Semakin berkualitas pendidikan suatu bangsa maka potensi untuk sebuah kemajuan akan semakin tinggi.  

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Putri sekaligus siswi MA kelas11 IPS 1