Intensitas Pendidik Dalam Memberikan Edukasi

HAFIDZ Jumat, 9 Agustus 2019 20:46 WIB
257x ditampilkan Opini Santri

Oleh: Badrut Tamam*

Sebagian besar masyarakat mempunyai paradigma yang kurang utuh tentang siapa dan bagaimana yang dimaksud pendidik, tak terkecuali masyarakat dunia penedukasi itu sendiri. Mereka beranggapan, bahwa mendidik hanya cukup di ruang kelas dalam waktu yang terbatas. Setelah itu, pendidik dirasa sudah bebas tanggungan. Sehingga, penedukasi hanya sebatas memberikan materi dan teori saja, tanpa ada upaya bagaimana peserta didik dapat melaksanakannya.

 UU No. 20 tahun 2003, tentang fungsi dan tujuan penedukasi nasional berbunyi: “Penedukasi nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Berdasarkan fungsi dan tujuan tersebut, berarti bahwa, pendidik tidak saja memberikan materi pelajaran di dalam ruang-ruang kelas dan membatasinya dalam waktu tertentu, lalu melepasnya tanpa pantauan dan pengawalan di luar tempat dan waktu terbatas itu. Hal itu baik, bahkan sangat baik, sebagai salah satu bentuk manajemen penedukasi yang notabene manifestasi dari amar ma’ruf nahi munkar. Namun, selayaknya seorang pendidik senantiasa intens memberikan edukasi dan memiliki, setidaknya, tiga dimensi dalam memberikan edukasi. Pertama, sebagaimana dimaklum, pendidik memberikan materi pelajaran di tempat dan waktu tertentu. Pada saat itu pun, pendidik mendorong peserta didiknya untuk mengamalkan ilmu yang baru saja diperolehnya yang bersifat praktik.

Dorongan yang dimaksud adalah, pendidik harus mengaktualisasikan materi yang disalurkan dengan memberikan contoh faktual. Sebagai satu contoh materi akhlak dalam konteks berguru: “apabila seorang guru sedang duduk di satu tempat, kalian tidak boleh lewat di hadapan beliau. Jika pun terpaksa lewat di hadapannya, maka menunduk dan berpelanlah.” Contoh lain, dalam materi Fiqih, misalkan: “apabila kalian hendak bersuci dari najis yang terdapat di kaki, misalkan, jangan sampai, setelah membasuhnya, ada air yang menetes dari gayungnya ke lantai toilet yang najis lalu terpercik ke kaki kalian yang sudah suci itu, sehingga menjadi najis kembali.”

Demikian pula materi selainnya!

Kedua, pendidik juga harus tidak merasa riskan untuk memberikan edukasi dan teguran kepada peserta didiknya ketika didapatinya melakukan sebuah kesalahan, meskipun di luar kelas dan bukan di jam sekolah (pelajaran). Supaya, apa yang disampaikan dan didorong untuk dilaksanakannya, betul-betul terlaksana di lapangan. Sebab, dengan demikian, mereka akan mengingat pada wejangan yang, mungkin, sempat dilupakan. Tentu  saja teguran dengan cara yang persuasif, sehingga mereka menjadi luluh tanpa merasa tersinggung. Semisal, salah seorang peserta didik membawa kitab dengan dijinjing, hendaknya pendidik harus melarangnya dan menunjukkan cara membawanya yang benar.

Ketiga, pendidik harus memberikan teladan yang baik guna memudahkan peserta didik dalam mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya—ini yang paling urgen. Sebab, dakwah (mengajak) yang paling ampuh serta membuahkan hasil optimal, sebagaimana toeri dakwah Rasul saw, adalah dengan keteladanan. Dalam berdakwah; menyuruh pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, selayaknya dimulai dari diri sendiri untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran, yang kemudian menjadi teladan bagi objek dakwah yang kita jalani. Apalagi dari seorang guru terhadap murid; harus mempersembahkan teladan yang sangat baik bagi mereka.

Akan lebih efektif dan prospek, apabila cara-cara mendidik di atas terimplementasi di Pondok Pesantren. Sebab, pendidik (asatidz) dan peserta didik (santri)nya berada dalam satu wilayah asrama. Hendaknya, para asatidz sering berkongsi bersama para santri, supaya dapat betul mengetahui kondisi amaliyah yaumiyah mereka; sudahkah terasimilasi dengan baik antara perilaku mereka dengan nilai-nilai Islam dan pesantren? Jika tidak, seyogyanya asatidz langsung memberikan teguran, utamanya yang ada kaitannya dengan moral. Atau, barang kali ada problema dalam pelajaran tertentu yang ingin santri konsultasikan, sehingga ustadz bisa langsung memberikan pemahaman.

Dengan demikian, maka, akan tampak pertumbuhan besar pada tercapainya fungsi dan tujuan penedukasi, sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang di atas—insyaAllah. Kendatipun sama sekali bukan hal mudah untuk mewujudkan tujuan hebat dan mulia itu, setidaknya, dengan cara di atas, dapat menghasilkan capaian yang lebih signifikan daripada hanya sebatas pemberian materi.