Santri Sebagai Pewaris Generasi Literatif

SAJJAD Sabtu, 7 September 2019 18:18 WIB
285x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Literasi Santri

Oleh : Rusydi Kholil*

Kerasulan Nabi Muhammad saw bersifat universal yang ditujukan untuk seluruh semesta alam[1]. Jangkauannya bukan hanya pada dunia nyata melainkan juga pada dunia gaib; bukan hanya pada yang berakal melainkan juga pada yang tidak berakal. Nabi Muhammad diutus pada manusia dan jin dengan irsāl-u taklīf (pengutusan yang mengandung perintah dan tuntunan); diutus kepada malaikat dengan irsāl-u tasyrīf (memulyakan); dan diutus kepada makhluk yang lain dengan irsāl-u rahma (menebar kasih sayang)[2]. Dalam arti luas, seluruh alam semesta adalah umat Nabi Muhammad saw.

Sebagai umat yang mendapat irsāl taklīf[3], hanya manusia dan jin yang dibebani tanggung jawab mempelajari ajaran-ajaran Nabi dan mengajarkannya. Dalam al-Qur’an[4] dikisahkan bahwa Allah mengarahkan selompok jin mendatangi Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan al-Qur’an. Setelah mendengarkannya dengan  penuh perhatian, mereka pulang kepada kaumnya untuk memberikan peringatan (indzār).  Ini menujukkan bahwa Jin juga belajar agama kepada Nabi Muhammad saw. Setelah itu mereka mendakwahkan dan menyebarkannya. Sedangkan  umat Nabi dari kalangan manusia, al-Qur’an[5] mengajarkan agar tidak seluruhnya pergi berperang. Sebagiannya harus bersama Nabi Muhammad saw. di Madinah untuk belajar agama (tafaqqu Fiddīn) dan setelah itu memberi peringatan (indzār) kepada kaumnya setelah kembali dari medan perang. Karena itu, manusia dan jin sama-sama umat Nabi yang diharuskan mempelajari agama dan menyebarkannya kepada orang lain.

 Di banyak kesempatan, Nabi menunjukkan betapa perhatiannya kepada ilmu. Di antaranya, Nabi bersabda bahwa beliau tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi hanya mewariskan ilmu.[6] Nabi memberi perhatian tinggi kepada al-Qur’an sebagai sumber utama ilmu Islam. Di masanya, al-Qur’an telah sempurna dikumpulkan dalam hafalan sahabat dan dicatat di beberapa alat tulis. Selain al-Qur’an, Nabi juga memberi perhatian penuh kepada as-Sunnah sebagai sumber ilmu Islam yang kedua. Nabi memerintahkan agar orang yang hadir di majelisnya menyampaikan ajaran-ajaran Nabi kepada yang tidak hadir.[7] Nabi juga berdoa agar Allah swt. melimpahkan rahmat-Nya kepada seseorang yang mendengarkan ucapannya lalu menyampaikannya  kepada orang lain.[8] Nabi tidak hanya memerintahkan umatnya belajar agama tetapi juga harus mengajarkannya. Dampaknya, selain melahirkan mujahid ulung di medan perang,  pendidikan Nabi melahirkan banyak generasi pendidik yang hebat,  baik sebagai periwayat (rāwiy) maupun mufti. Di antara sahabat yang paling banyak meriwayatkan pendidikan Nabi adalah Abu Hurairah,  Abdullah Ibn umar, Anas ibn Malik, Abdullah Ibn Abbas, Abu Sa’id Alkhudri, Jabir dan Aisyah r.a. Selain itu, banyak sahabat Rasulullah yang bertindak sebagai mufti  di berbagai kota besar Islam. Di Madinah, ada Abu bakar, Umar, Ustman, Ali, Zaid Ibn Tsabit, Ubai ibn Ka’b, Abdullah Ibn Umar dan Aisyah. Di Mekah ada Abdullah ibn Abbas. Di kota Kufah ada Ali ibn Thalib dan Abdullah ibn Mas’ud. Di Syam, ada Mu’adz Ibn Jabal dan Umadah Ibn Shamit. Di Mesir ada Abdullah Ibn ‘Amr ibn ‘Ash, dan banyak lagi yang lain serta jumlahnya berkisar seratus tiga puluh orang.[9]

Lalu para mufti dari kalangan sahabat ini mendidik generasinya dari kalangan tabi’īn.  Di Madinah, sahabat Umar ibn Khatthab, Ali Ibn Abi Thalib, Abdullah ibn Umar dan Zaid Ibn Tsabit mendidik beberapa tābi’īn antara lain Sa’id Ibn Musayyab dan ‘Urwah ibn Zubair. Lalu para tabi’īn ini mendidik generasi berikutnya dari kalangan tāb’it tābi’īn, antara lain Muhammad Ibn Syhihab Azzuhri dan  Yahya Ibn  sa’id.  Mereka juga mendidik generasi berikutnya, hingga di Madinah lahir generasi terbaik yaitu Malik Ibn Anas pendiri mazhab Maliki. Di Mekkah, sahabat Abdullah ibn ‘Abbas mendidik tābi’īn, yang termasyhur adalah ‘Ikrimah, Mujahid dan ‘Atha’.  Mereka juga mendidik generasi berikutnya. Murid mereka yang terkenal adalah Sufyan Ibn ‘Uyaynah dan Muslim Ibn Khalid. Pendidikan Mekah ini kelak melahirkan mujtahid besar, yaitu imam Syaf’i pendiri mazhab Syāfi’iy. Di Kufah, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud mendidik generasi tābi’in. Muridnya yang terkenal bernama ‘Alqamah ibn Qays dan al-Qadhiy Syuraih. Mereka berdua mempunyai murid bernama Ibrahim Annakha’i. Ibrahim Annakha’i mempunyai murid  bernama Hammad ibn Sulaiman, dan Hammad ibn Sulaiman mempunyai murid yang menjadi mujtahid besar bernama Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafiyyah.  Di Mesir, sahabat ‘Amr ibn ‘Āsh, mendidik Yazid Ibn Hubaih. Yazid ibn Hubaib mempunyai murid bernama Laits Ibn Sa’d. Pendidikan Mesir melahirkan mujtahid besar’ yaitu Imam Syafi’i.[10]

Spirit tafaqqu fiddīn tidak hanya melahirkan pemikiran Islam dalam aspek hukum Islam saja, tetapi merambah ke berbagai aspek. Dalam theologi misalnya, ia melahirkan beberapa tokoh terkemuka semisal Abu Hasan al-Asy’ari, Abu Manshur Almaturidi, dan Washil Ibn ‘Atha’. Dalam aspek filsafat muncul beberapa filosof antara lain Ibn Sina, al-Farabi dan al-Kindi. Dalam aspek tasawwuf lahir Ibrahim Ibn Adham, Ibn ‘Arabi, Suhrawardi dan lainnya. Dalam aspek Hadits ada Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan yang lainnya. Dalam tafsir muncul antara lain Ibn Jarir Atthabari, Fakruddin Arrazi dan Zamakhsyari. Semua itu merupakan buah dari  kesungguhan mereka dalam memahami Islam meskipun dari pendekatan dan prespektif yang berbeda-beda, kendati satu sama lain kadang memberikan respon negatif pada yang lainnya. Mereka merupakan mozaik dari khazanah pemikiran Islam.

Dari mereka, pemikiran Islam terus dipelajari, dikembangkan dan diajarkan dari masa ke masa hingga sampai pada generasi millineal ini. Mereka telah mampu mempertahankan dan mengembangkan Islam meski di bawah tekanan-tekanan politik, ideologis, keterbatasan ekonomi dan lain sebagainya. Tak sedikit dari mereka yang menjadi tahanan politik di masanya. Seluruh imam mazhab  pernah dipenjara. Hal itu tidak akan terjadi bila mereka tidak memiliki kompetensi literasi yang luar biasa. Telah beribu-ribu judul kitab yang diwariskan mereka sebagai bukti bahwa mereka adalah  generasi  literatif. Mereka literatus sejati. Mereka tentu juga berharap mempunyai generasi yang melanjutkan peran mereka sebagai pembelajar (tafaqqu fid dīn) dan pemberi peringatan (mundir-ul qawm). Generasi itu adalah SANTRI.

***

Tak dipungkiri bahwa santri merupakan cikal bakal ulama. Sebagai calon ulama, terdapat dua peran dan tugas utama santri sebagaimana yang telah disebutkan di atas, tafaqqu fiddīn dan indzār.

Pada peran pertama, santri dituntut untuk memahami Islam secara komprehensif, yang meliputi seluruh dimensi ajaran Islam. Secara epistemologis, Islam memangku tiga alat pengetahuan (adawāt-ul ‘ilm-i), yaitu indera, akal dan wahyu.[11]  Semua pengetahuan yang dihasilkan oleh tiga alat tersebut adalah ilmu Islam. Wahyu menghasilkan ilmu-ilmu keagamaan, meliputi akidah, syari’ah dan akhlaq. Sedangkan indera-akal menghasilkan sains, ilmu pengetahuan alam dan sosial. Majid Irsan Alkilani (w. 1963) seorang pakar pendidikan Islam asal Yordania menyatakan “bahwa al-Qur’an tidak menunjuk kata ulama hanya kepada orang memahami ilmu-ilmu agama saja, tetapi meliputi tiga jenis ulama, yaitu ‘ālim dīniy (ahli agama),  ‘ālim thabī’i  (saintis kealaman) dan ‘ālim ijtimā’iy (saintis sosial)...mereka semua disebut dengan ulul albāb...”.[12] Oleh sebab itu, untuk mewujudkan ulul albāb, santri juga dituntut menguasai ilmu keIslaman secara umum sekaligus alat-alatnya, meliputi bahasa dan metodologinya. Untuk mengaktifkan wahyu, diperlukan pengetahuan yang memadai atas ushūl-ut tafsīr, ushūl-ul hadīts dan ushūl-ul fiqh.  Untuk mengaktifkan akal diperlukan Logika dan Filsafat. Untuk  mengembangkan ilmu pengetahuan diperlukan metode ilmiah.

Pada peran kedua, yaitu indzār, Thahir ibn ‘Asyūr (w.1973) dalam Tasfirnya menjelaskan “bahwa termasuk dari indzār adalah mendidik manusia agar mereka bisa membedakan yang hak dengan yang batil, yang benar dengan yang salah”.  Sementara Fakhruddin Arrazi (w. 606 H) berkata “Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan dari belajar agama adalah mengajak makhluk (manusia) kepada kebenaran dan menunjukkan mereka kepada agama yang lurus”. Dari penjelasan dua mufassir ini disimpulkan beberapa hal, antara lain, bahwa peserta didik dalam Islam amat luas yaitu seluruh manusia. Kedua, tujuan pendidikan adalah menuntun manusia menemukan kebenaran lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Di zaman yang serba digital ini, dengan jangkaun indzār yang begitu luas serta tujuannya yang begitu berat, santri dituntut menguasai multi literasi.  Tantangannya jauh lebih berat dari pendahulunya yang hidup beberapa abad silam. Literasinya harus tidak hanya sebatas pada membaca, menulis dan berbahasa, melainkan harus masuk, mengimbangi dan mengendalikan arus gaya hidup masa kini. Malahan santri harus dapat tampil memberikan solusi pada problematika kehidupan manusia. Secara sederhana, santri harus senantiasa tampil sebagai pembelajar (tafaqqu fid dīn), pendidik (mundzir) dan penebar manfaat bagi kehidupan manusia (khair-un nās-i anfa’uum lin nās-i). Wallā-u a’lam.

Penulis Buku "Jejak Hitam Syi'ah" dan aktif mengajar di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata

 

[1] Al-Qur’an, Saba’: 28

[2] Muhammad As-shawi, Tafsir as-Shawi (Surabaya: Darul ilmi, tt), IV/103.

[3] Ulama ushul  fiqh mendefinisikan taklīf dengan menuntut melakukan sesuatu yang mengandung kesulitan. Meskipun menuntut, taklīf tetap di bawah kemampuan manusia. Tidak ada taklīf yang di luar kemampuan manusia. Islam hanya menuntut dan tidak memaksa (ikrā)

[4] Al-Qur’an, Al-ahqāf [46]:29

[5] Al-Qur’an, Attawbah: 122

[6] HR. Turmudzi.

[7] Musnad Ahmad, V/525.

[8] HR. Abu dawud dan Turmudzi.

[9] Abd Wahhab Khallaf, Khulāsha tārikh tasyrī’ (Kuwait, tt.), 32.

[10] Ibid,.

[11] Badruddin Zarkasyi, Luqathat-ul ajlân wa ballatuz zham’ân (Kairo: mathba’ah walidah, 1908), 5.

[12]Majid Irsan alkilani, Falsafat-ut tarbiya-til islāmiyya (Jiddah: Dārul manarah, 1987), 270.