Menjadi Wanita Cerdas

SAJJAD Selasa, 10 September 2019 07:05 WIB
230x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Muslimah Berpendidikan

Oleh : Farihah*

Inteligensi sikap dan pengetahuan berhak dimiliki siapa saja. Tak ayal bagi seorang wanita sebagai penebar benih-benih pejuang agama. Menciptakan nuansa pendidikan pertama yang sungguh luar biasa. Sembari menguntai senyum selebar-lebarnya tatkala bercengkrama ria dengan si buah hatinya.

Berbicara mengenai wanita tidak akan ada habisnya, baik dari aspek sosial maupun keagamaan. Sorotan yang lebih dominan spesies ini selalu diidentikkan dengan isu-isu miring, dan pandangan negatif yang merendahkan. Terlebih eksistensinya pun tidak luput dari berbagai kontroversi, berbagai tudingan sejak zaman jahiliah hingga ilmiah selalu kita temukan.

Dalam sejarahnya, wanita di berbagai negara mendapatkan perlakuan yang tidak selayaknya. Sedikit contoh, jika kita memutarbalikkan sejarah yakni pada zaman pra Islam, dunia tidak mengakui eksistensi dari wanita. Bahkan di Persia pada tahun ke 6 masehi sempat diragukan status kemakhlukannya, “Apakah wanita termasuk manusia atau bukan?” Dengan alasan demikian, kemudian para cendekiawan berkumpul dan memutuskan bahwa wanita adalah manusia, namun sebatas untuk melayani laki-laki. Di negara Inggris wanita dianggap tidak ada, dan tidak berhak menerima warisan. Di negara Arab masyarakatnya terbiasa mengubur anak perempuan yang baru lahir. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab [sebelum dia memeluk Islam] “Lahirnya seorang perempuan dalam keluarga terhormat merupakan aib bagi kehormatan keluarga, sehingga opsi terbaik untuk menutupi aib tersebut adalah dengan cara membunuh setiap bayi perempuan yang lahir. Jika tidak, maka bayi tersebut setelah dewasa hanya menjadi alat pemuas hasrat dan dilarang bekerja di luar rumah. Mereka hanya cukup untuk memasak di dapur, melayani suami di kasur, dan mencuci pakaian di sumur.” Tidak heran jika kemudian muncul adagium bahwa tugas wanita hanya di dapur, kasur, dan sumur.

Begitulah seterusnya, statement negatif serta penilaian secara subjektif terus dilancarkan di berbagai belahan dunia sehingga menghasilkan kebijakan-kebijakan yang terus turun temurun merendahkan kaum wanita. Pada akhirnya semua sepakat pada satu kesimpulan besar bahwa wanita merupakan makhluk lemah yang tidak mempunyai kontribusi apapun, baik dalam sektor domestik maupun publik, apalagi untuk masalah kenegaraan.

            Kemudian setelah banyak mengalami polemik buram, sejarah menyuarakan kebijaksanaannya. Tepatnya pada abad ke-7 masehi, agama haq (Islam) muncul. Kedudukan wanita dikembalikan pada fitrahnya yang mulia sesuai dengan tatanan norma yang telah Allah gariskan. Sekaligus masa itu menjadi abad kejayaan bagi kaum wanita yang ditandai dengan pengahapusan segala bentuk perbudakan dan penindasan terhadap kaum wanita. Islam secara tegas mengungkapkan bahwa wanita dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah serta memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Namun Islam menetapkan hak dan kewajiban wanita ada yang sama dan ada pula yang berbeda. Hal itu tidak mempersoalkan kedudukan atau siapa yang lebih tinggi dan lebih diunggulkan, akan tetapi terkait dengan fungsi dan tugasnya. Secara umum laki laki lebih unggul dari pada wanita. Namun secara individual wanita memiliki sisi keunggulan dari pada laki laki.

Secara potensial wanita dan laki laki diberi hak yang sama untuk mengembangkan potensi masing masing, salah satunya dengan cara menuntut ilmu. Mengenai kewajiban menuntut ilmu tidak terfokus pada laki laki akan tetapi juga pada wanita sebagaimana sabda Rasulullah saw;

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ

Artinya: “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim laki-laki dan wanita”. (HR. ibnu Abdil Bar).
Dalam hadis di atas nampak jelas bahwa pengembangan potensi dan intelektualitas sangat ditekankan oleh Islam. Dalam Islam sendiri wanita memiliki kemampuan untuk belajar dan unggul di berbagai disiplin keilmuan dan pengetahuan sehingga keilmuannya dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat, yang secara partikular sangat membutuhkan ulama Islam wanita. Mereka sangat dibutuhkan untuk membimbing komunitas sesama mereka. Maka sekaranglah saatnya untuk mengembalikan kejayaan keilmuan Islam di posisi superior, di saat banyak kalangan melihat dengan pandangan inferior terhadap studi Islam. Secara umum dengan ilmu akan nampak perbedaan kemuliaan antara orang mukmin yang satu dengan yang lain, sebagaimana firman Allah swt dalam surah Al-Mujadalah ayat 11;

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰت

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. (QS. Al-Mujadalah:11).

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkomentar mengenai derajat tersebut bahwa bagi ulama (orang-orang ahli ilmu) keunggulan derajatnya di atas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratus derajat, di antara dua derajat terdapat jarak perjalanan lima ratus tahun. Dari keutamaan tersebut serasa sangat penting bagi kita untuk menuntut ilmu.
Lalu seberapa urgenkah pendidikan bagi seorang muslimah? Kontribusi intelektualitas muslimah merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan, baik pendidikan yang dimulai sejak bayi sampai pendidikan di perguruan tinggi. Mengenai seberapa penting pendidikan bagi muslimah, perlu kita ungkapkan kembali peran sekaligus tugas dari seorang muslimah yang mana wanita secara umum memiliki peran ini, yakni:

Memelihara keluarga

Wanita merupakan sosok ibu sebagai gudang ilmu dan pusat peradaban serta sebagai wadah yang menghimpun sifat-sifat mulia bagi keluarga khususnya anak-anaknya. Anak-anak diibaratkan kertas putih dan tergantung bagaimana kita menulisnya. Untuk menjadikan anak berkualitas diperlukan pendidik yang berkualitas pula dan sosok ibulah di sini yang sangat berperan karena orang pertama yang anak-anak tiru adalah ibunya. Ibu merupakan madrasah pertama sebelum anak-anak dipasrahkan ke sebuah lembaga pendidikan. Dalam hal inilah peran wanita sebagai pencetak kader-kader generasi terdidik yang pada akhirnya memengaruhi pada kesejahteraan bangsa sangat diperlukan. Islam sendiri memberikan penghargaan luar biasa terhadap sosok ibu dengan meng-qiyas-kan surga berada di bawah telapak kaki ibu. Lalu wanita mana yang tidak tertarik?

Menjaga pilar masyarakat

Pilar masyarakat yang berupa keabsahan moral sangat membutuhkan peranan wanita di dalamnya. Jika wanita lemah maka moral masyarakat akan lemah, karena tiang utama dalam membangun kesejahteraan bangsa ada pada wanita. Efek yang akan ditimbulkan akibat tidak memfilter pendidikan anak adalah akan memicu pada rusaknya moral bangsa dan akhirnya negara menjadi taruhannya. Pemuda adalah pemersatu bangsa dan wanita menjadi agen pencetak generasi bangsa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Febi Mutia, S.T. dalam sebuah seminar, “Wanita adalah salah satu elemen masyarakat yang mempunyai peranan signifikan dalam pembangun dan kemajuan suatu bangsa”.

Dari uraian di atas tentang peran wanita, maka sejatinya wanita memikul amanah yang sangat berat sehingga diperlukan rekonstruksi dan reposisi serta pembaharuan adagium lama yang mengesampingkan pendidikan seorang wanita guna tercapainya tujuan tersebut. Untuk menghilangkan kultur yang telah mendarah daging diperlukan kesadaran tinggi akan pentingnya dunia pendidikan bagi wanita. Sebenarnya dari dapur pun seorang wanita cerdas sangat diperlukan. Dengan kecerdasannya dapat diperoleh menu-menu yang beraneka ragam setiap hari dan dapat menerima asupan gizi yang sesuai serta yang terpenting dapat membedakan halal haramnya makanan. Dari semua aspek kehidupan, peran wanita tidak bisa dikesampingkan. Sebab demikian wanita cerdas merupakan aset terbesar untuk mengubah pola kehidupan menjadi lebih baik. Maka marilah ubah mindset kita tentang pentingnya pendidikan, baik nantinya kita menjadi wanita karir atau hanya menjadi pengurus rumah tangga semua itu tidak akan sia sia. Wallahu a'lam bis shawab.

*Santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, berasal dari Batu Marmar Pamekasan.