Pendidikan dan Urgensi Tasawuf dalam Konteks Kekinian

SAJJAD Jumat, 13 September 2019 08:46 WIB
234x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Tasawuf Dan Pendidikan

Oleh: KH. Khalil Kawakib*

Kehidupan bertasawuf akhir-akhir ini tidak peka lagi di dunia pendidikan. Entah memang karena tasawuf sudah tidak relevan, ataukah aktor pendidikan itu sendiri yang enggan bersentuhan dengan tasawuf. Disadari atau tidak, tasawuf adalah warisan Nabi mulai dulu hingga kini.

A. PENTINGNYA PENDIDIKAN

Dari sisi penciptaannya, manusia adalah mahluk Allah SWT yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk-mahluk yang lain, karena selain diberikan akal pikiran, manusia juga diberikan hawa nafsu. Berbeda halnya dengan para malaikat yang hanya diberikan akal serta hewan yang hanya diberikan hawa nafsu. Namun kesempurnaan manusia tidak serta-merta menjadikannya sebagai makhluk terbaik, pada kalanya manusia bisa naik ke maqam para malaikat bahkan bisa melebihinya, dan pada saat yang lain justru bisa menjadi sama kedudukannya dengan hewan bahkan lebih hina darinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surat At-Tin ayat 4-6  :

  لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) }التين: 4 - 6{

Artinya : “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, maka bagi mereka pahala yang tidak terputus”. (QS. At-Tin ayat 4-6)

Dalam Surat Al-Furqan ayat 44, Allah SWT juga menjelaskan :

[أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا (44) [الفرقان: 44              

Artinya : “Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami, mereka itu tidak lain hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya (dari hewan ternak)”. (QS. Al-Furqan ayat 44).

Pendidikan merupakan proses utama menjadikan manusia sebagai manusia yang seutuhnya, manusia yang berkualitas, berkarakter, bermartabat serta akan menjauhkannya dari kehinaan abadi sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Sebab dengan pendidikan manusia bisa berilmu dan berpengetahuan, sehingga menjadi insan yang beriman dan beramal sholeh dengan benar.

Dengan ilmu pengetahuan manusia akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT, dalam Surat Al-Mujaadilah ayat 11 dijelaskan :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (11) [المجادلة: 11

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu : “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, maka niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS.Al-mujaadalah ayat 11.

B. KONDISI KEKINIAN

Sungguh ironi, di tengah semakin menjamurnya lembaga-lembaga pendidikan dari segala macam disiplin ilmu serta banyaknya sarjana-sarjana pendidikan pada saat ini sejatinya bisa menjadikan keadaan semakin baik serta generasi bangsa yang semakin berkualitas. Namun realitanya justru sebaliknya, dalam setiap saat kita selalu disuguhi dengan kejadian-kejadian serta informasi-informasi yang sangat memprihatinkan, menyedihkan serta memilukan, mulai dari semakin maraknya peredaran narkoba yang saat ini sudah sampai pada level darurat, pola hidup bebas yang sungguh menjadikan kalangan orang tua miris mendengarnya, pembunuhan, perzinahan, pencabulan, perampokan, tawuran terjadi dimana-mana serta dekadensi moral yang sudah sangat mengkhawatirkan. Korupsi sudah membudaya dengan sangat masif dalam setiap lini kehidupan masyarakat yang justru semua itu banyak dilakukan oleh orang-orang yang “BERPENDIDIKAN”.  Lalu apakah sebenarnya yang sedang terjadi dengan dunia pendidikan kita saat ini?

C. SEMAKIN MENJAUH DARI AJARAN TASAWUF

Sebetulnya secara umum tidak ada yang salah dari sistem pendidikan di negeri kita ini. Mulai dari peran serta pemerintah yang sudah cukup maksimal memberikan perhatian terhadap pendidikan dengan mengalokasikan 20% dana APBN untuk pendidikan sesuai dengan amanat undang-undang. Para pengelola, orang tua serta peserta didik juga semakin semangat dalam melaksanakan proses pendidikan serta ditunjang dengan kurikulum yang semakin sempurna. Namun dari sisi yang lain, justru merupakan ruh dari pendidikan itu sendiri yaitu nilai-nilai ajaran tasawuf sudah banyak yang diabaikan, terlupakan dan bahkan dijahui, baik oleh para pengelola, dewan guru dan tentunya oleh peserta didik. Sehingga hasil pendidikan yang diperoleh oleh peserta didik tidak memberikan dampak positif dalam kehidupan saat ini, bahkan realitanya anak PAUD lebih baik dibandingkan dengan anak TK/RA, anak TK/RAlebih baik dibandingkan dengan anak SD/MI, anak SD/MI lebih jujur dibandingkan anak SMP/MTs, anak SMP/MTs lebih tunduk dan patuh dibandingkan anak SMA/MA dan begitu pula seterusnya. Sungguh sangat memprihatinkan. Sebab semakin tinggi pendidikannya justru semakin tidak baik.

Pendidikan adalah salah satu proses yang bersifat sistemik. Menuntut seluruh komponen yang terlibat di dalamnya harus sama-sama bekerja secara maksimal sesuai dengan tupoksinya masing-masing untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baik sesuai harapan bersama, termasuk di dalamnya dalam melaksanakan ajaran-ajaran tasawuf. Usaha-usaha yang bersifat teoritis dan kemampuan intelektual yang hanya mengandalkan teori-teori serta kecerdasan otak dalam upaya menghasilkan peserta didik yang baik mungkin sudah maksimal dilaksanakan, namun usaha-usaha yang bersifat spiritual dengan memakai pendekatan sufisme mungkin sangat sedikit yang melaksanakannya, sehingga output yang dihasilkan tidak sesuai dengan harapan.

D. POKOK-POKOK AJARAN TASAWUF

Seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthami (wafat pada tahun 261 H/875 M) menjelaskan bahwa inti dari ajaran tasawwuf meliputi tiga aspek, yaitu :

1. TAKHALLI (  تخلي )  TAHALLI ( تحلي ) DAN TAJALLI ( تجلي )

  • Takhalli ialah membersihkan diri dari segala kotoran atau penyakit hati, seperti : nifaq, hasad, sombong, riya’, sum’ah, tama’, cinta dunia dan penyakit hati yang lain.
  • Tahalli ialah menghiasi diri dengan amal-amal sholeh baik yang wajib atau yang sunnah seperti sholat, puasa, zakat, haji, duha, shodaqah, tahajjud , sholat rowatib dan lain-lain. Juga menghiasi diri dengan akhlakul karimah, seperti : tawadhu’, zuhud, ‘iffah, qana’ah, amanah, iqtishad dan lain sebagainya.
  • Tajalli ialah merasakan diri selalu berhadap-hadapan dengan sang pencipta, seakan melihat tuhannya, serta merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan-Nya.

2. MUNAJAT, MURAQABAH DAN MUHASABAH

  • Munajat ialah selalu mencurahkan isi hati serta berkeluh kesah hanya kepada Allah SWT setiap saat. Terutama pada waktu sunyi tengah malam, selalu merasa bergelimang dengan dosa sehingga tidak henti-hentinya bertobat kepada Allah SWT.
  • Muraqabah ialah merasakan bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Dalam segala hal, baik dalam keadaan terjaga atau tidur, merasakan bahwa dirinya sama sekali tidak mempunyai kekuatan apapun saja, yang ada hanya kekuatan dan kesempurnaan Allah SWT.
  • Muhasabah ialah usaha selalu mengevaluasi dari setiap saat, agar terus semakin baik ke depan. Selalu mengingat dosa-dosa masa lalu untuk dimintakan ampun kepada Allah dan tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

3. SYARI’AT, THARIQAT DAN HAKIKAT

  • Syari’at adalah aturan atau undang-undang yang telah dibuat oleh Allah SWT untuk hamba-hambanya, baik berupa aturan-aturan seperti wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram atau berupa amalan-amalan, seperti sholat, zakat, puasa.
  • Thariqat ialah jalan atau petunjuk dalam suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW, dan dikerjakan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in dan terus bersambung dengan para ulama’ sekarang.
  • Hakikat yaitu keadaan sampai pada tujuan, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah) dan musyaahadatu nuurittajalli ( melihat cahaya yang nyata)

E. REALITA SEKARANG

Apabila mengacu terhadap ajaran-ajaran tasawuf di atas, tentunya saat ini banyak sekali hal-hal yang harus dibenahi oleh pribadi-pribadi praktisi pendidikan, serta seluruh komponen yang terlibat di dalamnya, baik oleh pengelola, para pendidik, orang tua serta peserta didik.

  • Pengelola

Meningkatnya perhatian pemerintah ternyata selain berdampak positif namun juga mempunyai dampak negatif terhadap para pengelola lembaga pendidikan. Penyakit hati seperti Hubbuddunya (cinta dunia) dengan selalu berharap ada bantuan, hasad (iri dengki) antar sesama lembaga, kidzib (bohong) dengan banyaknya data-data palsu  serta persaingan antar lembaga yang tidak sehat menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari oleh para pengelola pendidikan. Di sini peran ajaran tasawuf sangat urgen untuk dimiliki dan diperkokoh oleh para pengelola pendidikan, agar tujuan mengelola pendidikan yang mulya tidak mudah dibelokkan oleh penyakit-penyakit hati tersebut.

Keikhlasan dan kemurnian tujuan para pengelola pendidikan an sih dibutuhkan, karena hal tersebut sangat memengaruhi terhadap barokahnya ilmu yang diperoleh dari lembaga tersebut.

  • Pendidik

Dengan adanya perhatian khusus dari pemerintah yang berupa bantuan sertifikasi guru, tunjangan fungsional guru dan lainnya, menjadi ujian berat bagi para guru saat ini. Tentunya hal ini membutuhkan upaya yang ekstra keras dari para pendidik serta calon pendidik untuk mampu menangkal penyakit hati yang setiap saat menjangkitinya. Di sini peran ajaran-ajaran tasawuf mutlak dibutuhkan bagi mereka, karena guru adalah penentu utama kesuksesan pendidikan. Para pendidik yang selalu takhalli, tahalli serta tajalli akan mampu menghasikan peserta didik yang baik dan hebat, sebagaimana para santri dari para salafusshaleh terdahulu. Namun para pendidik yang hanya berorientasi terhadap materi maka akan menghasilkan peserta didik yang tidak baik, seperti banyak kita jumpai pada saat ini. Naudzu billahi min dzalik.

  • Orang tua

Penanggung jawab pertama dalam mendidik anak adalah kedua orang tuanya. Banyak sekali saat ini kita jumpai orang tua yang tidak peduli terhadap pendidikan anaknya. Mereka tidak tahu menahu terhadap pendidikan anaknya. Mereka pasrah begitu saja terhadap gurunya. Jangankan untuk mendo’akannya pada waktu selesai sholat malamnya, untuk sekadar mendoakan setelah sholat lima waktunya saja mereka lupa. Jangankan untuk mengetahui hasil pelajaran anaknya di sekolah, anaknya sedang duduk di kelas berapa mereka banyak yang tidak tahu.

Peran serta orang tua dalam menentukan kesuksesan pendidikan anak sangat dibutuhkan. Mulai dari memperbaiki tujuan mendidiknya, kemurnian dan kehalalan segala kebutuhan kesehariannya yang diberikan kepada anaknya serta komunikasinya dengan Sang Pencipta (munajatnya kedua orang tua kepada Allah SWT). Do’a orang tua merupakan senjata ampuh bagi anak-anaknya dalam upaya menggapai kesuksesan.

  • Peserta didik

Sikap dan perilaku peserta didik sekarang sudah sangat memprihatinkan, semakin jauh dari pokok-pokok ajaran tasawuf di atas. Etika kepada Allah, guru dan kepada kedua orang tua sudah mereka abaikan, sehingga mayoritas dari mereka hanya cerdas otaknya tapi tidak mengerti hatinya.

Dari uraian di atas dapat kita pahami bersama bahwa tasawuf merupakan hal sangat urgen dan tidak dapat dipisahkan dengan proses pendidikan yang dilaksanakan, karena hanya Allah pemilik alam semesta ini, dzat yang bisa memberikan manfaat dan mudlorat terhadap segala sesuatu. Ilmu pengetahuan tidak akan ada artinya apabila tidak bersamaan dengan hidayah dari Allah SWT. Dalam sebuah hadits yang disebutkan dalam Syarah Kitab Shahih Bukhari juz 34 hal 8 disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

من ازداد علماً ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعداً رواه الديلمي عن علي

"Barang siapa bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayahnya, maka tidak akan bertambah dari Allah melainkan semakin jauh”  HR. Dailami dari Ali ra.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Soddara Pasongsongan Sumenep.