Menumbuhkan Semangat Literasi Santri

SAJJAD Selasa, 17 September 2019 07:04 WIB
568x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Literasi Pesantren

Oleh: Nurul Hidayat*

Dewasa ini, di tengah krisisnya sosok-sosok yang amanah dalam menjalankan tugas pengabdian kepada Negara, santri sebagai warga pondok pesantren yang terlatih dengan akhlakul karimah sangat diharapkan berpatisipasi aktif dalam pembangunan Negara ini. Santri harus melibatkan diri dalam agenda pembangunan nasional dan harus menjadi teladan yang baik dalam menjalankan tugas. Santri harus mampu mewarnai lembaga-lembaga pemerintah dengan kecakapan dan etos kerja yang berbasis akhlakul karimah.

Oleh karena itu, supaya kiprah kaum santri dengan basis akhlakul karimahnya bisa mewarnai lembaga pemerintah secara komprehensif, santri dituntut untuk tidak hanya memiliki kompetensi dalam urusan agama saja. Namun santri diharapkan memiliki kompetensi dalam banyak bidang, seperti urusan perekonomian, ketatanegaraan, hukum positif dan seterusnya. Maka untuk mewujudkan cita-cita ini, kaum santri harus selalu meningkatkan kompetensinya.

Berbicara soal kompetensi maka berbicara pendidikan, karena pendidikan sangat menentukan terhadap kompetensi yang dimiliki seseorang. Lantas, ketika berbicara soal pendidikan, maka aktivitas pokok di dalamnya adalah aktivitas membaca dan menulis (literasi). Tidak heran jika Finlandia beberapa kali dinobatkan sebagai negara paling unggul dalam bidang pendidikan, karena budaya literasi di sana sangat tinggi. Begitu juga di negara lainnya seperti Kanada, Austria, Selandia Baru, dan Belanda. Negara-negara tersebut adalah negara-negara maju yang memiliki tingkat literasi yang tinggi.

Nah, kaum santri seharusnya menggalakkan semangat literasi, karena dalam sejarahnya semangat literasi telah mampu menaklukkan peradaban dunia. Bahkan mampu mengantarkan peradaban umat Islam mencapai puncak kejayaannya.

Ketika peradaban dunia dipimpin oleh dua imperium besar, Kekaisaran Romawi dan Persia, pada waktu itu bangsa Arab masih dalam kondisinya yang sangat memprihatinkan. Ketimpangan sosial, perjudian, pengekangan terhadap perempuan, dan maraknya sesembahan terhadap berhala-berhala melengkapi zaman jahiliyah Arab pada waktu itu.

Tetapi di tengah kompleksitas persoalan besar seperti itu, ayat yang kemudian turun pertama kali kepada Muhammad bin Abdullah bukanlah ayat tentang mengatur bagaimana strategi perang, dan bukan pula ayat tentang bagaimana membuat senjata perang, bukan. Justru ayat yang turun pertama kali kepada Muhammad yang tengah mengalami kegundahan hati menyaksikan kompleksitas persoalan pada waktu itu adalah ayat tentang perintah membaca, iqra'  (surah al-alaq ayat 1-5).

Turunnya ayat tersebut seolah-olah menyimpan pesan tersirat bahwa dengan membaca semua persoalan yang menjadi kegelisahan Muhammad bin Abdullah itu dapat teratasi. Terbukti, beberapa tahun kemudian, Muhammad bin Abdullah yang lahir di tempat yang tidak pernah diperhitungkan oleh Kekaisaran Romawi-Persia menjadi sang penakluk peradaban dunia. Beliau menjadi tokoh sentral umat Islam yang paling diperhitungkan karena telah membawa perubahan besar terhadap peradaban manusia.

Diceritakan ketika kaum muslimin memenangkan perang Badar, banyak dari kaum kafir yang menjadi tawanan. Di tengah rapat Rasulullah bersama para sahabatnya, Umar bin Khattab mengusulkan agar tawanan tersebut dibunuh saja. Sementara Abu Bakar mengusulkan agar tawanan tersebut dilepaskan dengan syarat mebayar tebusan sebagai penggantinya. Akhirnya keputusan yang diambil oleh Rasulullah adalah melepaskan tawanan tersebut dengan syarat membayar tebusan bagi mereka yang mampu dan dengan syarat mengajarkan membaca dan menulis (literasi) kepada anak-anak kaum muslimin bagi mereka yang tidak mampu membayar tebusan.

Keputusan ini menunjukkan betapa visionernya Rasulullah. Beliau menaruh perhatian besar kepada kompetensi generasi umat Islam yang akan melanjutkan perjuangan beliau kelak.

Maka tidak heran jika sepeninggal Rasulullah, yaitu pada masa kepemimpinan Abu Bakar, para sahabat mulai melakukan penghimpunan ayat-ayat al-Qur'an yang semula masih berserakan di berbagai media, seperti kayu, batu, tulang, pelepah kurma, dan kulit hewan. Para sahabat khawatir ayat-ayat al-Qur'an akan hilang ketika para penghafal al-Qur'an meninggal dunia. Maka atas dasar kekhawatiran itu, dilakukanlah kodifikasi al-Qur'an. Agenda ini terus berlangsung dan menjadi sempurna pada masa khalifah Usman bin Affan yang kemudian dikenal dengan rasmu al-utsmany.

Semangat literasi ini terus berkembang mengiringi perkembangan Islam, hingga Islam pun mencapai masa kejayaannya pada masa Khalifah Abbasiyah (750 M/132 H sampai 1258 M/656 H). Pada era ini budaya literasi umat Islam berkembang pesat. Seperti didirikannya Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad pada masa kepemimpinan khalifah Harun al Rasyid (789 M sampai 809 M) yang berisi ratusan ribu koleksi buku dari berbagai bidang ilmu pengetahuan dan sains. Pada masa itu kegiatan literasi sangat mendapat perhatian khusus dari Khalifah, bahkan setiap karangan para ilmuwan muslim pada waktu itu ditimbang kemudian dihargai dengan emas seberat timbangan tersebut. Pada masa inilah banyak ilmuwan-ilmuwan muslim produktif bermunculan yang kemudian karya-karya mereka sangat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Fakta sejarah ini mengandung pesan bahwa kemajuan peradaban suatu bangsa ada pada seberapa tinggi kesadaran masyarakatnya tentang pentingnya literasi. Kenyataan ini semestinya selalu mendorong ghirah literasi santri yang notabene adalah pemerhati kajian keislaman, karena sejak baru masuk pesantren saja santri sudah mengenal kitab-kitab hasil literasi para ulama, baik ulama klasik seperti Imam Madzhab (Muhammad bin Idris Asy-syafi'i, Malik bin Anas, Nu'man bin Tsabit/Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal), Nawawi-Rafi'e, Imam Ghazali, Bukhari-Muslim, Ibnu Hajar al-Haitami, Imam Romli, dan seterusnya atau ulama kontemporer seperti Yusuf Qardhawi, Wahbah Zuhayli, Sa'id Ramdhan al-Buthy, Muhammad Ali al-Shobuny dan seterusnya. Kalau kemudian sosok santri tidak memiliki kegemaran membaca dan menulis, maka sebenarnya dia mulai mereduksi jati dirinya sendiri sebagai seorang santri.

Untuk meningkatkan semangat literasi santri ini harus dimulai dengan kemauan kuat dari para pengelola pesantren, karena tumbuhnya semangat literasi santri akan sangat kecil potensinya ketika hanya menunggu kesadaran dari santri itu sendiri tanpa ada komitmen yang kuat dari para pengelola pesantren. Oleh karenanya, harus ada terobosan dari para pengelola pesantren bagaimana meningkatkan semangat literasi santri. Hemat penulis, sedikitnya ada empat hal yang perlu dilakukan.

Pertama; membangun kesadaran tentang pentingnya literasi dengan cara selalu diserukan kepada para santri dalam beberapa kesempatan, dan didukung dengan beberapa tulisan-tulisan yang dapat menginspirasi semangat literasi santri di berbagai tempat yang strategis.

Kedua; memberikan kesempatan serta memfasilitasi santri untuk mengembangkan kemampuan literasinya. Seperti diadakan kegiatan motivasi dan pelatihan literasi secara berkesinambungan.

Ketiga; mengapresiasi para santri yang memiliki karya dimuat di media, baik media internal atau eksternal pesantren dengan cara memberikan reward. Misalnya diberi uang insentif dan semacamnya yang besaran nominalnya bergantung kepada kelas media yang memuat. Hal ini akan menambah semangat literasi santri, karena selain memang aktivitas menulis adalah kegemarannya, dia juga mendapat uang insentif yang mampu membantu biaya hidupnya. Ketika suatu aktivitas yang memang menjadi hobi sesorang mendapat sebuah reward maka akan tumbuh motivasi yang kuat untuk mempertahankan aktivitas tersebut.

Keempat; mempublikasikan santri-santri yang mendapat penghargaan kepada santri secara umum agar mereka juga ikut tertarik dan termotivasi mengembangkan kompetensi literasi.

Akhirnya, penulis ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pepatah, "Dengan membaca kamu mengenal dunia, dengan menulis kamu dikenal dunia".

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata asal Banyuates Sampang.