Urgensi Pesantren Sains Dalam Percaturan Global

SAJJAD Jumat, 20 September 2019 10:32 WIB
524x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Pesantren Sains

Oleh : H. Muzammil Imron, S.Ag., MA.*

A. Menelisik Sejarah Mercusuar dan Masa Keemasan Sains dalam Islam

Pendidikan Islam yang mengalami masa tunas pada masa Dinasti Bani Umayyah mencapai puncaknya pada masa Dinasti Bani Abbasiyah. Kemajuan pendidikan Islam pada masa ini dikarenakan penguasa dari Dinasti Bani Abbasiyah mengambil kebijakan dengan mengangkat orang-orang Persia menjadi pejabat-pejabat penting di istana, terutama dari keluarga Baramikah yang bersentuhan dengan filsafat dan ilmu pengetahuan Hellenisme serta memengaruhi umat Islam saintis. Hingga pada puncaknya menjadikan Islam sebagai pusat keilmuan yang tiada tandingnya dan menjadi kiblat dunia pada saat itu.

Perseteruan antara agama dan ilmu pengetahuan (sains) merupakan isu klasik yang sampai saat ini masih berkembang di dunia Barat dalam wujud sekularisme. Hal ini terjadi di kalangan kristiani, dimana Bibel banyak berkontradiksi dengan sains. Tetapi, Islam tidak mendekati persoalan sains ini dari perspektif tersebut, karena al-Qur’an dan al-Sunnah telah memberikan sistem yang lengkap dan sempurna serta mencakup semua aspek kehidupan manusia, termasuk kegiatan-kegiatan atau penyelidikan-penyelidikan ilmiah. Jadi, kegiatan ilmiah merupakan bagian yang integral dari keseluruhan sistem Islam di mana masing-masing bagian memberikan sumbangan terhadap yang lainnya. Al-Qur’an sangat menekankan pentingnya membaca (mengamati) gejala alam dan merenungkannya. Al-Qur’an mengambil contoh dari kosmologi, fisika, biologi, ilmu kedokteran dan lainnya sebagai tanda kekuasaan Allah untuk dipikirkan oleh manusia. Tidak kurang dari tujuh ratus lima puluh ayat – sekitar seperdelapan al-Qur’an– yang mendorong orang beriman untuk menelaah alam, merenungkan dan menyelidiki dengan kemampuan akal budinya serta berusaha memperoleh pengetahuan dan pemahaman alamiah sebagai bagian dari hidupnya. Kaum muslim zaman klasik memperoleh ilham dan semangat untuk mengadakan penyelidikan ilmiah di bawah sinar petunjuk al-Qur’an, di samping dorongan lebih lanjut dari karya-karya Yunani dan sampai batas-batas tertentu oleh terjemahan naskah-naskah Hindu dan Persia. Dengan semangat ajaran al-Qur’an, para ilmuwan muslim tampil dengan sangat mengesankan dalam setiap bidang ilmu pengetahuan.

B. Posisi strategis Pendidikan Pesantren dalam sistem pendidikan Nasional

Pada dekade terakhir ini perkembangan pendidikan Islam menunjukkan lompatan kuantum yang tak terbayangkan sebelumnya. Pendidikan Islam tumbuh seiring dengan kemajuan dunia global dengan gemerlap sains dan teknologi yang spektakuler. Signifikansi pendidikan Islam bagi masa depan Islam Indonesia terletak pada perannya sebagai garda terdepan penjaga moral bangsa dan merupakan jembatan mobilitas generasi muslim dari berbagai strata sosial di Indonesia, yang pada saatnya mengantarkan mereka ke kehidupan modern yang beradab dan berkarakter.

 Masa depan bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusianya. Bangsa Indonesia memiliki berbagai lembaga pendidikan formal dan lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemerintah dan masyarakat. Pondok Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama yang santri-santrinya menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada di bawah kepemimpinan seorang atau beberapa orang kiai dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik serta independen dalam segala hal. Pesantren disebut sebagai lembaga pendidikan independen dalam segala hal, karena pesantren lahir dari kalangan masyarakat dan merupakan swadaya masyarakat.

Eksistensi Pondok Pesantren dalam menyikapi perkembangan zaman, tentunya tidak terlepas dari komitmen untuk tetap menyuguhkan pola pendidikan yang mampu melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang handal, kekuatan otak (berpikir), hati (keimanan), dan tangan (keterampilan). Dalam proses pembelajaran, dahulu pesantren hanya mengedepankan metode pembelajaran bandongan, sorogan dan wetonan. Namun perkembangan pesantren saat ini juga memakai metode diskusi dengan memberikan porsi lebih besar kepada para santri untuk menyampaikan gagasan dalam menginterpretasikan sebuah kitab kajian. Begitu juga dalam mengklasifikasi santri, pesantren modern mengintroduksi sistem kelas yang didasarkan pada pengetahuan yang dimiliki.

C. Pesantren sains dan sains berbasis pesantren

Pesantren merupakan institusi pendidikan yang selain mempunyai corak indigenous (keaslian) Indonesia, juga mempunyai corak keislaman. Latar belakang kemunculan pesantren adalah untuk mentransmisikan produk pemikiran skolastik Islam tradisional. Ini berarti pesantren secara genealogis terikat kuat dengan budaya dan tradisi pemikiran Islam abad pertengahan. Pada abad tersebut, pendidikan Islam secara garis besar berkembang dalam dua aliran, yaitu konservatif dan rasional. Pendidikan Islam konservatif yang telah memenangkan percaturan pada waktu itu, secara tidak langsung berpengaruh besar terhadap model dan pelaksanaan pendidikan Islam di era sekarang, termasuk di Indonesia. Bahkan hingga kini masih kuat anggapan dalam masyarakat luas yang mengatakan bahwa “agama”dan “ilmu” adalah dua entitas yang tidak dapat dipertemukan. Pandangan dualisme-dikotomis keilmuan yang seperti itu haruslah dikoreksi dan diluruskan, dengan konsep yang lebih mampu mendialogkan dan mengintegrasikan antara agama dan ilmu pengetahuan umum lainnya. Rumusan hubungan agama dan sains di dalam Islam yang telah ditawarkan oleh para intelektual Muslim dapat diklasifikasikan dalam 3 macam model,

 1. Islamisasi sains. Pendekatan islamisasi sains ini sebagaimana model yang ditawarkan oleh salah seorang ahli medis Perancis, Maurice Bucaille, yang pernah menggegerkan dunia Islam ketika menulis suatu buku yang berjudul "La Bible, le Coran et la Science”. Model ini bertujuan mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat al-Qur'an. Model ini banyak mendapat kritik, lantaran penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Menganggap al-Qur'an sesuai dengan sesuatu yang masih bisa berubah berarti menganggap al-Qur'an juga bisa berubah. Islamisasi Sains berusaha menjadikan penemuan-penemuan sains besar abad ke-20 yang mayoritas terjadi di Barat, dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keimanan umat Islam. Misalnya, penemuan ultrasonografi yang dapat melihat proses terbentuknya janin di dalam perut, atau penemuan kecepatan cahaya, diklaim telah disebutkan di dalam al-Qur'an, sehingga diharapkan makin mempertebal iman seorang Muslim bahwa al-Qur'an telah mendahului sains, karena diturunkan oleh Allah yang Maha Mengetahui. Inilah hubungan yang dikembangkan banyak Muslim saat ini, dan yang menonjol adalah Harun Yahya. Hubungan ini mendapat banyak kritik, bahwa hubungan ini hanya sekadar menghubung-hubungkan hal-hal yang semula tidak berhubungan. Hubungan ini juga bisa berdampak negatif, ketika fakta sains yang dimaksud ternyata di masa depan harus dikoreksi secara signifikan, karena ada data atau model analisis yang baru. Hal ini karena sama sekali tidak mengindahkan sifat kenisbian dan kefanaan penemuan dan teori sains Barat dibanding dengan sifat mutlak dan abadi al-Qur'an. Penemuan dan teori sains Barat berubah-ubah mengikut perubahan paradigma, contohnya dari paradigma klasik Newton yang kemudian berubah menjadi paradigma quantum Planck dan kenisbian Einstein.

2. Saintifikasi Islam. Pendekatan ini merupakan upaya mencari dasar sains pada suatu pernyataan yang dianggap benar dalam Islam. Contohnya penelitian-penelitian di bawah ini masuk kategori saintifikasi Islam: a) Penelitian dampak jangka panjang pada konsumsi makanan haram (babi, bangkai, darah). b) Penelitian dengan alat-alat pencatat denyut jantung (EKG) atau sinyal otak (EEG), juga mengambil sampel darah dan menganalisisnya, pada orang-orang yang rajin melakukan shalat (khususnya tahajud) dan puasa. Salah satu contoh konkret adalah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Dr. Muhammad Sholeh dan Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Shalat Tahajud terhadap Perubahan Peningkatan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik (Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi)”. Penelitian-penelitian saintifik tentang hal-hal di atas selalu menarik (amazing) bagi kaum Muslimin, sehingga bahkan kadang-kadang lupa menguji kebenaran saintifiknya ketika kesimpulannya sudah seolah-olah mendukung dalil. Sebaliknya ketika hasil penelitian berlawanan dengan yang dikehendaki, misalnya bahwa “tidak ada perbedaan yang signifikan antara orang yang terbiasa mengkonsumsi babi dengan yang tidak”, maka tulisan ini cenderung dijauhi.

3. Sains Islam. Model ketiga yaitu sains Islam inilah yang dianggap paling efektif daripada model sebelumnya. Sains Islam adalah sains yang sepenuhnya dibangun atas pondasi al-Qur’an dan al-Sunnah. Sains Islam dapat terwujud apabila terjadi kesadaran normatif (normative consciousness) dan kesadaran historis (historical conciousness). Kesadaran normatif muncul karena secara eksplisit atau implisit al-Qur’an dan al-Sunnah menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Kesadaran normatif tersebut kemudian menumbuhkan kesadaran historis yang menjadikan perintah al-Qur’an dan al- Sunnah sebagai inspirasi dalam membaca realitas kehidupan. Maka tumbuhlah kesadaran bahwa petunjuk al-Qur’an tentang sains tidak akan membumi tanpa usaha sadar dari para saintis untuk membeca realitas, baik kemajuan sains yang pernah diraih oleh bangsa lain, maupun melakukan kontekstualisasi ajaran dalam kegiatan penelitian sains.

Dari pembahasan di atas tersebut, maka pesantren perlu segera melakukan “rapprochment”, dalam artian kesediaan untuk saling menerima keberadaan yang lain dengan lapang dada, meninggalkan sekat dinding pemisah antara agama dan ilmu pengetahuan, mau saling mendekati, saling menyesuaikan, berdialog dan bahkan berintegrasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Maka saat ini lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren juga telah berupaya melakukan gerakan “rapprochment”. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah institusi pesantren modern maupun campuran, dan terjadi penurunan jumlah institusi pesantren tradisional maupun santrinya. Bahkan saat ini telah berdiri model pesantren baru yang terkonsentrasi pada pengembangan natural sains dan teknologi.

Pesantren ini bernama “Pesantren Sains”, disingkat “Trensains”, yang dalam sistem pendidikannya menyelenggarakan pendidikan setingkat SMA dengan nama “SMA Trensains”. Lembaga ini merupakan sintesis dari pesantren dan sekolah umum bidang sains, dengan kegiatan utamanya mengkaji dan meneliti ayat-ayat semesta yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Trensains tidak menggabungkan materi pesantren dan ilmu umum sebagaimana pesantren modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman al-Qur’an dan al-Hadits, sains kealaman (natural science) dan interaksinya. Poin terakhir yaitu interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains dan tidak ada dalam ponpes modern.

Trensains tidak melakukan pendekatan dengan hanya melakukan “Islamisasi Sains”, yaitu pembeberan ayat-ayat dengan menggunakan sains yang sudah ada, juga tidak melakukan pendekatan dengan cara “Saintifikasi Islam”, yaitu hanya berusaha menjelaskan Islam dengan terminologi sains. Akan tetapi Trensains mengajukan pendekatan “Sains Islam” dimana sains dikonstruksi berdasarkan wahyu Allah.

Dari latar belakang yang seperti itulah maka sangat menarik untuk diteliti lebih jauh keberadaan SMA Trensains. Seperti apakah sebenarnya epistemologi yang membangunnya, apakah masih terperangkap dalam nalar epistemologi seperti yang telah dibangun oleh islamisasi sains, dan saintifikasi Islam, ataukah memiliki landasan epistemologi yang lebih transformatif dan akan mampu membawa kemajuan Islam.

* Penulis adalah Dekan Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam al-Khairat Pamekasan sekaligus Kepala Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Bata-Bata.