Al-Quran Kitab Paling Literatif; Upaya Meningkatkan Literasi di Indonesia

ADMINPESANTREN Selasa, 24 September 2019 05:13 WIB
160x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri

Oleh : Muhammad Izul Ridho*

Rendahnya Peringkat Literasi di Indonesia

Indonesia yang merupakan negara dengan 83% dari jumlah penduduknya beragama Islam serta terdapat ribuan lembaga pendidikan bernama pondok pesantren berdiri di dalamnya, dengan jumlah santri jutaan atau jika dipresentasekan sekitar 40% penduduk Indonesia adalah santri dan alumni pondok pesantren. Namun dengan kenyataan itu sampai saat ini keberadaan santri dan pesantren di Indonesia tidaklah mampu membawa Indonesia pada peningkatan budaya literasi. Saat ini Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. The World’s Most Literate Study tahun 2016 menempatkan peringkat literasi Indonesia (60) di atas Botswana (61) dan Thailand (59) berada satu tingkat di atas Indonesia. Penempatan peringkat ini berdasarkan beberapa aspek di antaranya; akses warga terhadap komputer, akses surat kabar, akses perpustakaan dan sistem pendidikan yang berlaku di setiap negara.

Literasi merupakan satu suku kata yang sudah tidak asing lagi dalam kamus pendidikan. Selama ini literasi sering kali dikaitkan dengan melek huruf latin tanpa harus paham dan memahami apa yang dibaca. Jika definisi itu digunakan tempo dulu mungkin masih relevan, karena pada masa silam masyarakat Indonesia belum merdeka dari status buta huruf dan sedikitnya tantangan yang harus dihadapi anak bangsa. Hal itu dibuktikan dengan pemahaman para pengajar di masa lalu bahwa mereka hanya memiliki target agar para anak didiknya bisa baca, tulis dan hitung. Namun dengan melihat pekerjaan rumah yang harus dikerjakan anak bangsa di era milenial, sudah menjadi keharusan, literasi yang dimaksud bukan lagi baca tulis hitung. Menurut Lucia Ratih Kusumadewi, dosen Universitas Indonesia, literasi yang dimaksud saat ini bukan sekadar lagi melek huruf atau bisa membaca, tapi literasi merupakan kegiatan membaca yang menjadi proses belajar untuk membentuk manusia menjadi lebih kritis dan bermanfaat.

Al-Qur’an dan Literasi

Santri merupakan seseorang yang belajar di lembaga pendidikan pesantren, sebuah lembaga pendidikan agama Islam yang telah berdiri sejak sebelum kemerdekaan republik Indonesia dan hingga saat ini terus bermunculan pesantren-pesantren baru walaupun tidak jarang telah banyak pesantren yang mengalami kemunduran bahkan ada yang sampai “gulung tikar”. Setiap pesantren memiliki kultur dan sistem pendidikan yang berbeda-beda dan menggabarkan pola serta corak dari pemikiran pengasuhnya. Hanya saja, yang pasti di setiap pesantren akan dipelajari kitab suci umat Islam, “al-Qur’an”.

Banyak alasan kenapa al-Qur’an menjadi kitab yang wajib dipelajari di setiap pesantren, misalnya hadist yang diriwayatkan oleh Ustman RA. “Khoirkum Man Ta’allama al-Qur’an Waallamahu”. Sebuah hadist yang sangat populer di kalangan pegiat al-Qur’an dan umat muslim ini sudah cukup kuat untuk menjadi alasan dipelajarinya al-Qur’an di setiap pesantren. Namun, al-Qur’an dipelajari juga karena al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pedoman utama umat Islam dalam menjalani kehidupan di dunia baik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Sebagai petunjuk dan pedoman, ternyata sejak 14 abad yang lalu al-Qur’an telah mengungkapkan akan pentingnya literasi. Terbukti dengan disebutkannya 4 kata yang sangat berkaitan erat dengan literasi di dalam 5 ayat pertama (al-Alaq: 1-5) yang diturunkan, yaitu;

Pertama; Iqra’. Kata ini merupakan fi’il amar (kata kerja yang menunjukkan perintah) dari kata qara’a yang merupakan sebuah fi’il mutaaddi (fi’il yang membutuhkan objek). Di dalam bahasa Indonesia kata iqra’ berarti Bacalah. Kata ini disebutkan di ayat pertama surah al-Alaq, bersanding dengan kata bismirabbika alladzi khalaq yang berarti “Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Penggunaan kata Rabb pada ayat ini menurut Fakhruddin al-Razi menunjukkan begitu pentingnya perintah membaca ini. selain itu penggunaan kata Iqra’ pada ayat ini sangat menarik perhatian, sebab lumrahnya setiap fi’il amar yang berasal dari fi’il mutaaddi memiliki maf’ul (objek), sedangkan kata iqra’ pada ayat ini tidak disebutkan maf’ulnya. Namun bukan berarti maf’ulnya tidak ada. Menurut pakar tafsir tidak disebutkannya maf’ul dari kata Iqra’ ini tujuannya untuk menunjukkan bahwa bahan bacaan yang diperintahkan untuk dibaca tidak terfokus pada satu objek saja namun lebih umum dari itu.

Selain pada ayat pertama, kata iqra’ juga disebutkan pada ayat ketiga yang bersanding dengan kata Wa Rabbuka al-Akram (dan Tuhanmu adalah Dzat Yang Lebih Mulia). Dijelaskan oleh Fakruddin al-Razi di dalam kitab Mafatih al-Ghaib bahwa penyebutan kata Iqra’ yang kedua dimaksudkan sebagai perintah membaca untuk memberi pemahaman kepada orang lain atau mengajarkan. Berbeda dengan kata Iqra’ pertama yang dimaksudkan sebagai perintah membaca guna belajar dari jibril atau agar dirinya paham dan mengerti. Jadi kegiatan membaca yang diperintahkan Tuhan kepada Muhammad dan umatnya (muslim) tidak hanya sebatas membaca untuk dirinya sendiri atau membaca tanpa memahami, melainkan membaca yang mampu membuat dirinya paham dan mengerti serta membaca agar orang lain dapat mengerti dan memahami pula.

Menurut Chairil Abidin, dosen di Universitas Indonesia, salah satu dari penyebab kenapa tingkat literasi Indonesia tergolong begitu rendah adalah disebabkan rendahnya minat baca penduduk Indonesia. Maka untuk meningkatkannya sudah menjadi keharusan bagi seorang santri guna meningkatkan minat dan daya baca, sesuai dengan perintah Tuhan. Kegiatan membaca dimaksud bukan sekadar membaca teks suci semata, namun teks-teks lain yang bisa menjadi perantara untuk meningkatkan daya kritis dan bermanfaat dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Kedua dan Ketiga; Allama dan Ya’lam. Kata Allama dan Ya’lam merupakan kata yang berasal dari suku kata yang sama. Kata Allama memiliki arti memberi pengetahuan atau mengajarkan, dan merupakan fiil stulasi mazid ruba’i dari kata ‘Alima yang dalam perubahannya berfaidah ta’diyah. Adapun kata Ya’lam memiliki arti mengetahui, dan merupakan fi’il mudari’ dari kata ‘Alima. Kata Allama disebutkan dua kali, pertama disebutkan bersama dengan kalimat al-Insana Bi al-Qalam (mengajarkan manusia dengan pena), kedua, disebutkan bersama kalimat al-Insana Ma Lam Ya’lam (mengajarkan sesuatu yang manusia tidak mengetahuinya).

Kaitannya dengan literasi, kata Allama dapat mewakili salah satu dari proses literasi yang berlangsung, yaitu proses pendidikan dan pembelajaran. Adapun kata Ya’lam dapat mewakili kriteria konten yang menjadi objek dari proses literasi, yaitu materi dari proses pendidikan dan pembelajaran yang disampaikan. Menurut Chairil Abidin, lemahnya kualitas dan infrastruktur pendidikan juga merupakan penyebab rendahnya peringkat literasi Indonesia. Maka santri dan pesantren sebagai bagian dari infrastruktur dan kualitas pendidikan yang ada di Indonesia, perlu meningkatkan kualitas dan infrastrukturnya sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan tekhnologi. Namun bukan berarti merongrong dan menghilangkan budaya lama yang baik, seperti keta’dziman seorang santri kepada gurunya (akhlak).

Terakhir, al-Qalam. Kata ini sudah diperkenalkan kepada kita sejak dini. Guru bahasa arab dulu banyak mengajari kita bahwa Qalamun berarti bulpen atau pena, sebuah alat yang biasa digunakan untuk menulis. Banyak pakar tafsir yang memahami disebutknnya kata al-Qalam dalam ayat ini menunjukkan pentingnya menulis dan berkarya dalam sebuah proses literasi pendidikan. Maka sebagai santri yang sehari-harinya bergelut dengan al-Qur’an baik dengan membacanya, mempelajari makna dan tafsirnya atau mentadabburinya dalam kesendirian, sudah layaknya berperan aktif dalam dunia literasi sebagai upaya dalam menjadikan al-Qur’an bagian dari sendi-sendi kehidupan, karena berliterasi merupakan perintah pertama dari ayat pertama yang diturunkan kepada Muhammad SAW di Hira’. Berperan aktif disini bisa dengan berbagai cara yang paling pas dengan keadaan, bisa dengan meningkatkan minat dan daya baca diri sendiri dan orang-orang terdekat, bisa dengan menulis dan berkarya atau dengan menjadi guru dan murid yang profesional dan berkualitas. Sehingga penting diketahui bahwa seorang guru yang berkualitas adalah ia yang memiliki minat dan daya baca yang tinggi. Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah santri Aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata berasal dari Jember.