Islam dan Krisis Air

ADMINPESANTREN Jumat, 27 September 2019 06:34 WIB
149x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni

Oleh: Saifuddin*

Air adalah kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan, tidak hanya manusia tapi juga makhluk lainnya, utamanya hewan dan tumbuh-tumbuhan. Oleh sebab itu, Allah menciptakan planet bumi ini 72% terdiri dari unsur air. Sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam surat al-A’raf (7) ayat 10: 10.  Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami sediakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur. Air tidak hanya penting di dunia tetapi juga di akhirat. Oleh sebab itu, al-Qur’an sering sekali menggambarkan syurga seperti kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sungai berarti air, tanpa air di dalamnya sungai tidak memiliki makna apa-apa.

Sayangnya, krisis air sekarang terjadi di banyak belahan dunia. Krisis air telah menyebabkan kesengsaraan bagi umat manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Sejarah umat manusia di zaman dahulu seperti yang pernah digambarkan dalam cerita Nabi Yusuf di Mesir dan juga kisah-kisah di zaman sekarang cukup mewakili gambaran yang sangat menyedihkan kesengsaraan yang dialami umat manusia akibat krisis air ini.  Faktor-faktor penyebab krisis air antara lain a) pemanfataan air yang berlebih b) kekeringan yang diakibatkan oleh semakin sedikitnya wilayah serapan air, c) perubahan iklim, dan d) pencemaran air.

Pemanfaatan air yang berlebih ditengarai oleh beberapa faktor antara lain laju pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali. Penyebab ini sebenarnya kurang begitu valid mengingat beberapa negara seperti Eropa dan bahkan Cina sudah melakukan upaya-upaya pengendalian laju pertumbuhan penduduk yang sangat ketat. Kesetaraan gender juga berkontribusi dalam menekan pertumbuhan penduduk. Penyebab lainnya adalah pola perilaku konsumsi air. Masyarakat industri ditengarai menjadi penyebab utamanya. Umat Islam juga memiliki potensi mengkonsumsi air secara berlebihan. Misalnya berwudhu’ yang harus berkali-kali mengusap ataupun membasuh anggota badan yang menjadi rukun syarat wudhu’, belum mandi dan lain-lain.

Faktor kedua adalah kekeringan. Ketersediaan air di planet bumi relatif tetap. Namun jumlahnya sebagian besar adalah air laut yang pemanfaatannya sangat terbatas. Air tawar di permukaan bumi hanya berjumlah kira-kira 1% saja, sebagian besar (0,9%) teersedia dalam bentuk air tanah yang tidak atau sangat sulit terbarukan (unrenewable). Oleh sebab itu, hanya sebagian kecil saja yakni 0,1% air yang mudah dipergunakan dalam bentuk aliran-aliran sungai atau genangan-genangan pada danau, kolam dan rawa. Dengan demikian, bisa dibayangkan jika wilayah-wilayah resapan air yang berfungsi untuk menampung air hujan berkurang atau dirusak, maka bencana akan datang melanda umat manusia sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam al-Qur’an surat ar-Rum (30) ayat 41

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Perubahan iklim juga berkontribusi bagi krisis air. Perubahan iklim bisa dikarenakan faktor alam itu sendiri atau dalam bahasa agamanya adalah sunnatullah, tetapi juga bisa diakibatkan oleh perbuatan manusia. Suatu contoh buangan gas industri dari pabrik-pabrik adalah penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, pembakaran hutan yang serampangan, tambang yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah lingkungan hidup dan lain-lain merupakan sebab-sebab perubahan iklim. Iklim menjadi sulit diprediksi, sehingga kadang kalau di daerah-daerah tropis, musim kemarau bisa jauh lebih lama dari biasanya yang menyebabkan kekeringan, atau sebaliknya musim penghujan yang cukup panjang yang juga bisa mengakibatkan banjir dan tanah longsor di mana-mana.

Pencemaran air sangat berpengaruh terhadap krisis air. Penelitian yang dilakukan terhadap 30 propinsi di Indonesia pada tahun 2004 menunjukkan bahwa Sungai Progo (Jawa Tengah dan Yogyakarta), Sungai Citarum (Jawa Barat) tidak lagi memenuhi kriteria mutu air kelas satu menurut PP. 82 tahun 2001. Penelitian lain yang dilakukan pada kurun waktu 1980-an menunjukkan adanya kadmium dan timbel yang mencapai 2.50 sampai 4.00 ppm. Air laut  dari yang dipersyaratkan sekitar 0.03 ppm. Pada tahun 2004 pemantauan terhadap 48 sumur di Jakarta menunjukkan bahwa hampir semuanya mengandung bakteri coliform dan fecacoli, Di mana persentase sumur yang melebihi mutu untuk parameter coloform di seluruh Jakarta cukup tinggi, yakni mencapai 63% pada bulan Juni dan 67% pada bulan Oktober.

Melihat kondisi riil di atas di mana bumi sebagai planet tempat manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan hidup di dalamnya sudah memasuki kondisi krisis air, maka upaya yang maksimal untuk melakukan pencegahan krisis air harus diusahakan bersama oleh manusia tanpa melihat latar belakang agama, etnis, suku, dan bangsanya. Usaha awal yang harus dilakukan adalah dengan mengatur jumlah penduduk. Luas Bumi ini sudah tidak seimbang dengan jumlah pertambahan penduduk yang semakin menggila. Ketika jumlah penduduk terus bertambah sementara lahan dan sumber daya alam yang ada di bumi terbatas, maka yang terjadi adalah konflik antar sesama umat manusia itu sendiri untuk memperebutkan sumber daya alam. Masih ingat di dalam memori kita betapa Afganistan, Irak, Suriah dihancur leburkan karena ditengarai menyimpan kandungan sumber daya alam berupa minyak dan gas bumi yang sangat luar biasa.

Berikutnya adalah pengelolaan dan manajemen sumber daya air harus diatur secara baik. Distribusi air harus adil dan merata agar semua makhluk dapat merasakan air yang sangat vital bagi keberlangsungan hidupnya serta mencegah dari konflik karena memperebutkan sumber daya air. Pengelolaan dan manajemen sumber daya air ini akan maksimal apabila diiringi oleh perubahan perilaku dalam mengonsumsi air. Semua makhluk terutama manusia harus menyadari bahwa air adalah sumber daya yang terbatas. Oleh sebab itu, mengonsumsinya tidak boleh berlebihan. Penghematan penggunaan air sangat penting dewasa ini, kalau misalnya mandi cukup dengan satu ember kenapa harus dengan dua ember, menyiram tanaman kalau dengan satu ember cukup kenapa harus dua ember dan lain sebagainya. Usaha-usaha seperti reduce (mengurangi), reuse (memanfaatkan kembali) dan recycle (mendaur ulang) harus dilakukan dan dibiasakan.

Langkah berikutnya adalah pemanfaatan teknologi air terbaru. Sebenarnya, molekul air berlimpah di muka bumi ini, tetapi hanya sebagian kecil air yang dapat digunakan manusia yaitu dalam bentuk cair dan bersih. Teknologi baru yang diharapkan adalah mengubah bentuk air yang kurang bermanfaat, seperti air laut, es atau kelembaban udara menjadi bentuk yang lebih bermanfaat. Teknologi saat ini yang paling banyak digunakan oleh manusia dan skalanya massal adalah desalinasi. Desalinasi adalah proses buatan manusia untuk mengubah air asin (umumnya air laut) menjadi air tawar.

Islam bicara tentang air

Islam melalui al-Qur’an dan hadis Rasul banyak berbicara mengenai air. Di dalam al-Qur’an lebih dari 200 ayat yang mengandung kata air atau yang berhubungan dengan air. Salah satu contohnya adalah surat as-Sajdah: 27 Allah s.w.t. berfirman:  Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?. Pada ayat yang lain, yaitu surat Qaf: 9-11. Allah s.w.t. berfirman: Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, Untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti Itulah terjadinya kebangkitan. Proses penciptaan air dilukiskan di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah: 164 sebagai berikut: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan ayat-ayat yang lain terutama berkaitan dengan penggambaran surga.

Hadis yang membicarakan tentang air misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dari Sa’ad ibn ‘Ubadah dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, maka sedekah apa yang lebih baik? Rasul bersabda: “Air”. Maka Sa’ad ra. Menggali sebuah sumur dan berkata, “ini untuk Ummu Sa’ad”. Hadis lainnya adalah diriwayatkan dari Seorang perempuan yang dijuluki Buhaisah dari ayahnya berkata: Ayahku meminta izin kepada Rasulullah s.a.w. maka ia masuk dan mulai untuk menerima dan mematuhi, kemudian bertanya: “Ya Rasulullah, permintaan apakah yang tidak boleh ditolak?”. Beliau menjawab: “Air”. Ia bertanya lagi, Ya Nabiyullah, apakah yang tidak boleh ditolak?. Beliau menjawab: “Garam”. Ia bertanya lagi, Ya Nabiyullah, apakah yang tidak boleh ditolak?. Beliau menjawab: “Kebaikan yang engkau lakukan adalah baik bagimu”.

Dari ayat dan hadis di atas dapat diketahui bahwa perhatian Islam terhadap air sangat luar biasa. Oleh sebab itu, Islam meminta umatnya untuk memperhatikan air, memelihara, merawat dan menjaganya serta memanfaatkannya untuk kepentingan kemaslahatan manusia, dan makhluk lainnya. Islam memperingatkan akan bencana yang akan timbul jika air diganggu keberlangsungannya oleh tangan-tangan jahil manusia. Allah s.w.t. berfirman dalam surat ar-Rum: 41.  Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Di dalam surat al-An’am: 6 Allah s.w.t. mengingatkan: Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Bencana yang datang dari terganggunya ekosistem air antara lain banjir, tsunami, badai, longsor, pencemaran air, dan kekeringan. Bencana banjir sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu sebagaimana dikisahkan di dalam al-Qur’an tentang sejarah kaum Nabi Nuh. Banjir besar yang terjadi saat itu telah menenggelamkan peradaban umat manusia. Allah s.w.t. menceritakan di dalam surat al-Qamar ayat 11-13.  Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah.  Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.

Banjir itu berlangsung dalam waktu yang panjang dan telah menenggelamkan seluruh permukaan bumi menurut sebagian ahli sejarah, ahli sejarah yang lain berpendapat bahwa yang tenggelam hanya bumi yang telah berpenghuni manusia. Hingga kemudian Allah s.w.t. memerintahkan langit untuk berhenti menurunkan hujan, memerintahkan bumi untuk menelan air sebagaimana disebutkan di dalam surat Hud: 44.  Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ."

Banjir di era sekarang ini secara kuantitas jauh lebih banyak dari periode-periode sebelumnya, meskipun dari segi kualitas besarnya banjir belum ada yang seperti digambarkan al-Qur’an dalam cerita nabi Nuh. Selain disebabkan karena faktor alam, kebanyakan banjir disebabkan karena ulah manusia dalam menjaga keseimbangan alam.

Bencana lainnya adalah tsunami. Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Tsunami bisa terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor. Namun demikian, 90% tsunami dikarenakan gempa bumi bawah laut. Selain tsunami ada lagi badai, erosi dan tanah longsor. Bencana-bencana ini disebabkan oleh gangguan yang terjadi pada ekosistem air. Allah s.w.t. dalam al-Qur’an menggambarkan bencana-bencana ini misalnya dalam surat at-Takwir: 6  Dan apabila lautan dipanaskan. dan surat al-Infitar: 3 Dan apabila lautan dijadikan meluap. Ayat yang lain yaitu surat an-Nur: 40 Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.

Bencana air yang membahayakan kehidupan umat manusia adalah pencemaran air dan kekeringan. Islam menjelaskan kedua bencana ini dalam al-Qur’an surat al-Waqi’ah ayat 68-70 yang berbunyi:  Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum.  Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?. Apabila air menjadi asin, maka air tersebut tidak bisa dikonsumsi oleh manusia karena memiliki kadar garam yang sangat tinggi. Air yang tidak bisa dikonsumsi tidak hanya air asin, tetapi juga air yang memiliki zat terlarut bahan apapun apabila konsentrasinya terlalu tinggi akan menjadi racun.

Adapun bencana kekeringan sebagaimana telah digambarkan Allah s.w.t. dalam surat al-Hadid: 20 Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia Ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta saling berbangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia Ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Kemudian pada surat yang lain yaitu surat Yusuf ayat 46-49 yang berbunyi:  (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): "Yusuf, Hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya." Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur."

Demikianlah gambaran bencana-bencana yang ditimbulkan oleh terganggunya ekosistem air. Oleh sebab itu, seyogianya bagi umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya sebagai “khalifah” di muka bumi ini untuk merawat, menjaga dan memelihara air yang merupakan sumber daya terbatas untuk kepentingan kemaslahatan makhluk di muka bumi ini khususnya umat manusia. Pergunakan dan manfaatkan air dengan cara yang bijak dan tidak berlebihan termasuk untuk kepentingan beribadah seperti berwudhu’ dan mandi besar. Itulah bentuk syukur kita sebagai umat manusia dan khususnya umat Islam atas anugerah air kepada kita. Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Penulis adalah dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan.