Semangat Literasi; Upaya Menggapai Kembali Peradaban Islam

ADMINPESANTREN Selasa, 1 Oktober 2019 06:36 WIB
147x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Santri Menulis

Oleh: Badrut Tamam*

Literasi merupakan satu daya untuk memahami isi teks tertulis, baik tersurat maupun tersirat, dan menggunakannya untuk mengembangkan pengetahuan dan potensi diri, serta kemampuan untuk menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosial. Melalui literasi (kemampuan membaca dan menulis), akan mengantarkan pada terbangunnya satu peradaban yang besar. Sejarah dunia di masa lampau telah menayangkan bukti kongkret atas keberhasilannya membangun peradaban berkat, antara lain, intensitasnya di dunia literasi.

Sebagai salah satu bukti bahwa literasi merupakan bagian dari pendongkrak yang cukup kuat bagi majunya suatu peradaban adalah hiasan panggung sejarah peradaban Islam di masa lampau. Utamanya pada abad pertengahan dinasti Abbasiyah. Hal itu bertepatan pada masa pemerintahan Khalifah Abdullah al-Makmun bin Harun al-Rasyid (813-833 M) sebagai khalifah ketujuh Bani Abbasiyah. Di mana upaya penulisan dan transliterasi menjadi salah satu perhatian utama oleh pemerintah, bahkan dibentuklah suatu badan yang secara khusus mewadahi proses literasi demi  mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan saat itu. Badan yang merupakan wadah literasi tersebut dikenal kemudian dengan Baitul Hikmah (Darul Hikmah) sebagai akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Sehingga, pada masa itulah banyak lahir ilmuwan-ilmuwan di beragam bidang; sains, tekhnologi, kedokteran, filsafat, dan lain sebagainya. Dikenallah masa itu dengan The Golden Age of Islam (masa keemasan Islam).

Seiring dengan masa itu, sebagaimana ditulis oleh Dr. Adian Husaini dalam bukunya yang bertajuk 10 Kuliah Agama Islam; Panduan Menjadi Cendikiawan Mulia dan Bahagia, dunia Barat yang berada dalam kondisi yang sangat kontras dengan kehidupan dunia Islam yang oleh orang Barat sendiri dideskripsikan sebagai masa kegelapan, tokoh-tokoh agama dan ilmuwan mereka banyak mempelajari karya-karya kaum Muslim dan Yahudi yang hidup nyaman dan damai dalam perlindungan masyarakat Muslim. Mereka juga menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Oleh sebab demikian, Barat kemudian menjadi menguasai ilmu pengetahuan modern, dikarenakan mereka telah berhasil mentrasfer dan mengembangkan sains dari para ilmuwan Muslim. Kebangkitan Barat tersebut dikenal dengan masa renaissance, masa kelahiran kembali masyarakat Barat. Kebangkitan mereka dapat kita saksikan hingga saat ini dengan segala kemajuannya dalam ilmu pengetahuan.

Islam yang sudah sekian lama menjadi adidaya, sejak saat itu, secara perlahan, diambil alih oleh Barat. Hingga saat ini pun masih dapat kita saksikan kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Hal itu terjadi, tidak lepas dari sebab pengabaian terhadap ilmu pengetahuan yang tidak luput dari proses literasi. Eksistensi pendidikan beserta soliditasnya, menjadi penentu maju-mundurnya suatu peradaban. Sebab, ia merupakan pilar kuat di bawah bangunan peradaban tersebut. Sebagian dari indikasi adanya keberlangsungan pendidikan adalah santernya tradisi dan budaya literasi (baca-tulis).

Adalah hal yang wajib dalam keberlangsungan proses pendidikan menyediakan waktu khusus untuk membaca, kemudian melestarikannya supaya terus menjadi kultur dan tradisi. Sebab, dengannya, antara lain, seseorang dapat menyerap pengetahuan. Melalui pengetahuan tersebut, ia akan menata dan merancang sebuah agenda besar sesuai bidang yang ia tekuni, dan yang lain pun mempraktekkan pengetahuannya sesuai bidangnya pula. Sehingga, dengan perlahan, kondisi dalam beragam aspek akan membaik dan semakin baik. Sekalipun membaca tidak melazimkan menulis, namun, menuliskan suatu yang diketahui dari hasil yang dia baca adalah juga merupakan suatu yang sangat krusial untuk kemudian dapat disalurkan pada generasi setelahnya.

Menulis tidak saja merupakan kemampuan dari seorang penulis, melainkan tersimpan pula dibaliknya grand desaign (rancangan besar) serta proyeksi masa depan yang demikian panjang demi terus terbangunnya peradaban. Betapa sebuah karya berupa tulisan memberikan pengaruh besar terhadap pembacanya. Imam al-Ghazali, misalkan. Karya beliau yang bertajuk Ihya’ Ulum al-Diin, mendapatkan respon dan memberikan pengaruh yang luar biasa kepada khalayak. Karya tersebut mampu mengubah pola pikir dan fakta sosial masyarakat dalam amaliyah yaumiyah (aktifitas sehari-hari) mereka. Degradasi masyarakat dalam spritualitas dan religiusitas di masanya, menjadikan Imam al-Ghazali gelisah dan kemudian menulis sebuah karya yang sangat monumental dan spektakuler tersebut. Dengan fakta tersebut, dapat kita lihat bahwa menulis adalah satu hal yang cukup urgen dalam upaya mengubah kondisi masyarakat pada yang lebih baik.

Namun begitu, menulis tidak bisa dilepaskan dari membaca. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Stephen King, penulis asal Amerika, membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis. Tanpa membaca, bahan tulisan akan terbatas dan tidak cukup kredibel. Dengannya pula, bisa menambah kemampuan intelektual yang kemudian akan dapat membantu kita untuk lebih tajam dalam menilai dan menganalisa satu problem yang hendak kita tuangkan solusinya dalam sebuah tulisan. Sebab, pengetahuan adalah kekuatan (knowledge is power), untuk menilai segala sesuatu. Semakin bertambah pengetahuan kita, semakin bertambah pula kemampuan kita dalam menilai dan menyikapi segala sesuatu.

Dengan demikian, membaca dan menulis atau yang juga dikenal dengan sebutan literasi adalah dua budaya yang sangat penting dan perlu dilestarikan. Kontinuitas budaya literasi dari satu generasi ke generasi selanjutnya, harus terus dipompa, agar upaya pembangunan peradaban terus berlanjut. Sebuah upaya perbaikan tanpa didasari sistem dan strategi yang baik, akan sulit untuk bisa menggapai perbaikan tersebut. Sementara sistem dan strategi yang baik hanya akan didapatkan dengan belajar. Sesuatu yang sudah baik (Haq) pun, sebagaimana dikatakan oleh Sayyidina Ali, yang tidak diatur dengan sistem, akan sirna karena dikalahkan oleh kebatilan yang tersistem. Apalagi hanya masih selevel upaya memperbaiki.

Begitulah, betapa pentingnya literasi. Peradaban Islam akan bangkit manakala semangat literasi umat Muslim kembali membara dan mengimplementasikannya dalam ranah sosial. Partisipasi santri, utamanya, sebagai manusia yang dianggap lebih mumpuni dalam ilmu keagamaan, diharapkan lebih dominan, supaya dapat menjalankannya dengan baik dan ikhlas tanpa culas; hanya demi kemajuan Islam dan umat Islam, bukan kepentingan kelompok tertentu apalagi pribadi. Wallahu a’lam bis shawab.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus Kasi. Perpustakaan Al-Majidiyah.