Pesantren dan Kemandiran Ekonomi Masyarakat Madura

ADMINPESANTREN Jumat, 4 Oktober 2019 07:22 WIB
396x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh: Henny Jufawny*

Masyarakat Madura mulai menjadi rebutan para pelaku usaha industri yang berbasis liberal, di antaranya adalah industri pariwisata dan tambak udang. Neoliberalisme yang mulai mengakar dalam masyarakat Madura sebenarnya merupakan dampak lanjutan dari ekonomi konglomerasi, yang menjadi kebijakan pemerintah Indonesia, sehingga membuat alur kesejahteraan hanya berputar-putar pada segelintir orang (kaum kapitalis). Sementara masyarakat yang tidak memiliki akses, terpaksa harus terpinggirkan dalam persaingan pasar bebas, yang kurang memberikan ruang bagi usaha mikro dan menengah untuk berkembang.

 

Masa depan (ekonomi) masyarakat Madura sepertinya akan dikendalikan oleh sekelompok orang, atau korporasi asing yang sudah mulai tampak menggejala di tempat-tempat tertentu. Semakin maraknya pasar modern (swalayan) yang dimiliki asing, bersamaan dengan redupnya pamor pasar tradisional yang menjadi basis ekonomi rakyat, merupakan salah satu bukti ke arah itu. Jembatan Suramadu semakin memudahkan aliran uang keluar, dan mempermanja investasi yang mengeksploitasi kekayaan alam masyarakat Madura.

 

Terlalu banyak hal yang tidak rasional yang dihadapi masyarakat Madura, terutama rakyat kecil dalam menjalankan usahanya. Sebagai lumbung garam, masyarakat Madura terpaksa harus selalu membeli garam impor  akibat kebijakan yang kurang bijak. Tak terhitung lahan tambak garam yang tergeletak sia-sia. Kebiasaan merantau dimanfaatkan oleh para pemilik modal untuk membeli lahan-lahan pertanian dan lahan produktif lainnya dengan harga yang murah. Orang-orang Madura dibiarkan lebih bangga menjadi TKI di luar negeri dan berdagang di rantau orang, daripada mengolah tanah sendiri.

 

Di tengah kepungan neoliberalisme yang memasung pergerakan ekonomi masyarakat Madura, pesantren memiliki peluang strategis untuk menjadi solusi alternatif. Budaya dan jejaring pesantren memiliki kekuatan orisinil untuk mengimbangi dominasi asing dalam perekonomian masyarakat Madura. Pesantren bisa tampil menjadi pengelola ekonomi berbasis rakyat yang bergerak dalam usaha ekonomi mikro semisal home industries, yang justru mampu bertahan dari berbagai goncangan krisis ekonomi.

 

Sumbangsih Pesantren

Pesantren memiliki sumbangsih yang sangat besar terhadap ekonomi masyarakat Madura, yang benar-benar berbasis kerakyatan, baik secara langsung maupun tidak. Banyak pesantren di Madura yang memiliki program keterampilan khusus bagi para santrinya, bahkan memiliki program pemberdayaan ekonomi untuk masyarakat, seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa pondok pesantren sebagai sarana meningkatkan taraf hidup dan berkehidupan yang layak.

 

Di pesantren-pesantren kecil, banyak para santri yang dibekerjakan atau diperintah untuk mengelola usaha yang dimiliki pesantren maupun kiai secara pribadi. Mulai usaha perdagangan, pertanian sampai pada pembangunan gedung pesantren dan rumah kiai. Hal ini akan menjadi nilai tambah (barokah), secara tidak langsung kepada para santri dalam mengembangkan potensi kewirausahaan dan bekal keterampilan hidup dalam menekuni pekerjaan tertentu ketika bergabung kembali dengan masyarakatnya. Terbukti, santri yang terbiasa bekerja di pesantren, selain mengaji dan belajar, lebih memiliki kreativitas hidup dan keluasan berwirausaha, dari pada santri yang hanya mengaji saja tanpa bekerja membantu pekerjaan pesantren dan kiai. Tentu ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

 

Belakangan ini, perkembangan pesantren sebagai lokomotif ekonomi kerakyatan semakin terbuka lebar dengan banyaknya pesantren yang mendirikan koperasi, mulai koperasi yang hanya terbatas di pesantren maupun koperasi yang basis massanya lebih luas,. Apalagi ditopang dengan sistem pengelolaan yang berbasis syariat dengan mengedepankan spirit ta’awun (tolong menolong), keberadaan koperasi pesantren, selain menjadi penyokong tegaknya kemandirian ekonomi masyarakat, juga pioner yang paling energik dalam meminimalisir meluasnya proyek ekonomi konglomerasi dan neoliberalisme kaum borjuis.

 

Oleh karena itu, pesantren harus mampu bergerak lebih cepat sebagai lembaga yang tidak hanya mendidik, tetapi juga membangun sistem ekonomi kerakyatan dan menolak hegemoni pasar bebas. Pesantren harus bisa mengambil peran penting dalam ekosistem masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) dan global, serta menjadi penyeimbang kebijakan pemerintah yang abai terhadap masa depan ekonomi rakyat. Apa yang sudah dilakukan dan diberikan pesantren merupakan sebuah modal besar untuk terus bergerak maju dalam menemani masyarakat Madura menuju kemandirian ekonomi.

 

Membaca Kekuatan Pesantren

Persaingan di masa mendatang akan semakin pelik dan terbuka. Para pelaku usaha dan indusri, baik perorangan, korporasi maupun negara, sudah mendapat ruang segar dengan masuknya pasar bebas sebagai laboratorium kapitalisme yang hampir dianut di semua negara di dunia. Tak terkecuali di Madura, geliat investasi asing, terutama pasca jembatan Suramadu, seolah mejadi urat nadi pertumbuhan (bukan perkembangan) ekonomi yang sangat digalakkan. Dari sinilah pesantren perlu kesiapan yang benar-benar matang, dengan mulai melakukan pengenalan terhadap kekuatan sendiri, sebelum membaca kekuatan lawan dan peta medan pertempuran.

 

Pertama, pangsa pasar. Pesantren adalah lembaga yang paling dekat dengan masyarakat karena pesantren memang muncul dari akar kebudayaan masyarakat. Kedekatan ini terjalin dalam sebuah ikatan emosional yang mendalam, sehingga dalam situasi tertentu akan membentuk “fanatisme pasar” yang kokoh dan (mohon maaf) agak irasional. Sederhananya, produk yang dikeluarkan dari pesantren akan lebih mudah dibeli masyarakat tanpa harus bertanya secarak kritis mengenai kualitas barang yang bersangkutan. Masyarakat akan lebih melihat pesantren dan kiainya daripada komoditas yang diperdagangkan.

 

Kedua, jaringan sosial. Pesantren memiliki jaringan yang sangat luas dan kompleks. Bukan hanya para santri dan walinya, para guru dan masyarakat sekitarnya, pesantren juga memiliki akses terhadap birokrasi, perusahaan dan berbagai tokoh-tokoh lain secara individual, sesuai kredibilitas kiai yang memegang puncak kepemimpinan di pesantren. Bahkan dalam hal ini, para alumni (santri lulus) memegang peranan yang tidak kecil dalam membangun jejaring pesantren yang lebih luas. Jaringan/koneksivitas termasuk rukun utama dalam kegiatan ekonomi, terutama dalam urusan marketing.

 

Ketiga, zakat dan infaq. Keduanya merupakan social capital yang akan memberikan manfaat besar bilamana dimanajemen dengan baik. Selama ini, belum ada lembaga yang berhasil secara maksimal mengelola zakat dan infaq sebagai modal ekonomi yang berbasis rakyat. Lembaga-lembaga yang ada hanya berfungsi sebagai penyalur yang dikemas dalam bentuk santunan. Pesantren bisa melakukan hal yang lebih, mengingat zakat dan infaq memiliki potensi yang besar di satu sisi, dan pesantren merupakan lembaga sosial yang rating kepercayaan publiknya sangat tinggi.

 

Ketiganya adalah kekuatan pesantren, selain kekuatan lain yang masih banyak dan menunggu waktu untuk digali dan dikembangkan, terkait dengan modal dalam membangun ekonomi kerakyatan. Salah satunya adalah budaya hidup sederhana para santri yang menjadi ciri khas pesantren. Hidup sederhana adalah cara baik dalam menjaga jarak dengan dunia dan menolak perilaku konsumtif. Sebaliknya, kecintaan terhadap terhadap dunia akan mendatangkan konsumtivisme yang akan disambut dengan meriah oleh kaum kapitalis. Sementara itu, kesederhanaan yang diajarkan pesantren, akan mengajarkan santri dan masyarakatnya tidak keluar dari lingkaran konsumerisme, sebagai bagian kegiatan ekonomi yang rasional.

*Penulis adalah santri alumni Muba tahun 2015. Perempuan biasa yang terbiasa dalam hal yang biasa-biasa saja. Tinggal di Sumenep.