Wanita dan Dinamika Kehidupannya

ADMINPESANTREN Selasa, 8 Oktober 2019 05:51 WIB
83x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri

Oleh: Atiqotul Maula*

Refleksi kepribadian seorang wanita tidak akan pernah tuntas pembahasannya. Mulai dari sisi positif hingga negatif yang tidak pernah luput dari perhatian orang kebanyakan. Hanya saja, ritme perjalanan hidup yang kian beraneka ragam, mestilah terus diupayakan agar menuai hasil yang diharapkan.

Wanita adalah makhluq yang diciptakan Allah sebagai zainud dunya atau perhiasan dunia. Sebab Seorang wanita memiliki keindahan serta daya tarik tersendiri dari pada makhluq lainnya. Tanpa berhias pun, wanita tetap disebut sebagai perhiasan lantaran dalam diri seorang wanita terdapat keniscayaan yang Allah berikan untuk memikat dan mengundang perhatian lawan jenisnya. Wanita secara utuh, termasuk pula suara khasnya, sejatinya menjadi corong fitnah bagi dirinya. Apalagi faktanya memang benar jika banyak sekali pria baik-baik yang malah terjerumus dan tergoda oleh pesona dari seorang wanita.

Islam telah memberikan jalan bagi wanita agar bisa menjaga dirinya dari fitnah dan menjauh dari perkara dosa yang sering kali tanpa ia sadari saat bersama dengan pria yang bukan muhrimnya. Islam juga mengajarkan kepada wanita untuk terhindar dari godaan syetan yang berusaha menenggelamkannya ke dalam kerusakan yang teramat parah. Apalagi dengan begitu dinamisnya zaman saat ini, semuanya menjadi serba praktis, wanita semakin mendapatkan cobaan dan tidak sedikit yang malah bersikap tak acuh dalam mengamalkan ajaran syariat. Wanita mulai hilang kendali dan pelan namun pasti melupakan apa yang seharusnya ia lakukan begitupula ia jauhi.

Di globalisasi era ini, banyak sekali wanita yang bekerja di luar rumah sebagai wanita karier. Walaupun pada dasarnya wanita tidak mempunyai kewajiban secara khusus untuk mencari nafkah, namun tidak salah jika wanita turut bekerja untuk membantu kesejahteraan rumah tangga. Sebab pada asalnya hukum segala sesuatu adalah ibahah, sebatas ia masih tetap meninggalkan perbuatan yang dilarang baginya dan mengerjakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan kepadanya. Selain itu, juga mampu mengklarifikasi tingkat perbandingan maslahat dan mafsadat dari setiap permasalahan yang bersifat dzanniyah, tidak pada qath’iyyah. Oleh sebab itulah, seorang wanita harus betul-betul memahami jalan kehidupannya sendiri agar terhindar dari jalan hidup yang justru malah menistakannya.

Sebab, menjadi wanita karir sangatlah rentan akan resiko. Terlebih dengan berbagai macam profesi yang menuntut kontak langsung dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Apalagi tanpa ketebalan iman yang didasari akan taqwa kepada Allah, akan memudahkan syaitan sebagai musuh manusia yang nyata dalam menjerumuskannya ke dalam jurang maksiat tanpa disadarinya.

Wanita dan Realitas Kehidupan Dunia

Wanita tentunya mempunyai peranan yang penting dalam kemajuan umat dan peradaban dunia. المراة عماد البلا د اذا صلحت صلحت البلا د واذا فسدت فسدت البلا د.

Artinya : “Wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik maka Negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula”.

Terlepas dari maqalah di atas merupakan hadits atau bukan, dan lebih cenderung disepakati sebagai kalam hikmah dari seorang ulama saja, secara tidak langsung isyarat yang ada di dalamnya jelas ada benarnya. Wanita adalah citra dari sebuah negara, begitu pula duta negara. Maka tidak di aneh, jika ada pagelaran bergengsi untuk kaum wanita di seluruh dunia, seperti ajang Miss Universe, Miss World, World Miss University, dan World Muslimah yang baru-baru ini diprakarsai dan dipopulerkan oleh negara tercinta Bumi Pertiwi Indonesia.

Kendati ini adalah sebuah fakta dan realitanya jelas ada, wanita sangat dituntut untuk menjadikan dirinya sebagai pribadi yang sholehah profektif dan kreatif, serta mau berkontribusi penuh untuk kemajuan negaranya. Wanita mempunyai banyak sekali peran penting dalam kehidupan. Dalam wilayah yang cakupannya paling kecil seperti halnya keluarga, wanita dapat berperan sebagai istri, anak, maupun saudara, terlebih menjadi seorang ibu. Ibu yang bertugas melahirkan generasi berkompetensi bangsa ini. Menjadi wanita sholehah teruntuk suami tercinta dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Apalagi, seorang ibu mewariskan sifat-sifat kepada anaknya, baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Hal ini yang disebut sebagai faktor gen. Gen memberikan identitas pada seorang anak yang membedakannya dari anak yang lain. Senada dengan yang disebutkan dalam sebuah syair;

إذا طاب اصل المرء طابت فروعه # و من عجب جادت يد الشوك بالورد

“Jika pendahulunya adalah orang baik, baiklah pula keturunannya, maka sungguh menakjubkan jika sekuntum mawar tumbuh di tengah-tengah pohon yang berduri”

Wanita sebagai Madrasah Pertama

Wanita adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Dikatakan, “Ibu adalah madrasah pertama, jika ia menyiapkannya, maka dia telah menyiapkan generasi berkarakter baik, apabila ibu tumbuh dalam ketidaktahuan, maka anak-anaknya akan menyusu kebohongan dan keterbelakangan”.

Wanita merupakan tempat pendidikan pertama. Ibarat air dalam kehidupan dunia, peranan wanita sangatlah penting sebagai penentu baik buruknya seorang anak. Sebab wanitalah yang paling dekat dengan anak. Bahkan telah bersama dengannya dalam kurun waktu begitu lama sebelum terlahir ke alam dunia. Wanita dalam menjalankan peranan ibu telah begitu berjasa melahirkan dan menyusui anak-anaknya.

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Kemudian ayahmu.”

Dengan disebutkannya kata ‘ibu’ lebih sebanyak tiga kali, menunjukkan betapa berjasanya serta peranan penting seorang ibu dalam kehidupan umat manusia. Disebutkan pula, “Kesuksesan seseorang dilihat dari dua wanita, yaitu ibunya dan pendamping hidupnya”.

Wanita dan Pernak Pernik Teknologi

Kecanggihan teknologi saat ini sungguh memanjakan umat manusia dengan segala layanan yang serba praktis dan instan. Seperti halnya internet. Semua orang dapat mengetahui berbagai peristiwa dengan cepat di manapun kejadiannya. Selain itu, akses komunikasi menjadi sangat mudah tanpa mengenal batasan ruang dan waktu. Tidak perlu lagi untuk mengunjungi dan bertatap muka secara langsung dengan orang lain yang ingin kita hubungi.

Hal demikianlah yang banyak dilakukan oleh wanita-wanita saat ini dalam menjalin komunikasi dan menambah wawasan terkait dengan berbagai fenomena dan kejadian yang ada. Kecanggihan teknologi telah mempermudah mereka melakukan itu semua. Hanya saja, ada beberapa oknum wanita yang malah menyalahgunakannya. Memanfaatkan media yang ada dengan menampilkan beraneka macam ekspresi berlebihan untuk dipertontonkan di khalayak ramai.

Meski di samping itu, ada pula wanita yang menggunakannya dengan benar. Mencari sumber berita dan tulisan yang berguna untuk menambah wawasannya. Meninggalkan segala bentuk kejumudan dan tidak lagi disisihkan dengan labeling ketinggalan zaman. Terlebih difungsikan untuk kemaslahatan umat Islam dan menelaah prespektif orang-orang yang seakan malah membenci Islam. Maka dari itu, menjadi seorang wanita haruslah mampu membaca situasi dan kondisi yang terjadi. Itulah yang disebut wanita yang hebat.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata berasal dari Bangkalan.