Sains, Islam, dan Pesantren

ADMINPESANTREN Selasa, 15 Oktober 2019 06:47 WIB
575x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Santri Menulis

Oleh: Ans*

Perpaduan ketiga suku kata pada satu term pembahasan seperti halnya judul di atas, sudah mulai dulu diperbincangkan. Isu pemersatuan sains dan ilmu pengetahuan dengan ajaran agama selalu pincang dan memunculkan problem berkepanjangan. Bahkan pembicaraan tentang sains yang dikaitkan dengan dogma agama sudah muncul sebelum Islam lahir. Dikarenakan sains bersumber dari rahim filsafat, yang pada saat itu sangat bersentuhan dengan ajaran kristen dan otoritas gereja.

Beda wadah beda pula muatannya. Maka jika Islam berusaha mewadahi sains, hal itu tidaklah serupa di saat kristen yang menggandengnya. Sebab, sains yang dibuahi filsafat itu muncul sebagai bentuk trauma masyarakat Barat terhadap inkuisisi yang diterapkan oleh gereja katolik Roma. Sehingga, orang-orang membuang jauh-jauh keterikatan ilmu dan agama di setiap lini kehidupan mereka. Kejadian inilah pula yang menjadi cikal bakal terlahirnya radikalisme yang diproduksi oleh Barat.

Adapun sains dalam ruang lingkup Islam bukanlah menjadi ancaman terhadap eksistensi Islam itu sendiri. Melainkan Islam berusaha merangkul sains dan memaksimalkan fungsinya sebagai tolak ukur kemajuan tanpa harus melompati batasan syariah. Sains memang bukanlah perkara utama di dalam urusan agama, namun setidaknya agama mendapat peluang bangkit dengan kemajuan sainsnya.

Namun pada kenyataannya, kesimpangsiuran dalam pandangan para pakar terhadap sains dan Islam muncul dan menghasilkan dua anggapan yang saling berseberangan satu sama lain. Anggapan ini sebenarnya didasari atas pertanyaan sederhana apakah Islam yang mendasari sains ataukah sains yang mendasari Islam? Dalam proyeksi inilah mereka yang teguh pendirian untuk mempertahankan sains dan Islam serta mereka yang meragukan kolaborasi sains dan Islam karena dianggap menjadi ancaman, sama-sama mengeluarkan argumentasinya.

Anggapan pertama mengisyaratkan betapa pentingnya umat Islam mempelajari sains. Buah pemikiran ini merupakan alih telaah terhadap kesuksesan bangsa Barat yang mampu bangkit setelah membuka kesempatan berpikirnya. Apalagi, kebangkitan Barat saat itu seiring dengan kemerosotan masyarakat Islam di Timur pasca ditinggalnya filsafat dan ilmu pengetahuan. Bahkan, lebih parahnya lagi, ada yang menyudutkan tasawuf dengan tuduhan provokasi pemahaman umat untuk berpaling dari kegiatan berpikir. Dari pada itu, demi meraih kejayaan untuk kedua kalinya, umat Islam disebut-sebut harus kembali berpikir serta merajut hubungan yang erat dengan sains dan ilmu pengetahuan.

Anggapan ini terus kuat seiring perjalanan zaman yang kian dinamis. Semakin banyak penemuan-penemuan ilmiah oleh para ilmuwan yang kemudian selaras dengan kandungan Quran dan ajaran syariat. Dari kecocokan inilah – entah itu kebetulan atau tidak – para saintis Islam semakin bergairah untuk mencari penemuan lainnya yang sesuai dengan kandungan Al-Quran. Usaha sedemikian rupa sejatinya diarahkan untuk meraih kembali kejayaan Islam serta memberikan pengertian bahwa Islam bukanlah kepercayaan jumud yang tidak mampu berkembang apalagi memberikan kontribusi dan perubahan.

Sayangnya, saat isu pengkolaborasian sains dan agama menjadi ramai di masyarakat luas, posisi sains tidak lagi dianggap sebagai media mencapai kejayaan Islam yang diimpikan, namun beralih menjadi pembenar terhadap keotentikan Al-Quran. Contoh kecil misalnya, dahulu dunia sempat geger dengan temuan Steven Hawkings yang mengkaji awal pembentukan alam semesta hingga menghasilkan teori Big Bang (ledakan dahsyat). Teori ini kemudian oleh sebagian orang dikaitkan dengan surah al-Anbiya’ ayat 30 yang mengisyaratkan hal serupa. Lantas asumsi yang berkembang menyatakan bahwa surah al-Anbiya’ ayat 30 terbukti benar dengan ditemukannya teori Big Bang oleh Steven Hawkings. Bukan malah dinyatakan bahwa teori Big Bang terbukti benar karena telah dijelaskan lebih dahulu di surah Al-Anbiya ayat 30.

Pernyataan serupa di atas jelas akan memberikan kesimpulan bahwa al-Quran selaku wahyu masih membutuhkan pembenaran. Padahal al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia secara mutlak tidak mungkin keliru apalagi harus dibenarkan dengan teori ciptaan akal manusia yang sering kali berhenti di saat mencapai batasnya. Lantas bagaimana jika seandainya sebuah teori muncul dan sayangnya bertentangan dengan isi al-Quran, sehingga harus divonis bersalah demi mengagungkan teori seorang ilmuwan kenamaan. Apabila hal yang mengkhawatirkan ini benar terjadi, pada saat itulah kitab suci tidak lagi berharga dan rendah dibanding kekuasaan akal.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, juga kekhawatiran terhadap pola pikir manusia yang selalu mengunggulkan rasio dan bukti nyata sehingga mengesampingkan hal yang sifatnya abstrak meskipun telah jelas bahwa itu substansinya, para agamawan Islam lantas memunculkan pernyataan untuk tidak lagi mengkaitkan segala teori ilmiah sekaligus penemuannya dengan isi kandungan al-Quran yang selama-lamanya benar tanpa butuh pembenar. Dengan itu, selaras ataupun tidak teori dan temuan ilmiah dengan kandungan al-Quran, itu semua hanyalah kebetulan semata yang menjadi proyeksi keabsahan sebuah penemuan manusia. Selamanya agama akan selalu benar meskipun semisal bertentangan dengan analisa berpikir seseorang.

Kunci perwujudan guna mempersatukan Islam dan sains adalah dengan mengumpulkannya “kembali” dalam satu wadah di mana pesantren dapat mengambil bagian untuk hal ini. Sebab, pesantren merupakan basis pertahanan ilmu keislaman terakhir –terlebih di Indonesia- dengan mengesampingkan beberapa perguruan tinggi yang telah banyak disisipi pemikiran-pemikiran liberal. Hanya saja, pesantren perlu berinovasi untuk mampu memadukan Islam dengan sains sehingga memunculkan suatu istilah berkenaan “Sains yang ramah tuhan”. Bukan mengkaji sains yang dikira bertentangan dan mengancam, namun sains yang bisa menyokong apalagi memberikan suplai kebangkitan.

Pada saat itulah, akan bermunculan santri-santri sekelas ibnu Sina dengan kedokterannya, al-Khawarizmi dengan matematikanya, Ibnu Haitam dengan serangkaian optiknya, dan saintis muslim kawakan lainnya di era mendatang. Formulasinya cukuplah sederhana. Tidak harus dititik beratkan dengan sains ala barat yang “dikira mengundang ancaman”, namun mereview pola pikir sains di masa silam dengan metode pengkajian al-Quran. Istilah sederhananya adalah mengkaji alam dengan al-Quran, membaca alam dengan al-Quran, dan mengenal alam dengan al-Quran. Ada sekitar 800 ayat kauniyah sebagai materi dasar guna mencetak santri ilmuwan penghafal al-Quran.

Dari itulah, terasa apik dan menggiurkan kiranya untuk kembali menemukan titik kepastian akan hubungan agama dan sains. Apalagi sudah dioptimalkan dengan metodik al-Quran sebagaimana kajian Ibnu Sina serta ilmuwan muslim lainnya. Pada kesempatan yang sama pula, pesantren sebagai sentral pendidikan Islam mulai menelaah dan mengkaji hal itu hingga menemukan solusi akan keterikatan Islam dan sains yang benar dan tidak lagi menuai masalah. Maka dimulailah gagasan untuk memadukan sains, Islam dan pesantren dengan terbitan awal  yang disebut Pesantren Sains (TrenSains). Pesantren yang berusaha mencetak saintis yang “bersahabat” dengan Islam, bukan malah berusaha “menyingkirkan” Islam. Dengan adanya TrenSains ini, diharapkan mampu mengantarkan Islam guna mewujudkan kesejahteraan umatnya. Wallahu a'lam bis shawab.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, kelahiran Tamberu Agung Batu Marmar Pamekasan.