Setia, Konsep Sehat yang Bermartabat

ADMINPESANTREN Jumat, 18 Oktober 2019 05:52 WIB
422x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh: Masluhah Jusli*

Setiap sakit pasti ada obatnya, begitulah konsep yang disuguhkan alam pada kita. Hukum sebab-akibat, dimana kita sendiri yang telah diberikan pilihan oleh Allah swt untuk menjadi sehat atau sakit. Jika kita tidak mau memberlakukan perilaku hidup sehat, otomatis kita sendirilah yang telah memilih untuk menjadi manusia yang berpenyakit. Jadi, kita semestinya tidak berhak berprotes jikalau kita dalam keadaan sakit karena secara tidak sadar, kita sendirilah yang memilih untuk bergelut dalam penyakit tersebut.

Ada begitu banyak konsep perilaku hidup sehat yang telah lumrah kita ketahui, seperti halnya menjaga kebersihan, olahraga yang teratur serta menjaga pola makan. Selain yang telah dipaparkan barusan, ada satu konsep hidup sehat yang mungkin sudah akrab di sebagian orang atau bahkan malah belum pernah kita dengar sama sekali. “Setia”, suatu konsep menyongsong hidup sehat yang bermartabat. Mungkin akan terkesan sedikit aneh namun begitu sulit untuk diterapkan terlebih di zaman yang menuhankan modernisasi barat yang telah lumrah dengan budaya seks bebasnya.

Jika ada yang mau protes bahwa di dalam agama Islam pun  ada istilah poligami yang tentunya lebih dari satu pasangan. Kita coba lihat dulu sebelum mengecam buruk agama mulia ini. Dalam Islam memang ada poligami tapi hal tersebut berlaku dalam suatu hubungan yang sah secara agama bukan seperti perilaku seks yang sudah seperti hewan dan bahkan tidak diketahui benih siapa yanag tertanam di dalam rahim sang ibu.

Budaya seks bebas yang sekarang sudah dianggap sebagai hal yang lumrah ini tanpa kita sadari ibarat bakteri dan virus yang bisa menular dan membunuh siapa saja yang sudah terjangkit di dalamnya. Berikut ini beberapa pengaruh seks bebas, yaitu :

1. Aspek Fisik

a. AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome)

Penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) . Virus ini menyerang dan mengganggu fungsi kekebalan tubuh manusia, sehingga akan sangat mudah terserang penyakit. Cara penularannya yaitu melalui hubungan seksual, jarum suntik yang digunakan berulang kali, tranfusi darah serta melalui ASI (air susu ibu). Meski butuh waktu sekitar 5-10 tahun untuk tergolong ke dalam penyakit AIDS, tapi virus HIV ini cukup berbahaya karena bisa menyebabkan kematian meskipun tanda-tanda awalnya hanya berupa gangguan pernafasan dan pencernaan. Dimana telah kita ketahui baru-baru ini sempat diberitakan bahwa satu keluarga terjangkit penyakit AIDS sampai ke anak-anaknya yang masih kecil.

b. Gonorhoe (kencing Nanah)

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dengan nama ilmiah Neisseria Gonorrheae di mana biasanya muncul setelah 2-10 hari pasca hubungan seksual. Penyakit ini juga merupakan salah satu penyakit menular seksual yang bisa ditularkan melalui hubungan seksual.

c. Syphylis (Raja Singa)

Sifilis atau yang kita kenal dengan sebutan raja singa ini disebabkan oleh bakteri Troponema Palladium dengan gejala seperti luka yang menonjol, bintil atau bercak merah yang muncul di daerah kelamin. Gejala penyakit ini biasanya muncul sekitar 2-6 minggu setelah melakukan hubungan seksual. Seperti halnya AIDS dan Gonorhoe, penyakit ini juga ditularkan melalui hubungan seksual atau dari ibu penderita penyakit sifilis kepada anaknya.

d. Kutil kelamin (jegger ayam)

Penyakit menular seksual yang satu ini disebabkan oleh terinfeksinya virus HPV (Human Papilloma Virus). Penyakit ini ditularkan dengan cara hubungan seksual. Kutil kelamin ini bisa muncul dan tumbuh di bagian luar alat kelamin, anus maupun di dalam vagina. Virus ini sulit dihilangkan secara utuh karena bersifat kambuhan. Jadi meskipun sudah pernah dioperasi suatu waktu bisa saja tumbuh lagi. Penyakit ini bisa sangat berakibat fatal karena dapat menyebabkan penyakit kanker leher rahim ataupun kanker penis.

2. Aspek Psikis

Kondisi fisik seseorang akan berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya, begitupun sebaliknya. Korelasi yang sangat signifikan ini bisa kita temui dalam beberapa kasus. Seseorang yang kondisi fisiknya lemah dan sakit-sakitan akan sangat mudah mengalami gangguan mental terlebih jika orang tersebut tidak bisa menerima kondisinya yang sekarang. Kemungkinan seseorang tersebut menderita gangguan mental adalah cukup besar, seperti halnya stress, depresi, hysteria dan sebagainya.

Bukan hanya pada si penderita saja, akan tetapi pengaruh psikis seks bebas bagi orang yang sudah berkeluarga, kemungkinan juga akan menjangkit pasangannya serta anak-anaknya yang sering melihat konflik yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Hal tersebut bisa menjadi pemicu anak-anak akan melakukan hal yang serupa dengan apa yang dicontohkan oleh kedua orang tuanya di masa mendatang. Di mana anak-anak akan menganggap orang yang lebih dewasa darinya sebagi model yang bisa ia contoh, dan hal tersebut bisa sangat berakibat fatal pada perkembangannya. Bahkan anak-anak yang besar di keluarga yang broken home malah akan lebih beresiko memiliki kemampuan daya berpikir yang relatif rendah.

3. Aspek Sosial

Selain aspek fisik dan psikis, budaya seks bebas ini akan sangat mendapat kecaman buruk dari lingkungan sosialnya terlebih di daerah-daerah yang kental nuansa keberagamaannya. Sudah pasti akan ada semacam penolakan dan bahkan pengucilan terhadap hal tersebut. Orang-orang akan menjauh karena takut tertular penyakitnya atau karena budaya masyarakat umum telah mengecam bahwa seks bebas merupakan sebuah perilaku yang sangat hina dan tak bermartabat. Penolakan dari lingkungan sosial ini juga akan membawa dampak yang buruk bagi kondisi mentalnya. Begitulah aspek fisik, psikis, dan sosial yang saling memengaruhi satu sama lain.

Inilah konsep hidup sehat yang mudah dan bermartabat. Cukup dengan setia terhadap pasangan kita masing-masing, kita tidak hanya akan menolong diri kita sendiri, melainkan pasangan dan keturunan kita selanjutnya bahkan keluarga kita agar tidak mendapatkan perlakukan buruk dari hubungan sosial di lingkungan tempat kita tinggal.

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.