Pesantren dan Tantangan Modernitas

ADMINPESANTREN Selasa, 22 Oktober 2019 06:40 WIB
167x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh: Achmad Sajjad Ahsanul Abidin*

Melihat perkembangan dunia yang begitu cepat ini bagi banyak kalangan telah memunculkan respon dan pendapat yang beragam. Tidak terkecuali umat Islam. Perubahan-perubahan yang terus muncul belakangan ini di dalamnya menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek ekonomi hingga aspek nilai-nilai moral. Modernitas yang dipengaruhi abad industri, pesantren ikut bertanggung jawab terhadap terjadinya benturan-benturan peradaban atau keterlibatan negatif dari perkembangan dunia.

Dalam mengomentari tradisi dan kemodernitas, dunia Islam memiliki respon yang beragam. Terlebih dalam berbagai ilmu wataknya para pemikir Islam memiliki kekayaan perdekatan maupun metode yang digunakan. Dalam hal ini sedikitnya ada watak para pemikir Islam kontemporer dalam merespon tradisi dan kemodernan penyusunan.

Pesantren menempatkan ilmuan bukan sebagai ideologi tertutup. Ilmi-ilmu pesantren dengan meminjam kategorisasinya bersifat terbuka dalam memperlakukan fakta berangkat dari fakta sosial. Dua kategorisasi inilah yang membedakan dengan karakteristik ideologi.

Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Dengan menyediakan kurikulum berbasis agama, pesantren diharapkan mampu melahirkan alumni yang kelak menjadi figur agamawan yang menjadikan tangguh dan mampu  memainkan dan membisakan peran propetiknya pada masyarakat secara umum. Artinya proses mempercepat kesiap siagaan vertikal dengan penjejalan materi-materi keagamaan menjadi prioritas dalam pendidikan pesantren.

Pesantren juga memperkuat basis intelektualnya seiring dengan perubahan zaman. Di antaranya perubahan citra pesantren yang kumuh dan uncivilized tidak ditopang dengan perubahan citra kualitas santri dididik di pesantren. Juga upaya perubahan kemampuan dan skill kualitas santri menjadi prioritas, di antaranya dengan pemantapan kemampuan bahasa, bukan hanya bahasa Arab yang menjadi persyaratan mutlak, melainkan juga bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Bahasa Indonesia menjadi penting karena dengan bahasa Indonesia para santri bisa mengomunikasikan gagasannya di tingkat regional maupun nasional. Sedangkan bahasa Arab dan Inggris penting digeluti agar para santri bisa mengomunikasikan gagasannya melintasi batas–batas budayanya.

Di samping menimba ilmu dari wilayah yang memiliki karakter budaya yang berbeda. Dengan modal bahasa inilah pesantren masa depan bisa kian melebarkan kerjasamanya. Tidak saja pada tingkat daerah dan nasional akan tetapi juga pada tingkat internasional.

Kontekstualisasi kitab kuning adalah identitas nyata dengan pesantren. Bahkan Kehadiran pesantren malah hendak meneruskan Islam tradisional sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab kuning tersebut. Dalam tradisi pesantren, kitab kuning dianggap sebagai kitab standar dan referensi baku dalam disiplin keilmuan Islam, baik dalam bidang syari ‘ah, akidah, tasawuf, sejarah dan akhlak.

Sering perkembangan zaman, kebutuhan yang berbeda pula. Pesantren tidak ketinggalan dalam hal ini. Pengembangan pengajaran adalah satu bukti bahwa pesantren mampu mengembangkan diri. Pesantren dengan identik tempat pembelajaran klasik dan tradisional, sedikit demi sedikit banyak pesantren yang mampu menghadirkan orang yang berpikiran tinggi di dalamnya dengan membuka perguruan tinggi.

Dalam perjalananya,seiring dengan diperkenalkannya sistem secara bersama, pesatren mulai menerapkan sistem pendidikan berjenjang dengan sistem evaluasi berjenjang  pula. Pesantrenpun mendirikan madrasah-madrsah yang tidak lagi memfokuskan pada pengetahuan agama, tetapi juga pengetahuan umum.

Kehadiran sistem secara bersama meraibkan tradisi kembara yang begitu signifikan dalam pemantapan keilmuan para santri. Dalam tradisi lama, para santri mendalami sebuah disiplin ilmu keilmuan langsung kepada kyai di sebuah pesantren yang dikenal ahli di bidangnya. Namun dengan hadirnya sistem madrasah, para santri dituntut untuk sekuat tenaga belajar di pesantren tertentu hingga jenjang itu usai dilalui.

Beragam metode pengajaran ini akan efektif apabila dipraktikkan secara bersama dengan mengesampingkan sisi-sisi kekurangannya. Artinya, model sorogan, wetonan, hafalan dan diskusi hendaknya dipadukan dalam sistem pengajaran kitab kuning di pesantren. Dengan maksud, adakalanya materi-materi harus dengan metode ini, ada juga dengan metode lain atau dengan memadukan agar mencapai hasil yang maksimal.

Selama ini pesantren sering kali diidentikkan dengan tempat pembelajaran klasik dan tradisional. Anggapan ini banyak disandarkan pada pola pengajaran, model pengelolaan dan peralatan yang digunakan dan masih sangat sederhana.

Pada perkembangan selanjutnya, sebagai tempat pendidikan, pesantren mendapatkan saingan dari tempat pendidikan lain seperti sekolah-sekolah atau madrasah-madrasah (modern). Tanpa disadari, telah memaksa pesantren melakukan perombakan model pengajaran sebagaimana  dilaksanakan  selama  ini.   Pesantren  kemudian  juga mengembangkan model pengajaran klasikal yang kerap disebut diniiyah awwaliyah.

Fenomena penting dalam sejarah perjalanan pesantren adalah proses terbukanya pesantren untuk terlibat dengan kelompok lain. Dalam perjalanan sejarah pesantren dituntut untuk terus berbenah dan membuka diri dalam mengawali perubahan. Bahkan hingga akhirnya pesantren mampu mendirikan lembaga-lembaga formal sampai perguruan tinggi.

Selain itu, keterbukaan pesantren untuk menerima kebijaksanaan pemerintah melalui departemen agama merupakan kemajuan dan sekaligus merupakan wujud keterbukaan pesantren akan desakan realitas di luarnya. Melalui departemen agama, upaya sinegitas keilmuan-keilmuan agama maupun umum di lembaga-lembaga pendidikan termasuk pesantren dilakukan. Di lembaga umum pendidikan agama dilakukan, maka di lembaga-lembaga agama semisal pesantren pendidikan umumpun juga dilakukan.

Dari latar belakang historis dan nilai-nilai yang berkembang di pesantren sebagaimana telah disebutkan di atas kemudian memunculkan watak kemandirian pesantren baik dari fungsi utamanya sebagai lembaga pendidikan Islam, maupun dalam fungsi sosialnya sebagai sebuah bagian. Globalisasi meniscayakan terjadinya perubahan di segala aspek kehidupan, termasuk perubahan orientasi, persepsi dan tingkat selektifitas masyarakat Indonesia terhadap pendidikan.

* Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, kelas 11IPA 1