Perayaan Maulid Nabi dan Pendidikan Karakter

ADMINPESANTREN Jumat, 8 November 2019 06:04 WIB
609x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh: Ali Ridho*

Makna Pelaksanaan Maulid Nabi

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh hormat kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 53).

Allah SWT bersalawat artinya Dia memberi rahmat kepada Nabi SAW. Malaikat bersalawat artinya memintakan ampunan kepada Allah SWT untuknya. Orang-orang mukmin bersalawat artinya mereka berdoa kepada Allah SWT supaya diberi rahmat untuknya. Hal ini menunjukkan bahwa shalawat merupakan sebuah perintah Allah SWT yang ditunjukkan dengan pemberian Rahmat-Nya kepada sang Rasul. Perintah Allah SWT ini juga menunjukkan keumuman waktu, dan tempat untuk bersalawat, demikian juga redaksinya. Di mana saja, kapan saja, dalam hal apa saja kita pantas bersalawat dan salam. Di rumah, perjalanan, masjid atau kantor. Ketika berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring, dalam keadaan senang atau susah, dalam shalat atau luar shalat, individu atau kolektif, terorganisir atau tidak.

Sebagian besar masyarakat melaksanakannya dengan penuh suka cita, bahkan dalam perspektif mereka “apalagi punya uang, tidak punya pun maka akan berhutang demi ikut serta melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW” sehingga pelaksanaannya membutuhkan jangka waktu yang sangat lama dan padat setiap harinya karena berganti-ganti tempat, jadi setiap hari bisa tiga sampai empat kali pelaksanaan dengan berpindah pindah rumah. Bahkan muncul sebuah istilah (Madura.red) “mun bulen molod pas notop dhepor” kalau sudah sampai musim perayaan Maulid Nabi maka dapur akan tutup. Dalam arti padatnya pelaksanaan Maulid Nabi akan berdampak pada aktivitas dapur rumah tangga, karena para undangan diberi berkat (semacam oleh-oleh, biasanya berbentuk kotak yang berisi nasi lengkap dengan kuenya).

Manfaat Perayaan Maulid Nabi SAW

Perayaan Maulid Nabi SAW menjadi rutinitas yang masyarakat laksanakan dengan penuh suka cita. Mereka berkeyakinan bahwa merayakan Maulid Nabi mengandung beberapa manfaat selain syafaat yang mereka harapkan dari sang baginda, yaitu di antaranya:

1. Jalinan tali silaturahmi

Dalam perayaan Maulid Nabi, penyelenggara mengundang sanak keluarga dan tetangga untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kebersamaan juga diwujudkan dengan saling salam-salaman dan ramah-tamah merupakan wujud terjalinnya tali silaturahmi antar sanak keluarga maupun tetangga. Silaturahmi merupakan hal yang sangat baik dan diperintah oleh Nabi Muhammad sebagaimana sabdanya :

Barang siapa yang ingin dilapangkan rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”.[Muttafaqun ‘alaihi].

Dari hadits ini menjadi pegangan bagi masyarakat, bahwa merayakan Maulid Nabi malah akan dipermudah rejekinya oleh Allah SWT karena ada unsur silaturahmi yang melekat pada pelaksanaan ini. Selain hal tersebut, momentum berkumpulnya sanak keluarga dan tetangga menjadi kesempatan baik untuk bersalawat bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan sebagaimana Rasulullah SAW lakukan yang disampaikan oleh penceramah serta yang pasti banyak menyimak ayat-ayat dan riwayat yang tersampaikan dapat menyucikan hati.

2. Mengulas sejarah tentang sang Rasul

Dalam perayaan Maulid Nabi, terdapat kegiatan-kegiatan lain selain pembacaan shalawat Nabi, seperti doa-doa harapan agar diakui sebagai umatnya, juga terdapat ceramah yang di dalamnya diulas tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, mulai semenjak lahir, remaja, masa-masa kenabian dan sampai meninggalnya Nabi Muhammad SAW.

Ulasan sejarah tentang kehidupan Rasulullah menjadi penyemangat, motivasi bagi diri untuk meneladaninya, mengingat kembali Rasul yang akan menambah kecintaan kepadanya, menjalani kehidupan dengan penuh optimis serta yang paling penting adalah menguatkan keimanan terhadap beliau.

Para hadirin semua menyimak dengan baik apa yang disampaikan sang penceramah, mencoba menghadirkan sang Rasul dalam kehidupan sehari-hari, dari sikap dan sifat secara tuntas disampaikan. Jadi walaupun berada dalam kehidupan saat ini (jauh dari kehidupan sang Rasul dari segi masa) namun serasa beliau selalu hadir dalam keseharian menjadi panutan yang baik bagi semuanya.

Pendidikan Karakter dalam Perayaan Maulid Nabi SAW

Perayaan Maulid Nabi SAW menjadi sarana untuk menanamkan nilai karakter dengan uswahnya Nabi SAW bagi diri sendiri maupun lingkungan yang diaktualisasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Terutama anak-anak tidak akan pernah mengidolakan seseorang selain sang Rasul disebabkan sudah tertanam dalam dirinya nilai-nilai kenabian, dan pelaksanaan perayaan Maulid Nabilah salah satu caranya.

Pendidikan karakter sendiri adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Allah SWT, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah misalnya, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh peserta didik dan lingkungan pendidikan.

Perayaan Maulid Nabi SAW akan mendidik para keluarga dan lebih-lebih anak-anaknya agar memiliki karakter atau akhlak yang mulia. Hal ini sangat mereka rasakan karena pendidikan karakter atau akhlak tidak cukup dilakukan dengan kurikulum dan atau bahan ajar, melainkan harus melalui kehidupan nyata sehari-hari. Betapa banyak orang yang sebenarnya telah tahu tentang kebaikan, tetapi ternyata tidak mampu menjalankan kebaikan itu. Mereka gagal menjalankan kebaikan oleh karena tidak ada contoh atau teladan dan bahkan kebiasaan yang dijalankan.

Untuk membangun dan melengkapi nilai-nilai yang telah dimiliki anak agar berkembang sebagaimana nilai-nilai tersebut juga hidup dalam masyarakat, serta agar anak mampu merefleksikan, peka, dan menerapkan nilai-nilai tersebut, maka pendidikan karakter tidak bisa berjalan sendirian. Dalam kasus di Inggris, review penelitian tentang pengajaran nilai-nilai selama dekade 1990-an memperlihatkan bahwa pendidikan karakter yang diusung dengan kajian nilai-nilai dilakukan dengan program lintas kurikulum. Halstead dan Taylor (2000: 170-173)

Perayaan Maulid Nabi memenuhi unsur dimaksud, karena silaturahmi, pengulasan sejarah kehidupan Nabi, kebersamaan, motivasi, refleksi, dan kegiatan lainnya sangat mendukung terhadap penanaman akhlakul karimah. Betapa banyak orang pintar dan telah mengerti apa yang seharusnya dijalankan, akan tetapi sehari-hari perbuatannya masih jauh dari apa yang diketahui dan bahkan dibicarakan. Orang tidak selalu menjalankan apa yang diketahui, dimengerti, dan bahkan juga diyakininya. Betapa banyak pejabat yang paham tentang detail-detail korupsi, tetapi toh masih juga melakukannya. Para koruptor jangan dikira tidak tahu resiko dan akibat negatifnya, melainkan oleh karena mereka tidak mampu menjauhkan diri dari tindakan yang menyengsarakan itu.

Kalau kita mencoba mengilustrasikan tentang manfaat peringatan maulid, termasuk terhadap pendidikan karakter bagi anak-anak sendiri. Ketika di rumahnya diselenggarakan peringatan Maulid Nabi SAW, keluarga dan anak-anaknya diingatkan kembali tentang sosok manusia ideal utusan Allah. Tatkala mereka mengundang tetangganya untuk makan bersama dalam acara maulid itu, keluarga dan anak-anaknya terlibat mulai dari mempersiapkan undangan, menata tempat acara, memberi konsumsi, menghormat tamu, menjalin silaturahmi, bersedekah, hingga keluarga itu akan mendapatkan kebanggaan dari kehadiran para tamu itu sendiri. Semua itu, adalah proses pendidikan Islam yang luar biasa besar manfaatnya bagi anak-anak.

Pada kegiatan acara itu, keluarga dan anak-anak mereka secara langsung ditunjukkan tentang keharusan bagi seorang muslim berbagi makanan dengan tetangga, menghormati tamu, bergembira bersama, dan seterusnya. Selanjutnya, lewat kegiatan itu pula, maka semua keluarga akan merasa mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari semua yang hadir. Peristiwa itu adalah sangat penting untuk membangun kepribadian atau akhlakul karimah.

Maka, dengan ulasan di atas semakin jelas bahwa peringatan Maulid Nabi bukan hanya menjalankan sebuah tradisi yang baik dengan nilai-nilai keislaman yang banyak terkandung di dalamnya, namun juga bagaimana perayaan Maulid Nabi ini dapat menjadi wahana untuk menanamkan pendidikan karakter terutama bagi anak-anak, keluarga, kerabat dan tetangga. Allahumma Sholli ‘alaa Sayyidina Muhammad.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata tahun 2004, sekaligus Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam al-Khairat Pamekasan.