Akidah yang Mudah, Akidah Kita

ADMINPESANTREN Ahad, 10 November 2019 20:51 WIB
143x ditampilkan Galeri Headline Resensi Karya Santri

Oleh : Moh. Makinun Amien*

Judul                : Sunni & Wahabi (Dialog Ilmiah Seputar Amaliyah Ahlusunnah wal Jama’ah)

Penulis             : H. Luthfi Bashori

Penerbit           : Pustaka Muba

Tahun Terbit    : Januari, 2019

Tebal               : 358 Hlm

“Wali songo berdakwah mengislamkan Indonesia dari kekafiran animisme, dinamisme, Hindu dan Budha sehingga masyarakat Indonesia menjadi muslim terbesar di Dunia.” (Halaman: 90)

Begitu kutipan dari tulisan K.H. Luthfi Bashori dalam salah satu anak judul yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Sunni & Wahabi  (Dialog Ilmiah Seputar Amaliyah Ahlusunnah wal Jama’ah) “Mestinya Arif Menyikapi Perbedaan Furuiyah”. Buku ini merupakan kumpulan artikel-artikel pilihan yang diambil dari www.pejuangislam.com dan sengaja dikemas dengan bentuk prolog dan dialog, agar mudah dipahami bagi masyarakat umum. Buku ini menyoroti banyak hal, terutama dalam permasalahan aqidah. Hingga sekarangpun mungkin masih asyik diperbincangkan, berdebat masalah bid’ah yang berujung saling tuduh menuduh, murtad dan menjadi kafir. Gara-gara Tahlilan, Mauludan, Talqin mayyit, ziarah kubur, dan amalan keseharian lainnya.

K.H. Luthfi Bashori merupakan titisan Sunan Giri. Secara nasab beliau terlahir dari keluarga yang memang teguh dalam memperjuangkan Islam dari masa ke masa. Beliau lahir pada tanggal 5 Juli 1965 di Singosari. Dari orang tua KH. M Bashori Alwi dan Qomariyah binti Abdul Hamid. Status dan nasab keilmuan beliau jelas, semenjak umur 18 Tahun K.H. Luthfi Bashori mendapatkan kesempatan berharga untuk melanjutkan pendidikannya di Haramain (Makkah dan Madinah) selama 8 tahun. Sejak 1983-1986 beliau menetap di Madinah kemudian pada tahun 1987-1991 pindah ke Makkah dalam bimbingan ulama’ masyhur dan kharismatik, Rahimahullah As-Sayyid Muhammad Alwi Al Maliki Al Hasani.

Buku ini hadir untuk membantah tuduhan murtad dan kafir kepada kaum Aswaja yakni Sunni Syafi’i yang melaksanakan ibadah amaliyah ahlusunnah wal jama’ah seperti yang diajarkan para Wali Songo. Selain itu juga dijelaskan egoisme Wahabi yang tidak mau mengalah dalam perbedaan selalu dimunculkan dari setiap sub judul yang ditulis, merasa dirinya paling benar dan semua yang tidak sepaham dengannya salah. Yang kemudian jurus ampuh yang berbunyi ”Kullu Bid’atin Dhalalah” sering digaungkan di setiap majlis-majlis, dan forum-forum yang memang diselenggarakan oleh kelompoknya.

Mestinya harus arif menyikapi perbedaan furu’iyah, apalagi kita hidup di Negara Indonesia yang memang menghargai perbedaan, dan menjunjung tinggi persatuan. Dalam satu baris Bhinneka Tunggal Ika yang menaungi perbedaan antar agama, suku, ras, dan budaya atas nama Indonesia tercinta. Apalagi sesama umat Islamnya, serasa tidak adil dan kurang masuk akal, jika sampai saat ini kita masih bertengkar dengan Islam yang terkotak-kotak, terpetak-petak, dan yang lebih disayangkan kelompok tersebut masih sibuk berdebat untuk melegitimasi kelompoknya agar dikatakan sebagai Islam yang benar.

Tersebarnya Islam di Indonesia sendiri kita menyepakati bahwa hasil ikhtiyar dari para Wali Songo yang menyebar di beberapa titik di Nusantara, diawali dari Jawa. Meskipun pada sebelumnya ajaran Islam sudah ada, tapi tidak sepesat pergerakan dakwah para Wali Songo yang menurut perkiraan dibentuk pada pertengahan dasawarsa 1470-an. Ini merupakan fakta sejarah yang perlu dicamkan bagi mereka yang mengira Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun1803 M, yang dilakukan oleh tiga orang haji asal Sumatera Barat, yaitu; Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piabang Pembawa ajaran Wahabi ke Nusantara.

Dari sinilah, Islam Indonesia secara sosiokultural-religius dapat melahirkan budaya baru yang disebut peradaban dan budaya Islam Nusantara. Bagi yang ingin memahami aqidah Aswaja dengan mudah dan cepat, buku ini sangat direkomendasikan dengan beberapa keunggulan dibandingkan buku aqidah lainnya.

Keunggulan

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, renyah, mudah dibaca dan dipahami oleh semua kalangan termasuk masyarakat pelosok pedesaan. Tidak seperti kebanyakan buku aqidah umumnya. Selain memang kemasan dalam penulisannya yang berbentuk prolog dan dialog, seolah mengajak pembaca berdiskusi ringan dari sebuah amaliyah sehari-hari yang dipermasalahkan. Sehingga terbangunlah kerangka berpikir sederhana dan mendasar dari aqidah Aswaja yang sebelumnya kurang dipahami secara utuh.

Tulisan inipun juga disisipi contoh-contoh yang pas dan mengena sesuai dengan kondisi saat ini. Contoh yang ditulis diuraikan menggunakan pendekatan cerita atau hikayah yang bersumber dari kitab-kitab mu’tabarah. Sehingga masyarakat Aswaja dapat terbentengi aqidahnya setelah mempelajari buku ini secara seksama.

Kekurangan

Pertama kali saya melihat buku ini di atas tumpukan kardus, beberapa diikat mengggunakan tali rafia. Merasa penasaran dengan buku baru, saya mendekat dan mengambilnya satu dari ikatan yang mulai berantakan itu. Bagi saya desain cover buku ini mengilustrasikan sebuah pergolakan pemikiran Islam yang sangat berat tentang akidah Aswaja vs Wahabi. Awalnya pun merasa ragu, orang seperti saya bisa memahami buku seberat ini. Serasa tidak mudah saya pahami kecuali saya baca berulang kali buku setebal 358 halaman ini sambil mengernyitkan dahi.

Ternyata tidak yang seperti saya duga, isi buku ini sangat arif dan renyah. Bahasa dan tutur katanya bersahabat kepada semua para calon pembaca. Andai desain cover buku ini lebih ringan dan familiar, anggaplah foto K.H. Luthfi Bashori ada di cover depan dengan ilustrasi sebagai panglima Aswaja, bagi saya lebih menarik. Bisa pula desain lain yang lebih familiar dan membuat para calon pembaca tidak alergi dengan buku yang bisa dinikmati semua kalangan masyarakat ini. Selamat membaca!.

*Penulis adalah santri aktif Ponpes Muba Berasal dari Talango Sumenep sekaligus Pimpinan Redaksi Majalah New Fatwa.