Maulid, Momentum Kesadaran Ukhuwah Umat

ADMINPESANTREN Selasa, 12 November 2019 10:17 WIB
294x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

 

 

 

Oleh: Moh. Abdul Majid Al Ansori*

Dimensi sejarah dalam pergerakan ukhuwah mengundang desah pilu yang tak kunjung menemukan titik temu. Ekspansi yang diberlakukan dan peradaban yang dikembangkan kesemuanya malah memberikan batasan kemanusiaan. Kesatuan tidak lagi menjadi ujung tombak harapan. Hingga kini, pada perayaan maulid yang bernilai, mampukah kita mewujudkan kebersamaan sosial dengan sorotan Rasulullah sebagai unsur keteladanan.

Sejarah Kelam Ukhuwah

Relaksasi sejarah secara runut telah menggambarkan bagaimana Islam berotasi kelam dari masa ke masa. Tumpang tindih pergerakan kemanusiaan yang dilatarbelakangi oleh Islam natural tampak semakin memudar mengiringi distorsi sejarah akhir-akhir ini. Mungkin masih terngiang dalam sanubari umat Islam akan sikap keteladanan Rasulullah SAW. Proklamator syiar yang selalu menjunjung tinggi keharmonisan dalam menjalin ukhuwah wathaniyah. Tidak ada perbedaan strata sosial sebagai bentuk pengkotakkotakan manusia. Semuanya memiliki integritas yang sama sebagai pribadi muslim yang taat pada agamanya. Masa di mana berlangsungnya sebuah kesejahteraan tak terbatas sehingga menjadi tumpuan kerinduan dan harapan pada masa setelahnya. Kesejahteraan yang dimaksud tidak dipandang dari kekayaan material ataupun substansi finansial. Melainkan mengarah pada ketenteraman hati untuk saling menghargai dalam sebuah ikatan sam’an wa tha’atan pada sang nabi. Rasulullah adalah pemimpin sekaligus panutan, bukan pemimpin sekaligus tipuan.

Berawal tahun 654 M, periode Islam klasik mengalami hambatan di tengah perjalanannya. Tragedi fitnah pada masa Utsman bin Affan dan berlanjut hingga era Ali bin Abi Thalib menyuluti bara pergolakan antar sesama umat Islam. Mulai muncul adanya kesenjangan sosial yang membutakan hati hingga tidak mengenali saudara seperjuangan. Diawali dengan propaganda kaum munafik, diwarnai dengan tajuk isu nepotisme kekuasaan, dan berakhir dengan pertumpahan darah mengenaskan. Menyisakan kepedihan serta kehinaan tersendiri dengan terbunuhnya Usman bin Affan selaku khalifah, tragedi Perang Jamal antar para kerabat, persengketaan Perang Shiffin dan revolusi kekhalifahan Islam yang akhirnya menjadi sistem monarki Dinasti Umawi. Lentera ukhuwah seakan-akan telah padam, dan berganti dengan ricuhnya pemahaman dan upaya untuk saling menjatuhkan bahkan mengkafirkan.

Federal monarki yang berlaku mengukuhkan sang raja. Memusatkan keputusan berdasarkan apa yang dikehendakinya. Menumbuhkan kelompok-kelompok kecil yang merasa tidak puas untuk selalu melakukan pemberontakan terhadapnya. Kondisi berlanjut dengan revolusi terbesar sepanjang sejarah Islam dengan berpindahnya khilafah ke pangkuan bani Abbasiyah. Kerajaan termegah dengan peradabannya yang mengagumkan. Menuai catatan spektakuler dalam serial cerita negeri seribu satu malam. Menyelaraskan tahta sebagaimana Charlemagne II Yang Agung, Kaisar Romawi di belahan bumi Eropa. Namun, kesatuan ukhuwah tetap saja tidak dapat diciptakan meski dengan berkembangnya sebuah peradaban. Bahkan, beberapa lama kemudian, mulai terjadi masa disintegrasi kekuasaan. Banyak sekali dinasti-dinasti kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan bani Abbas yang absolut. Pemerintahannya di Baghdad hanya dijadikan sebagai simbol keutuhan khilafah. Pemicu awal bermula dari ketidakpuasan golongan beserta bentang kekuasaan yang mencakupi wilayah Afrika Utara hingga daratan India. Peperangan antar dinasti sudah tidak bisa lagi dielakkan. Ukhuwah terancam, dan kaum munafiklah bedebahnya.

Khilafah Islam akhirnya hilang. Berakhir pula dengan jatuhnya Kerajaan Turki Utsmani sebagai pemegang kendali terakhirnya. Kejadian setelahnya, ukhuwah yang sirna mulai dibangun kembali. Islam berusaha ditampilkan dengan wajah baru untuk membentuk khilafah baru. Kita banyak mengenal tokoh-tokoh pembaharuan Islam. Di Najd, kita mengenal Muhammad bin Abdul Wahab dengan golongan wahabinya. Di Afganistan, kita mengenal Jamaluddin Al-Afghani dengan paham Pan Islamisme-nya. Di Mesir, kita mengenal Muhammad Abduh dengan muridnya Rasyid Ridho yang menerbitkan Jurnal Al Urwatul Wutsqa, dan di India pun kita mengenal Muhammad Iqbal dengan karyanya The Reconstruction of Religius Though in Islam yang menjadi jargon pemersatu Islam. Entah segenap upaya itu merupakan momentum kebangkitan yang sesuai dengan kadarnya, atau malah memicu persengketaan baru yang berujung pada romantika saling menjatuhkan. Pada kenyataannya, tidak ada hasil yang dicapai. Umat Islam hingga kini belum lagi terbangun dari fanatisme kelompok yang semakin dipermasalahkan itu.

Maulid pijakan baru ukhuwah 

Dari realita sejarah yang telah tergambarkan, sulit kiranya jika rasa persaudaraan dibangun dari posisi tertinggi menuju posisi terendah. Kemungkinan terbesar yang terjadi adalah pergolakan sistem dan komunitas disebabkan setiap individu di balik itu pasti mempunyai kepentingan pribadi ataupun golongan. Baku hantam antar sesama aparat dan petinggi negara sempurna mewarnai tajuk awal untuk membangkitkan kembali subjektivitas ukhuwah. Maka dari itu, pola sentral pemikiran yang baru adalah perwujudan eksistensi nilai ukhuwah bermula dari kesadaran masyarakat bahwa mereka harus bersatu, karena merekalah pemangku sebenarnya dari sebuah negara. Biarkan oknum-oknum yang bercengkerama di atas beradu menemukan titik temu. Tidak perlu umat Islam menghiraukan mereka, karena sebaliknya mereka juga tidak menghiraukan umat Islam. Jikalau mereka merasa bahwa dirinya seorang muslim yang masih memiliki kesadaran, pastilah mereka akan bergabung mengikuti term yang sudah diberlakukan oleh masyarakat Islam itu sendiri. Meski nyatanya, mayoritas umat Islam hari ini masih saja dipermainkan.

Dalam perwujudan eksistensi nilai ukhuwah tersebut, umat Islam perlu mengambil momentum yang tepat untuk merealisasikannya. Di antaranya adalah perayaan Maulid Nabi. Umat Islam tentunya paham bagaimana esensi dari sebuah perayaan Maulid Nabi. Maulid Nabi tidak hanya sekedar acara makan-makan atau senandung sajak pujian Barzanji. Ada nilai persaudaraan di dalamnya yang harus disajikan semaksimal mungkin. Di mana para tokoh serempak bermunajat dan diamini oleh semua elemen masyarakat setempat, ibu-ibu bergotong royong menyajikan masakan untuk santapan perayaan, dan lain sebagainya. Semua itu adalah warna proyek awal dalam menggalakkan kebangkitan ukhuwah. Jadi, hasil paripurna yang dapat dipetik berupa otoritas individual untuk sama-sama memperbaiki diri dalam berinteraksi sosial. Sehingga tidak ada lagi istilah persengketaan tanah antar saudara, perkelahian fisik antar tetangga, apalagi kerusuhan antar desa. Semua terjalin secara harmonis, berawal dari sebuah pemahaman maulid bahwa kita memang harus meneladani perilaku Rasulullah SAW dengan gambaran persaudaraan yang ada. Nilai tersebut memang dikembangkan dari hal-hal kecil, semisal maulid ini, namun akan berdampak besar dan nantinya merujuk pada seluruh masyarakat Islam secara majemuk terutama di Madura. Itulah substansinya umat Islam dahulu merayakan maulid, tiada lain bertujuan membangun kembali ghiroh persatuan umat Islam.

Pada perayaan maulid tahun inilah, upaya tersebut layak untuk disemarakkan kembali. Cukuplah dengan sajian makanan dan perayaan sederhana, yang terpenting semua pihak masyarakat dari semua kalangan dapat merasakan indahnya kebersamaan dan merasa bahwa bersama itu penting. Sehingga, perayaan maulid terkesan sangat primer dan dapat menghasilkan output unggulan yang tidak hanya dalam lintas ukhrawi sebagai bentuk keberkahan, juga dalam ranah duniawi sebagai bentuk kerukunan sosial.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata berasal dari Sokobanah Sampang.