Memaknai “Kita” dan Lingkungan Sekitar

ADMINPESANTREN Selasa, 19 November 2019 08:51 WIB
70x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh: Ahmad Tibyanul Haq*

“Sembilan puluh persen (90%) lingkungan itu mempengaruhi kita.” Kalimat ini sungguh teramat benar. Sebab, apabila lingkungan di sekitar kita bersih maka ia akan mempengaruhi dengan membentuk kita menjadi individu yang bersih nan sehat, dengan menuntut kita menjadi individu yang berkarakter baik dikarenakan lingkungannya sudah baik-membaik. Itulah lingkungan, selalu saja memberikan hasil seperti apa yang kita buat padanya. Jika kita berbuat baik pada lingkungan sekitar maka lingkungan juga akan memberikan jawaban serta hasil yang baik untuk kita. Jika kita mengotorinya ataupun membuatnya kumuh, maka yang akan terjadi adalah; lingkungan akan membentuk kita menjadi pribadi yang kotor, bau serta tidak telaten. Dari itu, marilah kita ciptakan lingkungan yang sehat dan bersih, sebab akal yang sehat ada dalam tubuh yang sehat, dan itu semua disebabkan dengan menjaga kebersihan sekitar.

Namun, yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah; Adakah lingkungan di sekitar kita sudah bersih? Adakah lingkungan di sekitar kita telah baik-membaik? Adakah lingkungan di samping kita telah indah? Sudahlah! Tak perlu kita jawab. Sebab fakta lapangan sudah teramat jelas dan terang, bahwa paradigma manusia kini telah mengalami pergeseran, dari yang dulunya berpaham ekosentris (bahwa kehidupan manusia sejatinya memiliki ketergantungan dengan alam) beralih pada paham antroposentris – yaitu anggapan bahwa manusia dan kepentingannya merupakan prioritas utama dalam kehidupan ini. Nah, jika demikian. Ubahlah paradigma ini sekarang juga! Tanamkan dan pakulah serta camkan gerakan lingkungan bersih, sehat indah dan rapi! Bergeraklah sekarang juga! Mulailah sekarang juga! Mengutip dari perkataan Ruqayyah Amilia Andania “Islam bukan sekadar agama dengan ajaran spritualitasnya belaka. Lebih dari itu, Islam telah mengonsep gerakan hijau yang sangat menekankan manusia untuk tidak merusak alam melainkan memberikan manusia tanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya.”

Sebut saja [Q.S Al-Luqman/ 10:31], [Q.S Al-A’raf/ 07:56], serta [Q.S Ar-rum/ 41-42] sebagai dalil bahwa lingkungan atau alam merupakan salah satu aspek kehidupan yang disinggung dalam Al-Quran. Itu artinya, peduli terhadap lingkungan sama halnya dengan peduli terhadap kita sendiri, sebab semua makhluk hidup mempunyai ketergantungan antara yang satu dengan yang lainnya. Kendati demikian, membina kesadaran untuk peduli lingkungan tidak serta merta menjadi kebutuhan hidup semata. Namun, kesadaran akan kepedulian terhadap lingkungan adalah bagian dari ibadah setiap individu dari kita.

Nah! Selepas kita paparkan juga jelaskan separuh penjelasan di atas, akankah kita masih tidak mau bergerak juga untuk sekadar peduli pada lingkungan? Untuk sekadar mempunyai tanggung jawab upaya membersihkan dan melestarikan lingkungan? Jika kita belum sadar juga, mari kita baca separuhnya lagi!

Sesungguhnya Agama Islam telah mengajarkan kita akan kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan. Bahkan, bukan hanya mengajarkan kita namun jauh dari itu. Islam mewajibkan kita untuk menjaga kebersihan dan melestarikan lingkungan. Dengan seperti ini, maka mafkhum mukholafahnya adalah Islam selain mewajibkan kita untuk menjaga lingkungan, juga melarang kita untuk merusak dan mengotori lingkungan itu sendiri.

Dari itu, janganlah kita menganggap sepele sesuatu yang kecil! Jangalah kita menganggap enteng pada sesuatu yang mungil! Karena semua itu, apabila kita biarkan akan berdampak atau berakibat besar. Oleh karenanya, apabila kita menemukan sampah sekecil apapun. Ingat! Sampah sekecil apapun itu. Bagaimana supaya kiranya tangan kita ini tergerak untuk mengambilnya lantas membuangnya pada tempat sampah. Begitu pula, apabila kita melewati asrama atau daerah (blok) tetangga, kemudian ada sampah. Bagaimana sekiranya badan kita tergerak untuk membersihkannya, dengan berkata:

“Ini adalah sampah Bata-Bata, dan saya adalah santri Bata-Bata. Berarti ini juga tanggung jawab saya.” Bukan malah berkata, “Kenapa harus saya, Mengapa harus saya? Wong ini adalah sampah asrama/daerah lain. Bukan sampahnya saya juga bukan sampah asrama saya.”

Sekali lagi, kita harus sadar diri bahwa Islam adalah agama yang teramat menyukai keindahan, bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan umatnya untuk peduli dan menyukai kebersihan. Oleh karenanya, marilah kita dengan sadar diri menanam bibit peduli akan kebersihan, keindahan, keasrian, serta keelokan dalam hati kita masing-masing.

 Begitu pula, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamiin telah mempunyai konsep yang begitu sempurna, upaya menuntut kehidupan umat manusia. Baik itu hubungan secara vertical dengan Allah Subhanahu Wata’ala maupun secara horizontal yakni mengatur hubungan antar sesama manusia atau juga hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.       

Seperti apa yang dikatakan oleh seorang tokoh “Melalui sosok insan kamil (Manusia sempurna) yakni Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Islam mengajarkan kita sebagai umatnya untuk mengambil sikap teladan yang telah dicontohkan oleh beliau. Rasulullah memberikan contoh sikap yang benar-benar mulia dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk sikap terhadap lingkungan alam sekitar baik terhadap tumbuh-tumbuhan maupun yang lainnya. Misalnya saja pada saat perang sekalipun, salah satu perintah Rasulullah kepada para sahabat dan pasukannya yaitu melarang untuk membunuh hewan ternak, merusak, membakar ataupun menebang pohon. Apa lagi saat kehidupan sehari-hari, tentunya beliau mencontohkan sikap yang selalu bernilai positif terhadap lingkungan hidup. Sehingga sangat benar bahwa kedatangan Islam melalui Rosulullah shallallahu alaihi wasallam merupakan rahmat dan kebahagiaan bagi seluruh bentuk kehidupan alam semesta ini.

Seperti itulah yang dikatakan olehnya, yakni kita harus menjadikan Nabi sebagai teladan kita dalam segala hal pekerjaan dan kelakuan kita, utamanya dalam menjaga dan melestarikan lingkungan alam sekitar itu sendiri. Begitulah, teramatlah besar urgensi dari menjaga dan melestarikan lingkungan itu, sebagaimana dalam tulisan Fadlilatin Nailah yang mengutip perkataan professor Emeritus bidang sumber daya alam, ekologi, dan biologi Evolusi dari Universitas Arizona Prof. Dr. Guy McPherson:

“If you really think that environment is less important than economy, try holding your breath while you count your money.”

“Jika kamu sungguh berpikir bahwa lingkungan kurang penting dari pada ekonomi, maka pegang hidungmu (jangan bernafas!) sambil hitung uangmu.”

Demikianlah, kita harus sadar diri untuk melestarikan lingkungan. Dimulai dari hal yang sederhana, misal menjaga lingkungan sekitar, tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan selokan, tidak boros air, tidak mengotori lingkungan pesantren serta turut berpartisipasi secara aktif dalam upaya-upaya konservasi lingkungan.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata. Saat ini duduk di Kelas Akhir Program Intensif MA Mambaul Ulum Bata-Bata.