Dunia Maya - Dunia Nyata dan Misi Generasi Para Ulama

ADMINPESANTREN Selasa, 31 Desember 2019 09:23 WIB
218x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri Opini

Oleh: Ahmad Sajjad Ahsanul Abidin*

Sekarang antara dunia maya dan dunia nyata seakan tidak lagi berbeda. Dunia maya adalah dunia nyata dan dunia nyata ada di dunia maya. Perkembangan teknologi sudah membabi buta, tidak melihat dia pria atau wanita, muda atau tua, pelosok atau tengah kota, semua sama saja, penggila dunia ghaib tak kasat mata. Hanya saja dari sisi negatif yang sudah banyak dirasakan, ternyata ada celah cahaya yang bisa dimanfaatkan. Nah, disitulah kesempatan untuk memperbaiki keadaan dan masa depan harus segera dilakukan.

Kalau dipikir-pikir generasi sekarang sudah seakan tidak bisa lepas dari media sosial, sebelum tidur update status, mau makan lihat-lihat views, mau mandi lihat-lihat komenan, bangun tidur melihat like yang didapat, sampai mau buang hajat masih saja sempat ngasih tau temannya lewat Instagram, udah kelewatan. Seakan handphone adalah separuh jiwa mereka. Sempat terbesit sih, jika tujuan utama dibuatnya media sosial adalah untuk menghancurkan generasi muda Islam, mengikis akhlak para pelajar, menghilangkan dzikirullah, dan hal negatif lainnya.

Bahkan, bukan hanya di kalangan pelajar SMA luaran saja yang begitu, para santri yang ditempa agar menjadi kader para ulama sebagai penyambung lisan Rasul ternyata juga ketularan. Mungkin benar ketika di pesantren mereka tidak melakukan hal-hal buruk dengan handphone, sebab memang tidak boleh pegang handphone. Beda halnya ketika liburan, santri terkadang malah lebih parah kelakuannya dibandingkan dengan siswa-siswi SMA yang tidak mengenyam ilmu agama sebanyak santri, walau itu hanya secuil saja. Dengan demikian malah timbul hipotesis negatif pada adanya media sosial, bahkan sampai muncul kesimpulan bahwa penggunaan media sosial itu haram, sebab dapat melemahan iman.

Tapi hipotesis tersebut ternyata keliru, beberapa tahun terakhir banyak bermunculan santri-santri luar biasa dengan akun-akun dakwah mereka. Mungkin para penggerak media dakwah tersebut berpikir jika media sosial sebenarnya memiliki banyak manfaat, hanya saja problemnya terletak pada apa yang menguasai media tersebut. Santri sekarang sudah mulai bisa berpikir di luar zona kekolotan. Santri sudah mulai sadar, memusuhi sosial media atau dunia maya sama saja terus membiarkan umat terhanyut dalam lautan ketidaktahuan. Para santri selaku pemegang kewajiban untuk berdakwah sadar jika umat tidak bisa dilarang memakai media sosial, jika dilarang mereka malah akan tambah bandel.

Dengan begitu, santri sekarang bukan memusuhi media sosial, namun memberi inovasi baru kepada khalayak umum tentang penggunaan media sosial yang baik, dan merubah tontonan masyarakat yang biasanya hanya menonton hal- hal yang kurang bermanfaat berubah ke tuntunan sumur ilmu yang dibungkus semenarik mungkin. Hingga umat secara tidak sadar mereka pergi ke pengajian, namun ngajinya lewat handphone masing-masing di rumah mereka.

Cara seperti ini sangat mudah dan efisien, sebab untuk orang-orang yang tidak sempat untuk datang langsung ke ta’lim bisa melihatnya menggunakan handphone mereka masing-masing. Atau bahkan mereka yang mempunyai masalah tertentu dan ingin mencari solusinya secara syariat, bisa langsung melihat ceramah-ceramah ustadz atau habib yang membahas tentang masalah yang sedang dilanda tersebut. Sebut saja, lagi patah hati, tinggal searching di youtube, sebut saja Ustadz Adi Hidayat atau Ustad Somad. Jadi, umat bisa mendengarkan ceramah sesuai dengan materi yang sedang dibutuhkan oleh mereka sendiri.

Namun, perjuangan para santri selaku kader para ulama tidak terhenti sampai di situ, tentunya para musuh-musuh Islam tidak akan berhenti menggencarkan serangan untuk menghancurkan dan menjauhkan umat agar lupa akan syariat Islam yang benar. Baik itu secara kasar atau secara halus. Walaupun hal tersebut tidak akan dibiarkan begitu saja oleh para santri-santri kita. Buktinya tren pemuda hijrah yang oleh sebagian kalangan disalah artikan dapat diluruskan kembali oleh para santri, seperti memberikan makna hijrah yang sebenarnya, bukan hijrah dalam kebaikan hanya mengikuti tren saja tapi yang benar-benar pindah dari kegelapan menuju cahaya ilahi. Sebagai contoh, banyak akun-akun instagram yang dibangun santri yang menggabungkan suara ustadz Tengku Hannan Tattaki yang diberikan klip video yang teduh dengan backsound meyentuh. Dengan begitu dapat memberi kesimpulan tentang hakikat hijrah dengan menyenangkan kepada umat dan tidak membosankan.

Kesimpulannya bahwa tugas santri kali ini lebih berat dari pada santri zaman dulu, sebab mereka tidak hanya berjuang di dunia nyata, namun juga harus berjuang di dunia maya untuk bisa menyampaikan pesan-pesan nabi kepada mereka yang tidak tahu. Wallahua’lam.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini duduk di kelas XI Madrasah Aliyah jurusan IPA Sains.