Jika Itu Baik, Mulailah dari Kita!

ADMINPESANTREN Selasa, 4 Februari 2020 12:33 WIB
94x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri

Oleh : Rizqiatul Lubabah*

Jika itu baik, Ibda’ Binafsik! Jika itu baik dan jelas bermanfaat, maka, apa yang harus kita tunggu, mulailah dari kita sendiri!

Semuanya berawal dari kita dan semuanya akan kembali pada kita sendiri. Jika kalian melakukan keburukan, maka implikasinya akan berakibat pada diri kita sendiri. Sebaliknya, apabila diri kita memulai sesuatu kebaikan, maka siklus kebaikan senantiasa akan mengalir kembali kepada kita. Semua itu pasti ada hikmahnya, dari setiap apa yang sudah, sedang dan akan kita lakukan. Sebab hikmah berasal dari segala sesuatu. Dari itu, Ambillah hikmah dari manapun ia berasal. Bak sinar matahari, ia (hikmah) datang dari segala arah.

Banyak orang yang hanya merasakan kehidupan tanpa harus dan perlu untuk menghidupkan perasaan, apalagi menghidupkan kehidupan. Untuk melakukan perubahan hidup yang lebih baik lagi, untuk lebih mencerahkan kehidupan, semuanya harus dimulai dari kita sendiri. Tidak peduli apa yang akan dikatakan orang tentang kita, tidak peduli orang-orang mencemooh kita seperti apa, tidak peduli pula apa komentar mereka. Intinya, selama itu baik dan bermanfaat. Sudah jelas dengan komitmen kita sejak awal, kita yang harus memulainya. Jikalau bukan kita yang memulainya, lantas siapa lagi? Dari itu, memang kehidupan harus berubah, namun, kitalah pemain utamanya.

Perubahan dalam hidup hanya akan terjadi dan terwujud apabila kita berusaha melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang baru dan dengan cara yang berbeda. Dengan itu, kita lebih leluasa untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik. Dengan itu juga, kita bisa leluasa mempelajari segala hal yang ada di sekitar kita, kita bisa leluasa menerimanya, lantas kemudian mengubahnya sehingga menjadi potensi dan kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih baik dari kemarin dan hari ini.

Dengan potensi, kekuatan juga ketekunan seperti itu, sudah jelas bahwa yang kita lakukan, bahwa segala hal yang kita mulai akan berujung pada kebaikan. Itulah yang namanya hikmah. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Hikmah adalah cahaya mukmin. Maka, semua kata yang menasihatimu dan mengajakmu kepada kebaikan serta menahanmu dari keburukan adalah hikmah.” Sebagaimana Atsarnya Sayyidina ‘Ali Bin Abi Thalib Karramallahu wajhahu, “Barang siapa yang melihat pelajaran dalam musibah maka ia telah mendapatkan hikmah.”

Jika seperti itu, konklusi akhirnya hikmah merupakan mata hati dan kata hati. Hikmah adalah ucapan atau kata-kata yang kita dengar, kita baca, atau kita dapatkan dari  manapun atau dari siapa pun, yang memberi kita pemahaman dan makna baru dari segala peristiwa yang terjadi sehingga kita dapat melihat berbagai perkara dengan cara yang lebih baik. Ucapan atau kata-kata itu memberikan kita dampak, mengubah mindset atau [pola pikir] kita menjadi lebih baik, membuat kita lebih khusyuk dan fokus pada suatu masalah, dan menjadikan kita lebih tenang, menjadikan diri kita lebih nyaman. Sehingga ucapan atau kata-kata itu dapat membawa kita ke arah perubahan yang lebih baik lagi hingga membawa kita ke tahap yang lebih sempurna. Pepatah arab memberi saran bagi kita; “Jika kalian menemukan hikmah yang tercecer di jalanan, pungutlah!”

Namun, terkadang untuk memulai sesuatu itu sangatlah sulit. Meskipun itu adalah hal yang baik dan berupa kebaikan. Semuanya membutuhkan keberanian untuk melangkah dan mencoba segala sesuatu. Bahkan, semuanya butuh pengorbanan.

Seperti apa yang ditulis oleh Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya, “Saya hanya menyalin beberapa ungkapan di sini, dan kalianlah yang akan mencari, memetik, mengambil, serta memungut hikmahnya. Untuk memulai hal yang baik dan berbuah kebaikan itu terkadang sulit, sebab semuanya butuh keberanian dan jelas butuh pengorbanan. Tanpa masalah, takkan pernah kalian belajar. Tanpa nestapa, takkan pernah kalian merasakan kebahagiaan. Tanpa kefakiran dan kemiskinan, takkan pernah kalian menikmati kekayaan. Tanpa kehilangan, takkan pernah kalian merasakan penemuan. Tanpa kegagalan, takkan pernah kalian meraih kesuksesan. Tanpa pengorbanan dan keberanian untuk memulai, takkan pernah kalian menemukan hasil yang sempurna dan memuaskan. Jika kalian tak tahu apa yang harus dikerjakan. Mulailah dengan bekerja! Jika kalian tak tahu jalan mana yang harus ditempuh, mulailah melangkah! Jika kalian tidak tahu apa yang harus dilakukan, mulailah dengan melakukannya!”

Ada saat-saat ketika kita merasakannya sebagai saat terakhir, lalu kita sadar, bahwa itu adalah sebuah permulaan. Ada saat-saat ketika kita merasa bahwa semua pintu tertutup. Lalu kita sadar bahwa itulah pintu masuk yang sesungguhnya. Kendati demikian, mari lalui hari-hari kita dan lakukanlah apapun yang ingin kita lakukan. Teguhkanlah jiwa kita, ketika Allah Sang Penentu menetapkan putusan atas diri kita. Jangan keluhkan apa yang terjadi dalam kegelapan malam, jangan keluhkan apa yang menjadi keterbatasan kita, karena tak ada keabadian pada setiap kejadian dan peristiwa kecuali hikmah semata. Mari jadikan diri kita manusia yang kukuh menghadapi segala masalah dan kesulitan. Hiasilah wajah kita selalu dengan senyuman dan keramahan.

Mulailah dari diri kita. Khalid Mitrand pernah menuturkan, “Kuatkanlah tekad dan niat kalian! Jika telah melangkah, jangan berhenti! Bersabarlah hadapi segala cobaan! Kesuksesan pasti kalian wujudkan. Orang yang sukses bukanlah yang mendapatkan limpahan harta, melainkan mereka yang diberi ketetapan hadapi segala bencana dan cobaan. Mulailah dari diri kita, untuk hidup yang lebih baik!” Jalaluddin Rumi pun menyebutkan “Padang rumput takkan tertawa jika langit tak menangis. Bayi takkan dapatkan air susu tanpa tangisan terlebih dahulu”.

* Penulis adalah siswi Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Bata-Bata Putri Program Intensive