Ayah, Tugasmu Tidak Hanya Mencari Nafkah

ADMINPESANTREN Jumat, 14 Februari 2020 06:20 WIB
647x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh : Siti Subaidah*

Di antara amanah yang Allah berikan untuk manusia adalah dihadiahkan-Nya seorang anak. Terkait pendidikan anak baik tentang agama, pengetahuan dasar atau seputar akhlak sampai saat ini sangat cenderung dibebankan kepada seorang Ibu. Tidak sedikit para ayah beranggapan jika tugasnya sudah cukup dengan mencarikan nafkah saja untuk keluarganya. Tugas lain yang lebih penting dari sekadar mencari nafkah tersebut sering diabaikan seperti halnya memenuhi kebutuhan rohani anak berupa keimanan dan amal saleh.

Di zaman yang sedemikian modern ini, seharusnya para ayah menyadari bahwa perannya sangatlah penting dalam memastikan bagaimana perkembangan anaknya dari hari ke hari. Ayah harus menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya agar kelak mereka tidak jatuh dalam pergaulan yang salah. Ayah harus menjadi sahabat terbaik untuk anak lelakinya agar kelak mereka tumbuh menjadi sosok yang penuh tanggungjawab dan penuh kasih terhadap sesamanya. Agar setiap hal dalam rumah tangga berjalan dengan baik maka dibutuhkan sinergi antara ayah dan ibu di dalamnya. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Para ayah menganggap kewajibannya hanya mencari nafkah, itu saja, sedangkan ibu atau istri di rumah memiliki kewajiban yang harus dilakukannya setiap hari mulai dari pagi buta memasak, menyiapkan hidangan masak untuk keluarga, menyapu, mengepel bahkan seharian pun belum selesai. Karena sudah menjadi sebuah rutinitas dari zaman dulu, maka hal ini dianggap suatu kewajiban bagi seorang istri pada akhirnya. Padahal ketika suami istri ikut serta di dalamnya maka sudah bisa dipastikan semua pekerjaan dalam rumah tangga akan lebih ringan.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ya’la bin Murrah, ia berkata “Kami keluar bersama Nabi lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan, maka Rasulullah segera menghampirinya, di hadapan banyak orang beliau membentangkan kedua tangannya kemudian Husain lari kesana kemari kemudian Nabi mencandainya agar tertawa sampai ahirnya beliau berhasil memegangnya, lalu Nabi meletakkan salah satu tangannya di bawah dagu Husain dan tangan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah menciumnya.” (H.R Bukhari)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ia berkata. Rasulullah SAW mencium Hasan putra Ali dimana saat itu ada Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang sedang duduk di samping beliau, Aqra’ kemudian berkata “Saya punya sepuluh orang anak dan tidak pernah satupun dari mereka yang saya cium.” Maka Rasulullah memandangnya dan berkata “Siapa yang tidak memiliki sifat kasih sayang, niscaya tidak akan memperoleh kasih sayang dari Allah.” (H.R Bukhari).

Oh, betapa manisnya kisah di atas. Manusia agung yang setiap geraknya patut dijadikan contoh. Sungguh mulianya beliau terhadap anak-anak, tentu masih banyak hadis-hadis Nabi yang mengisahkan bagaimana baiknya beliau dan penuh kasihnya terhadap anak-anak. Sebagian ayah saat ini agar dipandang hormat atau merasa disegani oleh anak maka ia menyedikitkan interaksi dengan anak-anaknya, bahkan ada yang pelit bicara, hanya agar anak tidak ngelunjak katanya. Persepsi salah semacam ini terus berkembang dan terus terjadi sampai saat ini. Seharusnya ayah menjadi tempat curhat pertama kali saat anak lelakinya sudah mulai memasuki masa baligh. Seharusnya ayah menjadi sahabat pertama saat anak perempuannya mulai suka dengan lawan jenisnya. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya, ayah lebih banyak diam ketika di rumah sehingga kemudian menurut Budi Ashari (parenting nabawiyah) muncullah ayah “bisu” yang menjadi sebab munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Tidak sedikit dari ayah kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya, sebagian lagi hanya mampu bicara dengan nada tinggi atau marah.

Seorang psikolog klinis Fiona Starr dari Middlesex University, mengatakan bahwa hubungan baik antara ayah dan anak akan menghasilkan generasi ayah-ayah masa depan yang memiliki kecerdasan emosional, bijaksana dan komunikatif.

Tentu ayah sangat menyayangi dan mencintai anaknya, namun tidak sedikit dari kita melewatkan hal-hal yang dianggap kecil dalam tumbuh kembang anak dan menyerahkan semua hal itu untuk menjadi tanggungjawab ibu. Ayah, pastinya kita sudah ada yang tahu bahwa dalam al-Qur’an sendiri lebih banyak menceritakan tentang dialog antara ayah dan anaknya, setidaknya ada di 14 tempat, dialog antara ibu dengan anaknya ada di dua tempat. Dialog ayah dan anak dalam al-Qur’an di antaranya terdapat dalam ayat-ayat berikut: Al-Baqarah: 132-133, Al-An’am: 74, Hud: 42-43, Yusuf: 4-5, Yusuf: 11-14, Yusuf: 16-18, Yusuf: 63-67, Yusuf: 81-87, Yusuf: 94-98, Yusuf: 99-100, Maryam: 41-48, Al-Qashash: 26, Luqman: 13-19, Ash-Shaffat: 102. Lantas mengapa di dalam al-Qur’an lebih banyak menyebutkan dialog antara ayah dengan anak daripada dengan ibunya, mungkin salah satu jawabannya adalah al-Qur’an hendak mengajarkan kepada ayah agar pandai berdialog dengan anaknya. Wallahua’lam.

Di akhir tulisan ini, saya akan berbagi sebuah kisah yang semoga bisa diambil pelajarannya oleh kita dan khususnya para ayah yang berbahagia.

Seorang anak berusia kira-kira 10 tahun yang duduk di kelas 4 SD suatu malam yang mulai larut menunggu ayahnya yang akan pulang kerja. Sang ayah adalah pekerja keras, pagi-pagi sebelum anak bangun sudah berangkat kerja malam larut baru pulang setelah anak terlelap tidur. Hari itu sang anak menunggu ayah untuk membicarakan sesuatu.

“Aku sengaja tidak tidur untuk menunggu Ayah pulang, aku mau Tanya memangnya gaji ayah berapa sih, Yah?” ayah merasa heran namun akhirnya menjawab juga pertanyaan anaknya.

“Baiklah, kamu hitung sendiri, setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar sekitar 400.000”, Ayah menjelaskan. Kemudian sang anak segera beranjak mengambil kertas dari meja belajar sementara ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman, anak kembali lagi dan berkata,

“Jadi kalau satu hari Ayah dibayar 400.000 berarti satu jamnya 40.000 dong, ayah boleh pinjam uangnya ngga 10.000” ayahnya mengernyitkan dahi heran.

“Untuk apa?” ayah bertanya.

“Aku ada uang tabungan hanya 30.000, jadi mau minjam 10.000 sama ayah biar jadi 40.000, aku minta waktu ayah satu jam saja, karena bunda sering bilang kalau waktu ayah itu sangat berharga, jadi aku mau beli satu jam saja waktu ayah untukku,” ucapnya sedih, matanya berkaca-kaca. Ayah tertegun, menundukkan kepalanya tak kuasa menahan air mata, sang anak memegang tangan ayah erat, sambil menangis ayah memeluk anaknya erat, erat sekali, ayah sesenggukan dalam pelukan anaknya.

“Maafkan ayah, Nak.” ucap ayah lirih.

Kisah ini bisa saja terjadi pada anak kita, hanya mungkin saja mereka lebih memilih diam, tidak mengekspresikan keinginannya seperti anak di atas karena sesungguhnya sosok ayah itu sangat dibutuhkan oleh anak. Para ayah, semoga semakin hari kita makin berbenah makin jadi sosok bersahaja dan baik, penuh kasih dan cinta terhadap anak-anak juga murah senyum terhadap mereka. Saya percaya esok akan lahir ayah-ayah yang hebat karena memiliki ayah seperti anda yang hebat. Salam semangat untuk ayah hebat dimanapun anda berada. Allah memberkatimu.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata sekaligus lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.