Optimalisasi Perhatian Orang Tua terhadap Pendidikan Anak

ADMINPESANTREN Selasa, 18 Februari 2020 06:52 WIB
283x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh : Busiri*

Pendidikan merupakan sesuatu perkara wajib yang harus ditempuh bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal itu sesuai dengan undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Henry Ford pendiri Ford Motor Company berkata “Seseorang yang berhenti belajar adalah orang lanjut usia, meskipun umurnya masih remaja. Seseorang yang tidak pernah berhenti belajar akan selamanya menjadi pemuda”. Artinya tidak ada ketentuan umur dalam mengenyam pendidikan, bahkan sampai lanjut usiapun diharuskan untuk menuntut ilmu pengetahuan. Dalam hal menyikapi pendidikan, banyak cara yang dapat dilakukan seseorang untuk memperolehnya. Mendapatkan pendidikan merupakan hal yang wajar bagi seluruh manusia, namun ada beberapa jenis pendidikan yang harus dipikirkan oleh seseorang untuk bergelut di dalamnya. Pendidikan formal dan non formal sering didebatkan oleh berbagai kalangan, utamanya yaitu orang tua.

Tidak sedikit orang tua memilih anak menempuh pendidikan di sekolah formal. Hal itu disebabkan oleh beberapa alasan yang membuat mereka memutuskan menyekolahkan anaknya di sekolah formal. Orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anaknya agar tidak ketinggalan dari anak-anak yang lain. Selain itu, ada juga orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah formal dengan beberapa alasan lainnya.

Hampir semua orang tua menganggap sekolah adalah kewajiban. Namun kewajiban yang dimaksud perlu dikaji ulang. Karena tidak sedikit anak sekolah, tanpa ada hasil yang jelas. Ada beberapa sebab orang tua mengatakan tentang kewajiban sekolah formal. Pertama, karena hampir semua anak tetangga mengikuti program sekolah formal. Kedua, karena mengikuti trend saja. Ketiga, kebutuhan ijazah yang diperlukan nanti ketika ingin melamar pekerjaan. Hal ini yang mungkin kesalapahaman akan kewajiban sekolah formal yang dimaksud orang tua yang minim pendidikan formal.

Perlu ada kejelasan dan pemahaman mengenai kewajiban sekolah formal bagi orang tua, sehingga mereka tidak sekedar menyekolahkan anaknya dengan alasan yang tidak jelas, dengan harapan anak-anak mereka memiliki prestasi yang jelas. Kewajiban pendidikan formal bukanlah sekadar mengikuti trend atau semacamnya, melainkan disabilitas akademis upaya mensejahterakan sumber daya manusia. Najwa Shihab pernah berkata "Hanya pendidikan yang bisa menyelamatkan masa depan, tanpa pendidikan Indonesia tak mungkin bertahan". Dengan tujuan yang jelas, orang tua bisa mendorong anaknya untuk mempertahankan nilai akademis yang mereka peroleh dari sekolah formal.

Tujuan mempertahankan nilai-nilai akademis antara lain adalah mempertahankan keberlangsungan pendidikan bagi anak, sehingga ada motivasi terhadap keturunannya kelak ketika disekolahkan. Tujuan lain adalah menambah pengetahuan kaitannya dengan kemauan anak dalam mengenyam pendidikan sesuai dengan apa yang dipertahankan oleh anak. Keluarga yang memiliki nilai-nilai akademis akan sangat berdampak baik terhadap masa depan anak. Karena dengan adanya orang tua yang memiliki jiwa akademis, tentunya dapat mengetahui kemampuan anak, sehingga dapat memberikan tujuan yang jelas sesuai dengan apa yang akan digeluti anak ketika di sekolah. Dengan hal itu, anak memiliki tujuan yang jelas dalam menempuh pendidikan.

Ketika orang tua tidak memiliki nilai-nilai akademis, hal itu akan menimbulkan dampak negatif terhadap keturunannya. Ketidaksesuaian impian antara anak dan orang tua nantinya akan menimbulkan konflik antara keduanya. Bahkan dampaknya akan terus terjadi hingga nanti anak tersebut dewasa. Keberlangsungan konflik mengenai keputusan antara kedua pihak tidak semerta-merta akan berhenti ketika anak tersebut menginjak dewasa, melainkan akan berdampak terhadap seluruh keturunannya, hingga adanya anggota keluarga yang menyadari di antara keduanya atau keturunan mereka tentang pentingnya nilai-nilai akademis dalam keluarga tersebut. Kemudian anak tersebut akan berusaha lebih keras untuk memperbaiki keluarganya untuk kemudian menanamkan nilai akademis pada generasi selanjutnya. Tan Malaka berkata "Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkokoh kemauan serta memperhalus perasaan". Oleh karena itu, penting kiranya menanamkan nilai-nilai akademis untuk diri sendiri maupun kepada anak cucunya (orang lain).

Sayyidina Ali pernah berkata “Ajari anakmu sesuai dengan zamannya, karena anakmu akan hidup di zaman yang berbeda denganmu”. Dapat kita ambil kesimpulan, ketika ingin menyekolahkan anak hendaknya orang tua harus tahu potensi anaknya. Sekaligus mengajarkan ilmu yang sesuai dengan masanya. Jangan sampai anak tersebut tertinggal dengan perkembangan zaman yang sudah modern. Apabila seorang anak ketinggalan zaman, maka nantinya akan menimbulkan dampak negatif. Seperti, bullying, gagap ketika berurusan dengan hal-hal administratif, apalagi sekarang banyak ujian yang berbasis komputer.

Tidak ada salahnya orang tua mengatur jalur pendidikan anaknya. Karena anak yang baik adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Selama perintah itu baik, kerjakanlah. Namun jika perintah tersebut melanggar norma hukum dan agama, maka hindarilah perintah tersebut dengan cara-cara yang lebih baik. Mungkin ada beberapa alasan kenapa orang tua tidak memberikan kebebasan penuh terhadap anaknya, untuk memilih bidang studi yang mereka kehendaki. Pertama;  lingkungan, kedua; minimnya pengetahuan umum, ketiga; menganggap pekerjaan adalah sebuah hasil, keempat; kurangnya kepercayaan terhadap pendidikan yang diatur negara. “Ini kekeliruan dalam dunia pendidikan kita, yang menganggap mata pelajaran sains lebih penting, dan mendiskriminasi budi pekerti. Akibatnya banyak anak cerdas yang justru terjerumus dalam narkoba, seks bebas, tawuran, dan korupsi ketika dewasa.” Itulah pendapat Seto Mulyadi tentang kesalahan sistem pendidikan. Hal itu salah satu penyebab kurangnya keyakinan orang tua akan keberhasilan anaknya sebagai lulusan sekolah formal. Maka dari itu, mari bangun sistem pendidikan yang berkualitas tanpa ada kecurangan di dalamnya. Tahan nafsu duniawi, lepaskan keinginan bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang berpendidikan (akademis).

*Penulis adalah siswa kelas 12A3 Madrasah Aliyah Mambaul Ulum Bata-Bata, berasal dari Sokobanah Sampang.