Tradisi Pendidikan Islam yang Hampir Punah

ADMINPESANTREN Selasa, 17 Maret 2020 09:05 WIB
509x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Pendidikan Islam

Oleh : Abd. Basit*

Dalam tradisi peradaban pendidikan Islam, umat muslim sudah sangat banyak melahirkan manusia yang berkualitas. Pada masanya, telah lahir generasi emas yang mampu menciptakan perubahan bagi belahan dunia. Bahkan barat (yang dijustis sebagai pemegang peradaban saat ini) bisa dikatan berhutang budi dengan beragam macam keilmuan yang diadopsi dari ilmuan muslim. Eropa dengan segala bangunan dan kultur keilmuan yang terus kontinu tidak ubahnya adalah lanjutan dari masa keemasan Islam.

Islam dengan segala background-nya adalah sebuah upaya untuk menjaga stabilitas manusia, bangsa dan negara melalui keharmonisan antar sesama. Hal demikian yang kemudian disebut dengan rahmatan lil ‘alamiin. Dalam mencapai hal tersebut hanya dengan satu; “Pendidikan dan Ilmu” sebab hanya ilmu yang memberikan pemahaman dan langkah-langkah konkret dalam mencapai perdamaiaan dan apapun yang berkaitan dengan peradaban.

Sejarah umat muslim dalam dunia pendidikan sangatlah panjang, namun tujuannya tetap bermuara pada “bagaimana menciptakan manusia yang sempurna” yang dalam hal ini digambarkan dengan sosok manusia yang sempurna, Muhammad SAW. Maka sangat disayangkan jika umat Islam masih mengadopsi sistem pendidikan dan gaya belajar sebagaimana Barat, sebab Islam sebenarnya sudah mempunyai panduan pendidikan yang luar biasa, seperti Adabul ‘Alim Wa Al-Mutaallim karya K.H Hasyim Asy’ari pendiri NU, Ihya’ Ulumuddin karya imam al-Ghazali yang bergelar Hujjatul Islam, Ta’limul Muta’allim karya Imam al-Zarnuji yang dinahkodai dengan gelar pakar pendidikan, Tadzkiratus Sami’ Wa Al-Mutakallim karya Ibnu Jamaah seorang ulama yang pakar dalam pendidikan, dan lain sebagainya. Di samping itu, pendidikan Islam mempunyai tujuan untuk mencontoh Muhammad melalui generasi ke generasi, dimulai dari sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, dan seterusnya hingga generasi kita yang kemudian dikenal dengan sebutan ulama’. Semuanya jelas, dan muttasil.

Dengan demikian, maka sangat tidak elok rasanya jika umat Islam masih sangat bergantung dengan gaya pendidikan Barat serta masih sering dan sangat banyak mencontoh para ilmuan Barat, sedangkan Islam mempunyai segalanya. Aneh bukan? Kita beribadah untuk mencapai dan bertemu Allah tapi gaya ibadah kita bukan seperti orang muslim, seperti berpendidikan dengan gaya orang Barat padahal yang dituju adalah nabi kita, Muhammad. Inilah yang kebingungan dan salah jalan.

Gaya Pendidikan yang Hampir Punah

Di era disrupsi saat ini, dengan segala perkembangan teknologi serta pengaruh Barat yang cenderung positivisme, maka tidak heran jika umat muslim terpengaruh dengan gaya Barat di berbagai sektor termasuk dalam dunia pendidikan. Keadaan nyata ini tidak dapat dipungkiri, apalagi lambang perkembangan dan kemajuan ‘ada’ di Barat. Umat muslim sudah dicekoki pemahaman dan wajah-wajah yang bersifat materialistik dengan melihat perkembangan pesat teknologi yang ditampilkan oleh Barat. Jangan heran, jika peserta didik ditanyakan cita-cita, maka jawabannya mengarah pada sifat dunia belaka; agar mendapatan pekerjaan yang layak, menjadi presiden, mentri, dan seterusnya. Pemahaman tujuan pendidikan yang rendahan ini diadopsi oleh dunia Barat dengan tanpa sengaja. Padahal tujuan pendidikan yang demikian tidak pernah diajarkan dalam Islam.

Tujuan pendidikan yang di bangun Barat adalah sifat panca indra dan akal. Keduanya adalah dewa sekaligus lambang peradaban. Keadaan barat yang demikian, menurut Moh Iqbal akan runtuh dengan tidak bisa melawan akalnya. Maka sebenarnya, lawan dari positivisme adalah akalnya sendiri. Sebab, apapun yang terjadi di dunia harus dibuktikan dengan ilmiah melalui daya nalar yang kritis dan eksperimen yang dapat dibuktikan. Demikian tidak berlaku selamanya lantaran akal manusia yang terbatas. Maka kaum Barat, tidak akan pernah menerima dan menjadikan sebuah pengetahuan tanpa melewati teori ilmiah. Jika akal mereka tidak bisa menjangkau maka mereka tidak bisa menjawabnya.

Berbeda dengan Islam, agama  yang membangun jiwa di atas segalanya. Maka seharusnya tujuan pendidikan adalah segala bentuk upaya untuk memperbaiki jiwa, batin, dan hati. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya” adalah kata yang luar biasa. Peradaban Islam dibangun dari dua hal, akal dan hati. Akal sebagai upaya mengilmiahkan, dan hati sebagai lambang ketaatan. Saat akal tidak bisa menjangkau maka ketaatan hati yang berjalan. Islam mengajarkan keseimbangan, maka jangan heran alasan semua ibadah yang pertama adalah ta’abbudi (menghambakan diri) sebelum meneliti secara ilmiah tentang semua ibadah. Simplenya, Islam mengajarkan kesuksesan batin sebelum kesuksesan dzahir.

Dengan demikian, dalam pendidikan Islam yang pertama kali harus dilihat dan dikoreksi adalah hati. Maka perbaiki hati terlebih dahulu. Sebab ketika hati sudah bagus, maka akan memancarkan terhadap semua tubuh. Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya dalam badan terdapat segumpal daging. Apabila baik, maka semua jasad ikut baik, dan apabila segumpal daging rusak, maka semua badan juga rusak. Maka ingatlah segumpal daging itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Jamaah mengutip perkataan sebagian ulama “Ilmu adalah ibadah sirriyah, samar, ibadah hati dan batin. Maka layaknya sholat, ibadah jawarih yang tidak sah kecuali dengan mensucikan diri dari najis dan hadast adalah mencari ilmu yang tidak sah kecuali mensucikan hati dari sifat-sifat yang tercela dan akhlak yang jelek”. Begitulah pentingnya memperbaiki hati sebelum mencari ilmu. Maka dalam tradisi Islam, hendaknya sebelum menimba ilmu perbaiki hati dari segala sifat jelek, seperti dengki, prasangka buruk, pendendam, dan seterusnya.

Selain itu, memperbaiki niat dan tujuan. Niat yang baik akan menghasilkan prilaku dan tindakan yang baik pula. Maka wajib bagi orang yang mencari ilmu harus menanamkan niat yang tulus karena Allah, menghidupi syariat, mengamalkan ilmu, agar hatinya bersinar dan dekat dengan Allah kelak. Maka sangat dikecam jika niat mencari ilmu hanya bersifat dunia, pangkat, kehormatan, kemasyhuran, dll. Islam sangat mewanti-wanti dalam niat. Sufyan al-Tsauri berkata: “Saya tidak memperbaiki sesuatu yang lebih diprioritaskan dari pada niatku”.

Selain niat dan tujuan pendidikan, juga terdapat tirakat yang hampir punah. Tirakat di sini, saya artikan sebagai perlawanan kekangan hidup yang tidak enak, seperti menghadapi pakaian, makanan, dan tempat yang tidak layak dan nyaman. Pencari ilmu saat ini, mungkin sudah tidak seperti dulu lagi, dengan segala fasilitas dan kebutuhan pendidikan yang hampir semua terpenuhi. Namun, kalau kita berpikir, dengan tirakat sebenarnya belajar banyak hal dalam melihat kehidupan. Simplenya, orang yang mencari ilmu sambil tirakatan mendapatkan dua pelajaran, pelajaran mencari ilmu dan pelajaran dari tirakat itu sendiri.

Tirakat adalah lambang kesungguhan dalam mencari ilmu. Ulama’-ulama’ terdahulu sudah terbiasa dengan tirakat, baik dengan cara riyadloh, puasa, dan kefakiran yang hal ini semua mungkin sudah mulai terasingkan dari para pendidik saat ini. Mungkin sebab hilangnya tirakat, maka berkembangnya dan barokahnya ilmu mulai berkurang. Kita perlu introspeksi.

Imam Malik berkata: “Seseorang tidak akan pernah mencapai ilmu yang dia inginkan sampai kefakiran memodlorotinya dan mempengaruhi terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengannya”. Imam Syafi’i juga berkata: “Seseorang tidak akan sukses mencari ilmu dengan kemulyaan dan tingginya jiwa, akan tetapi orang yang mencari ilmu dengan jiwa yang hina, sempitnya kehidupan serta khidmat kepada ulama’ maka dia akan sukses”. Dari dua perkataan ulama’ madzhab ini, kita diberi tahu bahwa tirakat dengan segala bentuk ke-tidak nyamanan jiwa dan raga akan memberikan kesuksesan mencari ilmu.

Maka dengan demikian, di era sekarang, perlu menumbuhkan tirakat kembali, setidaknya dengan menghilangkan apapun yang menggangu pikiran, dan kefokusan hati dan pikiran. Hilangkan kegundahan dan kegalauan jiwa. Maka sangat dianjurkan saat mencari ilmu agar tidak tunangan dan menikah, sebab hal ini membuyarkan hati dan pikiran. Manusia hanya diberi satu hati agar fokus satu tujuan sebagai mana firman Allah surah al-Ahzab ayat 4. Maka fokuskan jiwamu untuk belajar sebagai tirakat yang ringan, dan sambil lalu puasa, riyadlah, dan tidak menuruti nafsu dengan makanan, pakaian, dan tempat sebagai tirakat yang luar biasa.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, sebagai Penanggung Jawab Badan Otonom Logika dan Ushul Fiqh.