Pesantren dan Ekonomi Masyarakat Religius

ADMINPESANTREN Jumat, 20 Maret 2020 08:07 WIB
3340x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Ekonomi Pesantren

Oleh: Faiqoh Bahjah Ls.*

Modernisasi bukanlah hal yang seharusnya ditakuti bahkan dihindari. Khawatir terjerumus pada westernisasi sejatinya lebih bergantung pada pola kinerja dan pemikiran pelakunya. Tidakkah memajukan Islam di berbagai lini kehidupan secara pasti akan bersentuhan dengan kegiatan modernisasi itu sendiri.

Pesantren dan Madura merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Kontribusi pesantren pada kehidupan masyarakat Madura dirasakan sangat besar. Sebagaimana telah menjadi pilihan pokok bagi setiap orang tua memilih pesantren sebagai tempat pendidikan bagi putra-putrinya. Pesantren pada saat telah melakukan banyak transformasi, bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu agama. Pondok pesantren telah meninggalkan perspektif kuno yang menganggap bahwa pendidikan di pondok pesantren terkesan kolot dan ketinggalan zaman. Banyak sekali pondok pesantren di Indonesia, khususnya di Madura, yang telah melengkapi dunia kependidikan di dalamnya dengan ilmu-ilmu umum seperti, ilmu sains, ilmu kejuruan, ilmu bela diri, kesenian, kerajinan, pramuka, teknik, ekonomi, dan lain sebagainya. Hal tersebut sekiranya dimaksudkan bahwa generasi Islam tidak hanya harus menguasai pengetahuan agama seputar membaca kitab dan tentang hukum-hukum Islam, melainkan generasi Islam juga harus mampu bersaing sampai kancah Internasional.

Suharti dalam tulisannya tentang "Problem Kelembagaan Pengembangan Ekonomi Pondok Pesantren" mengemukakan, pondok pesantren dengan berbagai harapan dan predikat yang dilekatkan padanya, sesungguhnya berujung pada tiga fungsi utama yang senantiasa diemban, yaitu :

Pertama, sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (Center of Excellence). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (Human Resource). Ketiga, sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan melakukan pemberdayaan pada masyarakat (Agent of Development). Pondok pesantren juga dipahami sebagai bagian yang terlibat dalam proses perubahan sosial (Sosial Change) di tengah perubahan yang terjadi.

Perubahan menuju perkembangan berkelanjutan tentunya tidak luput dari adanya peran penting Human Resource sebagai penggagas dan penggeraknya. Madura saat ini sudah banyak mendapatkan perhatian setelah menarik perhatian pihak dari luar Madura yang dapat melihat potensi besar yang dimiliki. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri sebab adanya pembangunan jembatan Suramadu yang mempermudah akses menuju Madura. Selain dapat memangkas waktu dan biaya perjalanan yang semula harus ditempuh dengan rata-rata waktu sektar 1 jam denga kondisi laju normal, saat ini akses Madura – Surabaya atau sebaliknya sudah dapat ditempuh dengan waktu 15 menit. Adanya jembatan Suramadu juga berdampak pada bertambahnya data penduduk di Madura. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya permintaan hunian baik di daerah perkotaan ataupun investasi yang dilakukan di pedalaman.

Potensi Madura yang mengalami banyak perubahan perkembangan tersebut secara sepintas memberikan kesan yang sangat positif, akan tetapi jika sumber daya manusia di Madura tidak siap dengan adanya perubahan tersebut, maka hal ini justru akan menjadi boomerang yang akan menggeser sumber daya manusia Madura dan menggerus sedikit demi sedikit kebudayaan asli Madura.

Pesantren pada kenyataannya adalah merupakan lembaga berbasis rakyat yang mempunyai potesi besar, selain dalam pendidikan juga dalam perkembangan perekonomian. Jika pesantren tidak mau bergerak mengambil posisi dalam perekonomian, maka pesantren selamanya hanya akan menjadi penonton. Pada akhirnya potensi tersebut akan diambil alih oleh lembaga-lembaga ekonomi mikro lainnya yang kemungkinan besar hanya akan mencari profit sebanyak-banyaknya tanpa mempunyai komitmen dalam tanggung jawab sosial (Coorporate Social Responsibility) untuk sama-sama membangun Madura.

Sasaran akhir dari pemberdayaan ekonomi pesantren adalah kemandirian pesantren itu sendiri. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Akhmad Faozan, dalam Jurnalnya yang berjudul "Pondok Pesantren dan Pemberdayaan Ekonomi", selama ini pesantren selalu dilabeli dengan nama lembaga pengedar proposal dana bantuan, baik pada institusi formal atau non formal. Labelling itu tentunya tidak mengenakkan. Pesantren akan terbebas dari anggapan itu kalau pondok pesantren menjadi lembaga yang kuat, terutama dalam sektor ekonomi. Dengan sendirinya, tidak setiap ada kegiatan, apakah membangun gedung atau kegiatan lain, tidak selalu sibuk mengedarkan proposal kesana-kemari.

Ada beberapa kendala yang dianggap sebagai penghambat kemajuan ekonomi pesantren oleh Akhmad Faozan dalam Jurnalnya, yaitu :

Sumber Daya Manusia

Kendala utama dalam stagnansi perekonomian baik Madura, atau secara luas di Indonesia adalah terletak pada sumber daya manusia. Indonesia jika dbandingkan dengan beberapa Negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Brunai Darussalam, dan Malaysia masih terlampau sangat jauh. Di mana jumlah pengangguran yang terdata masih sebesar 38,5 Juta (data dari United Nations for Development Program), jumlah ini diperkirakan akan tetap mengalami kenaikan setiap tahunnya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya penyerapan skill yang ada pada sumber daya manusia.

Bagaimana dengan SDM pesantren? Pesantren tidak hanya cukup fokus pada satu kemampuan, yaitu mencetak pemikir-pemikir agama, tetapi sekaligus praktisi-praktisi sosial dengan basis agama. Untuk keperluan inilah berbagai ilmu dan kemampuan terapan sangat dibutuhkan. Ini yang harus menjadi PR besar untuk pesantren guna lebih mempersiapkan potensi SDM-nya dalam bidang ekonomi.

Kelembagaan

Secara struktural kelembagaan pada pesantren terbagi menjadi dua model :

1. Integrated Structral

Model ini menunjukkan bahwa setiap unit bidang yang berada di bawah naungan pesantren menjadi bagian tidak terpisahkan dengan pesantren. Model lembaga seperti ini akan mengalami masalah yang rumit ketika setiap unitnya tidak memiliki Job Discription, termasuk hak dan kewenangan yang jelas. Karena pusat pengambilan keputusan tetap pada satu kendali, yaitu Pengasuh/Kiai.

2. Integrated Non-Structural

Unit atau bidang usaha yang dikembangkan oleh pesantren berdiri terpisah secara struktural organisatoris. Artinya, setiap bidang usaha mempunyai struktur tersendiri yang independen. Meski demikian, secara emosional dan ideologi tetap menyatu dengan pesantren. Kontribusi yang diberikan terhadap pesantren dari tiap unit bidang dari model ini adalah berubah fee. Model kelembagaan seperti ini biasanya mengadopsi sistem manajemen modern. Oleh karena itu, yang menjadi tolak ukur kinerjanya adalah profesionalisme.

Inovasi dan Net-Working

Pesantren saat ini masih begitu enggan untuk melakukan inovasi yang mendukung untuk melebarkan sayapnya menjadi sebenar-benarnya Agent of Development yang harus menguasai berbagai bidang seperti; wawasan, komunikasi, kekuasaan atau kekuatan, politik, dan modalitas ekonomi secara baik dan benar.

Pesantren harus mau dan berani membuka diri untuk menerima berbagai perubahan tanpa meninggalkan identitas ke-pesantren-an yang kental. Pesantren masih terkesan enggan untuk melakukan kerjasama baik kerjasama sesama lembaga pesantren ataupun dengan instansi terkait yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan pesantren. Perubahan identik dengan modernitas, dan sebagian kaum pesantren masih terlalu memandang sebelah mata terhadap modernitas ini sebagai ajang westernisasi. Padahal sesungguhnya, pesantren sendiri mampu untuk melakukan perubahan ke arah modernitas dengan kebudayaannya sendiri tanpa sedikitpun ber-kiblat terhadap budaya Barat.

* Penulis adalah lulusan Program Pasca Sarjana Managemen Ekonomi Bisnis Universitas Trunojoyo Madura. Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.