COVID-19, Isra’ Mi’raj dan Imunitas Ruhaniyah

ADMINPESANTREN Selasa, 24 Maret 2020 06:47 WIB
128x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Covid 19 Isra Miraj

Oleh: Muhammad Izul Ridho*

Covid-19 adalah nama pandemi yang ditetapkan badan kesehatan dunia WHO terhadap virus yang berasal dari pasar hewan di kota Wuhan China. Virus ini telah menjangkit pada ribuan umat manusia dan banyak dari mereka harus kehilangan nyawa. Banyak pemimpin yang telah melakukan tindakan pemcegaham dengan me-lockdown negara, daerah dan kota mereka. Akibatnya situasi perekonomian global juga ikut terguncang. Indonesia sebagai negara yang masih memiliki ketergantungan besar terhadap negara tetangga tidak cukup kebal menghadapi situasi ini, sehingga bisa disimpulkan bahwa pandemi ini telah sukses menciptakan krisis di banyak negara dan kota termasuk Indonesia.

Sebagai pemuda Indonesia khususnya para cendekiawan dan ilmuwan muda muslim, selain harus ikut aktif melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap krisis ini, baik dengan membantu pemerintah dalam memberikan edukasi pada masyarakat awam tentang virus Covid-19 dan upaya pencegahannya atau dengan melakukan penelitian untuk menemukan vaksin dari virus ini, mereka sudah seharusnya juga mengintrospeksi diri, apakah saat ini sudah berkelakuan sesuai dengan dua petunjuk utama peninggalan Rasulullah Muhammad SAW yaitu al-Qur'an dan al-Hadist, terlebih saat Covid ini merebak di Indonesia adalah bertepatan pada bulan Rajab.

Empat belas abad yang lalu bertepatan pada bulan Rajab, Tuhan telah menetapkan Rasulullah untuk melaksanakan perjalanan dari masjid al-haram ke masjid al-aqsa, sebuah perjalanan yang disebut dengan isra', dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa pada perjalanan ini Rasulullah saw mengendarai buraq (mahluk Tuhan yang tak dapat penulis gambarkan seperti apa). Dan perjalanan Rasulullah dari masjid al-aqsa ke sidratu al-muntaha (langit ketujuh), perjalanan ini disebut mi'raj. Dalam perjalanan ini Rasulullah mendapatkan perintah yang harus diamalkan oleh umatnya yaitu sholat.

Di dalam diri manusia terdapat tiga unsur yang harus senantiasa dijaga kesehatannya: akal, fisik dan ruh, ketiga unsur ini saling berkaitan jika salah satunya tidak sehat maka dapat mempengaruhi yang lainnya. Kesehatan akal manusia sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran hanya dapat dipenuhi dengan ilmu pengetahuan, manusia yang akalnya tidak sehat condong melakukan tindakan-tindakan di luar nalar normal dan menyebabkan kekacauan. Al-Quran juga menyebutkan bahwa imunitas fisik manusia dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal, baik dan bersih tentunya. Kesehatan akal dan fisik merupakan fokus kajian dan penelitian para ilmuwan dan tabib modern, mereka condong melupakan unsur ruhaniyah.

Adapun imunitas ruhaniyah dapat dipenuhi dengan memantapkan iman di hati serta terus beribadah dan selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Al-Quran menyebutkan manusia yang ruhnya sakit dengan sebutan maradh, seperti dalam ayat Fi qulubihim Marad.  Disadari atau tidak akhir-akhir ini pemuda muslim lebih banyak meluangkan waktunya untuk kepentingan duniawi dan sedikit waktu yang diluangkan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan, keseringan dari mereka menunda waktu solat demi menyelesaikan permainan game online, misalnya. 

Solat merupakan salah satu ibadah harian yang rutin dilaksanakan lima kali dalam sehari: subuh dilaksanakan pagi hari, dzuhur siang hari, ashar sore hari, maghrib petang menjelang malam dan isya' di malam hari. Kelima waktu solat ini adalah waktu yang sangat strategis dalam keseharian kita untuk mengistirahatkan fisik dan akal dengan cara khusu’ dalam menjalankan ibadah solat, memfokuskan diri dan pikiran kepada Tuhan pemilik alam semesta. Adi Hidayat menyebutkan bahwa ibadah yang di antaranya adalah solat merupakan salah satu dari cara untuk menjaga kesehatan ruhani (spiritual). Saat ruh terjaga kesehatannya maka manusia dapat dengan mudah untuk menjaga kesehatan fisik.

Menurut dari beberapa hasil penelitian dinyatakan bahwa virus Covid-19 merupakan virus yang menyerang manusia dari aspek fisik dan dapat dilawan dengan imunitas tubuh yang kuat, sementara para ilmuwan mencari dan membuat vaksin dari virus ini sudah selayaknya sebagai muslim untuk memperkuat imunitas kesehatan ruhaniyah dengan senantiasa menjaga dan menyegerakan dalam pelaksanaan solat baik yang hukumnya wajib maupun yang muakkadah.

Terlebih saat hendak melaksanakan solat, terdapat kewajiban berwudhu'. Dengan melaksanakan whudu sudah pasti akan senantiasa menjaga kebersihan tangan, muka dan kaki, anggota tubuh yang memiliki kemungkinan besar untuk berinteraksi dengan manusia atau benda yang terinfeksi covid-19. Sehingga dengan rutin mengerjakan solat, maka juga akan rutin menjaga kebersihan anggota tubuh, tangan, muka dan kaki sebagai ikhtiar menjaga kesehatan fisik. Terakhir penulis simpulkan bahwa bentuk refleksi dan implemetasi terhadap pelaksanaan isra’ dan mi’raj Rasulullah di tahun 2020 ini adalah dengan senantiasa menjaga ibadah solat untuk meningkatkan imunitas ruhaniyah.

*Penulis adalah Ketua Umum Persatuan Taftis Hadist Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata