Intervensi Non-muslim dalam Asal Mula Ajaran Tasawuf

ADMINPESANTREN Jumat, 27 Maret 2020 07:07 WIB
113x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Tasawuf Islam

Oleh: Zainul Muttaqin*

Jalur tasawuf merupakan jalur yang sangat sulit untuk dilalui seseorang, baik dari kalangan orang yang sudah mendalam ilmu syariatnya atau apalagi yang masih dangkal. Kesulitan tersebut terjadi karena pelaku tasawuf atau ahli sufi biasanya tidak sepenuhnya bisa menghindar dari yang namanya gemerlap dunia dan unsur-unsur dari dunia itu sendiri. Disadari atau tidak, sejatinya mulai dulu kita ingin sekali menempuh jalur sufi dan menekuninya melalui berbagai literatur buku dan kitab pedoman menyangkut masalah tasawuf dan sufisme atau dikenal juga oleh orientalis Barat dengan sebutan mistisisme dalam Islam. Tapi kenyataannya meskipun keinginan tersebut datang bertubi-tubi bahkan setiap waktu selalu tersemat dalam benak sanubari, sekali lagi hati kita masih belum mampu untuk sekadar menyelami dan menggandrunginya dalam rangka lebih mendekatkan diri pada Ilahi sekaligus memperoleh hubungan spesial dengan­­-Nya.

Seandainya hubungan ini benar-benar terjadi, maka barang tentu akan tejalin kontak komunikasi atau dialog batin antara ruh manusia dan Tuhannya serta tentramnya hati karena selalu berada di hadirat-Nya yang seakan-akan hal tersebut terjadi bukan di alam bawah sadar kita (kontak langsung). Termasuk di antara cara menempuhnya yaitu dengan cara mengasingkan diri atau mengisolasi diri (uzlah) selama mungkin, sampai pada batasan ittihad (bersatu) dengan tuhan sehingga hati merasa tidak bisa berdetak dan hidup kecuali menyatu dan berinteraksi dengan-Nya. Meskipun sebetulnya konsep ittihad ini ditentang oleh Imam Ghazali yang kemudian beliau menyodorkan konsep baru sebagai penggantinya yaitu konsep ma’rifat, yakni pendekatan diri kepada Allah (taqorrub ilallah) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya. Di antara caranya juga harus mampu mengendalikan gejolak dunia yang selalu mengintai dalam rentetan kehidupan sampai pada batasan hati tidak terpaut lagi dengan-Nya melalui fase zuhud (asketisme) dan fana (ekstase) manakala disebutkan asma’ Tuhan di hadapannya.

Menurut al-Ghazali dalam kitab Magnum Opusnya al-Munqidz min adh-Dhalaal menuturkan bahwa jalan menuju tasawuf baru dapat dicapai dengan mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga kalbu dapat lepas dari segala sesuatu yang selain Allah dan berhias dengan selalu mengingat Allah. Ia pun berpendapat bahwa sosok sufi adalah menempuh jalan kepada Allah, dan perjalanan hidup mereka adalah yang terbaik, jalan mereka adalah yang paling benar, dan moral mereka adalah yang paling bersih. Sebab, gerak dan diam mereka, baik lahir maupun batin, diambil dari cahaya dan lentera kenabian. Selain cahaya kenabian di dunia ini, tidak ada lagi cahaya yang lebih mampu memberi penerangan.

Mengenai pendefinisian tasawuf sendiri ulama berbeda pendapat, salah satunya adalah pendapat yang dikemukakan oleh Junaid al-Baghdadi;

التصوف حفظ الاوقات، قال: وهوان لايطالع العبدغيرحده ولايوافق غيرربه ولايقارن غيروقفه

          Artinya: “Tasawuf adalah memelihara waktu. lalu ia berkata; “Seorang hamba tidak akan menekuni (amalan tasawuf) tanpa aturan tertentu. Tidak tepat ibadahnya tanpa tertuju kepada Tuhannya dan merasa tidak berhubungan dengan Tuhannya tanpa menggunakan waktu (beribadah kepada-Nya)  

Uraian dari Junaid al-Baghdadi tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa lebih menekankan pada otoritas waktu dalam tasawuf itu sangat urgen sekali. Karena itu, bagi sebagian ahli sufi menganggap mayoritas waktu dalam kehidupannya tidak ada tujuan lain melainkan hanya untuk mengingat Allah dengan cara menggerakkan ibadah-ibadah sunah dan zikir. Bahkan, para ahli sufi mempunyai anggapan bahwa sistem ibadah yang hanya dikerjakan secara formal masih belum dianggap sempurna karena belum memenuhi kebutuhan spiritual kaum sufi, sedangkan sufisme itu adalah aspek yang sangat penting. Sebab sufisme tasawuf merupakan jantung atau urat nadi dari semua aktualisasi ajaran-ajaran Islam sehingga bernilai sempurna atau tidaknya suatu ibadah atau amaliah ajaran Islam tergantung dengan ketasawufannya atau kesucian hatinya.

Terlepas dari pandangan ulama’ mengenai pengertian tasawuf tadi, ternyata tasawuf yang sering kita temui dalam khazanah dunia Islam dilihat dari sudut pandang sumber atau asal-usulnya menuai konfrontasi yang sangat apik, baik di kalangan cendekiawan Islam sendiri maupun non-muslim sekalipun. Mereka yang kontra mengasumsikan bahwa tasawuf Islam pada dasarnya bersumber dari agama-agama lain. Pendapat yang bernada kontra tersebut diwakili oleh kalangan orientalis Barat dan sebagian kelompok Islam yang terpengaruh olehnya. Melalui berbagai tulisan atau jurnal, mereka semua mencoba memalingkan kerohanian tasawuf atau mistisisme dalam Islam pada sumber-sumber asing. Di samping sumber-sumber al-Quran dan kehidupan Rasulullah, mereka mengatakan tasawuf dalam Islam tumbuh karena banyak terpengaruh oleh konsep-konsep kerohanian di luar Islam. Antara lain terpengaruh dari ajaran Agama Hindu, Agama Persia, Agama Masehi, pemikiran Filsafat Yunani, dan ajaran Neo Platonisme.

Hal ini sesuai dengan ulasan yang ditorehkan oleh al-Wafa’ al-Ghanimi at-Taftazani bahwa sejak permulaan abad ke-19 sampai akhir-akhir ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan orientalis tentang asal-usul tasawuf. Ada sebagian yang beranggapan tasawuf berasal dari Masehi (Kristen). Ada juga yang mengatakan dari unsur Hindu-Budha, unsur Persia, unsur Arab dan sebagainya. Sehingga dari sepak terjang yang sengaja mereka buat mengakibatkan banyaknya komentar keras dan pedas yang diajukan oleh barisan ulama yang pro terhadap keotentikan tasawuf bersumber dari Islam.

Berbagai asumsi mengenai tasawuf Islam yang coba dilarikan pada kebudayaan asing, mengiringi pula berbagai penelitian oleh kalangan orientalis dan orang yang terpengaruh olehnya sebagai bahan penguat dari hasil penelitian dalam problem tersebut. Namun, dari hasil penelitian tersebut terlalu panjang sehingga mungkin oleh penulis bisa disimpulkan dengan sekilas saja. Semisal, Von Kromyor dan Nicholson yang dibenarkan pula oleh Goldziher berpendapat bahwa tasawuf merupakan buah kenasranian pada zaman jahiliyah. Noldiker menambahkan bahwa pakaian wol kasar (bulu domba) yang biasa dipakai oleh ahli sufi adalah milik Agama Nasrani. Sementara Darwis al-Birawi mempunyai catatan bahwa ada kemiripan antara konsep tasawuf Islam dengan ibadah Hindu yang kemudian catatan tersebut ditentang oleh Qomar Kailani, dia menganggap pendapat ini terlalu ekstrem karena kalau misalkan pendapat tersebut diterima. Maka berarti pada zaman Rasulullah ajaran Hindu sudah berkembang di Mekkah. Padahal dalam sejarah masih belum ada kesimpulan seperti itu. Berbeda dengan pendapat Mir Valiudin, dia menganggap banyaknya pengaruh filsafat Yunani, khususnya Neo-Platonisme di dunia tasawuf, dan masih banyak pendapat lain yang juga kontra dengan masalah tersebut.

Menurut penulis, kecenderungan mereka yang berpendapat bahwa asal-usul tasawuf bersumber dari luar Islam, karena paradigma mereka itu hanya melihat pada keidentikan atau kemiripan ajaran Islam dengan ajaran non-Islam saja, tanpa menelisik lebih jauh komponen-komponen yang disuguhkan dari kedua ajaran tersebut. Sehingga, jelaslah bahwa sebenarnya antara kedua konsep dari masing-masing ajaran ini ada perbedaan sangat menonjol yang tidak ada keterkaitan antara satu sama lainnya, meskipun secara sekilas ada kemiripan yang sulit untuk dipisahkan antara keduanya. Di samping itu, paradigma mereka kebanyakan dibangun dari hasil pemikiran logika yang dipengaruhi oleh situasi sosial. Paradigma tidak adil itu jelas akan melihat kemiripan-kemiripan antara satu kasus dengan kasus lainnya sebagai hal yang sama dan bersumber dari hal yang sama pula. Sedangkan bagi ahli tasawuf muslim yang berpikiran moderat, Abdul Halim Mahmud misalnya, menganggap bahwa faktor timbulnya tasawuf bersumber dari al-Quran dan Hadis, bukan pengaruh dari luar Islam. Berdasarkan dua sumber itulah benih-benih tasawuf itu muncul, kemudian berkembang mengiringi berkembangnya ajaran tasawuf dari luar Islam.

*Penulis adalah Mahasiswa IMABA Mesir, Berasal dari Sumenep.