Islam dan Kelas Sosial

ADMINPESANTREN Jumat, 17 April 2020 06:32 WIB
342x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh: Sihabuddin, S.I.Kom,.M.I.Kom

Pembahasan tentang kelas sosial dalam Islam sangatlah luas karena akan terkait dengan berbagai disiplin keilmuan. Apalagi pembahasan ini merupakan rumpun ilmu sosial yang hasilnya tidak pasti tergantung dari sudut pandang pembahasan. Berbicara tentang Islam dan kelas sosial maka tidak akan luput dengan pembahasan tentang muslim, karena jika membahas Islam dan kelas sosial tentunya lebih menekan pada perilaku muslimnya di tengah-tengah masyarakat. Seperti yang kita ketahui Islam adalah agama sedangkan muslim adalah pemeluk atau penganut dari agama Islam tersebut atau lebih simplenya Islam adalah ajaran, muslim adalah orang yang mengikuti ajaran Islam. Namun, yang pasti di mata Allah Swt orang yang paling tinggi derajatnya bukan karena status sosialnya di tengah-tengah masyarakat, tapi karena keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Allah berfirman “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS. Al-Hujarat: 13).

Umumnya kelas sosial atau stratifikasi sosial seseorang dalam masyarakat Islam dilihat dari keilmuan dan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Contoh konkritnya seorang guru atau ustad kelas sosialnya lebih tinggi dari seorang murid, seorang ulama sangat dihormati oleh masyarakat karena ketinggian ilmu dan ketaatannya dalam menjalankan perintah agama. Maka dari itu, dalam lingkungan pesantren dan masyarakat luas seorang ulama sangat dihormati dan dipatuhi oleh santri-santrinya karena memiliki ilmu yang tinggi dan taat menjalankan perintah agama. Selain karena dalam ajaran Islam seorang santri atau murid memang wajib tunduk pada perintah ustad atau guru selama tidak menyalahi syariat. Kelas sosial ini tidak mengikat secara turun temurun. Kelas sosial ini bisa berubah-ubah tergantung usahanya. Seorang yang terlahir dari keluarga biasa bisa menjadi ulama besar jika orang tersebut sungguh-sungguh dalam belajar dan taat terhadap agama. Sehingga kelas sosialnya bisa terangkat berkat usaha dan ketaatannya meskipun berasal dari keluarga biasa.

Penyetaraan kelas sosial bahwasanya manusia itu sama dalam ajaran Islam kecuali keimanan dan ketakwaanya pada Allah Swt sudah dipraktikan Nabi Muhammad Saw 14 abad yang lalu. Pada zaman jahiliyah sebelum Nabi Muhammad diutus, perbedaan kelas-kelas sosial sangat terasa, para penguasa bebas melakukan segalanya terhadap orang miskin dan yang dianggap lemah termasuk para budak yang dilucuti segala hak-haknya sebagai manusia. Perlakuan terhadap gender sangat timpang, anak perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap memalukan. Namun, sejak Nabi Muhammad diutus tidak ada perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin semuanya dianggap sama bahkan Rasulullah memulyakan orang miskin.

Stratifikasi sosial dalam Islam tidak seperti halnya dalam agama Hindu yang disebut dengan kasta. Dalam agama Hindu umumnya terdapat empat kasta mulai dari yang paling tinggi yaitu Brahmana, Ksatria, Waisa, dan Sundra yang paling rendah, bahkan ada yang lebih rendah dari Sundra. Penggolongan kasta ini sangat ketat, orang dari golongan Brahmana tidak  boleh menikah dengan golongan Waisa, Sundra, dan lainnya. Pernikahannya harus satu tingkatan sehingga hubungan antara kelompok sosial dalam kasta menjadi sangat terbatas dan eksklusif. Namun, hukum kasta seperti ini sudah mulai longgar bahkan konon di Bali hukum kasta ini tidak diberlakukan. Berbeda dengan di Bali, di India hukum kasta masih berlaku berdasarkan ulasan tirto.id (04/05/2018) yang bersumber dari Human Right Watch, Biro Sensus India, BBC, & India Today bahwasannya ada kasta Dalit yang mana kasta ini dipandang lebih rendah dari keempat kasta tersebut sehingga orang dari kasta ini masih mengalami diskriminasi, pengecualian, segregasi sosial dan lainnya. Pada tahun 2011, kasta yang terbuang ini mencapai 16,6 % dari populasi India.

Bentuk Kelompok dan Kelas Sosial Masyarakat Jawa dan Madura

Islam diturunkan tujuannya untuk memperbaiki akhlak sosial masyarakat yang awalnya diturunkan di tengah-tengah masyarakat Arab yang waktu itu masih jahiliyah, kemudian menyebar ke seluruh dunia dengan berbagai kondisi sosial masyarakat yang berbeda. Sehingga menghasikan bentuk kelas sosial yang berbeda-beda tergantung dengan budaya dan adat istiadat yang terjadi di tengah kelompok masyarakat yang berbeda tersebut. Maka tidak heran, jika bentuk dan kelas sosial masyarakat antara masyarakat Islam di Arab dan wilayah lainnya di seluruh dunia bentuknya berbeda-beda. Namun, secara esensi sama yaitu tetap lebih menghormati orang yang berilmu agama dan taat terhadap agama Islam. Bahkan, dalam satu negara pun bentuk kelas sosial masyarakat Islam bisa berbeda, seperti bentuk kelas sosial masyarakat Islam di Jawa dan Madura.

Masyarakat Jawa menurut Clifford Gerts dalam bukunya The Religion of Java terdapat tiga bentuk golongan yaitu santri, priyayi, dan abangan. Kaum santri yang dikenal paling taat menjalankan ajaran Islam perannya lebih banyak di kegiatan agama, pada urusan administrasi dan politik umumnya dipandang tidak begitu berperan. Sebab, biasanya yang dipandang paling berperan dalam urusan politik dan administrasi adalah kaum priyayi seperti keluarga sultan atau raja dan sebagainya. Sedangkan kaum abangan biasanya beragama Islam tapi dikenal kurang taat dalam menjalankan agama Islam. Namun, ketiga bentuk golongan masyarakat Islam di Jawa ini dikritik oleh beberapa ilmuwan karena dinilai kurang sesuai dengan realita masyarakat Jawa. Sebab seorang priyayi bisa dibilang masyarakat santri jika priyayi tersebut sangat taat dalam menjalankan agama Islam, seperti Pangeran Dipenogoro pemimpin perang Jawa selama lima tahun melawan penjajah Belanda. Beliau merupakan Putra Sulung dari Sultan Hamengkubuwana III yang masih keturunan penguasa Pamekasan Madura dari nenek pihak ayahnya. Pangeran Dipenogoro secara garis keturunan jelas beliau seorang priyayi namun melihat dari ketaatannya dalam menjalankan agama Islam, pangeran yang bercita-cita meninggal di Mekkah ini masuk pada kategori masyarakat santri, bahkan dalam kesehariannya beliau memakai surban seperti yang biasa dipakai oleh sebagian ulama.

Dengan melihat Pangeran Dipenogoro tentunya penggolongan masyarakat Jawa dengan ketiga bentuk golongan tersebut wajar dinilai kurang pas begitu pula dengan kelas sosialnya karena akan membingungkan. Belum lagi saat ini banyak sekali kaum abangan yang sudah tidak abangan lagi. Banyak dari kaum abangan yang belajar agama Islam entah itu di kampus, sekolah, bahkan pesantren dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga juga bisa disebut dengan masyarakat santri meski tidak belajar di pondok pesantren. Sebab, dalam tradisi masyarakat Jawa seseorang bisa disebut masyarakat santri jika taat menjalankan ajaran Islam. Nah, terus bagaimana jika yang awalnya dari golongan santri bahkan pernah belajar di pondok pesantren namun tidak taat menjalankan agama Islam. Apakah masih bisa disebut dengan masyarakat santri? Membingungkan bukan. Maka dari itu, tidak heran jika penggolongan bentuk masyarakat Jawa ini dikritik. Apalagi saat ini kondisi masyarakat Jawa sangat berbeda dengan dulu, sehingga penggolongan ini semakin tidak sesuai di samping makna santri yang semakin banyak dikarenakan berbagai hal serta kepentingan. Selain itu, dengan penggolongan seperti ini dikhawatirkan akan terjadi sekat-sekat antara umat Islam di Jawa.          

Di Madura yang dikenal dengan keislamannya juga terbagi dalam tiga golongan. Umumnya di Madura membagi kelompok masyarakatnya dengan latar belakang profesi yaitu ada golongan Keyaeh (Kiai), Pongghebeh (Pegawai), dan Bungkalatan (Petani dan sebagainya). Dari ketiga pembagian kelompok masyarakat ini, golongan kiailah yang paling dihormati. Bahkan antar kiai pun sangat menghormati karena kiai selain tokoh juga guru agama yang mana kedudukannya bagi orang Madura posisinya ada di nomor dua setelah orang tua, kemudian seorang pemimpin “Bappak, beppuk, ghuruh, ratoh”.

Penggolongan kelompok sosial ini bukan seperti kasta, tapi melihat dari profesi dan perannya, lagipula penggolongan ini tidaklah mengikat. Seseorang yang dari keluarga bungkalatan bisa menjadi kiai dan bahkan sangat dihormati asalkan orang tersebut pandai ilmu agama dan bagus attitudenya di tengah-tengah masyarakat serta menjadi menantu kiai atau menikah dengan keluarga kiai.

Gelar dan Peran Ganda Tokoh Agama di Bebarapa Wilayah di Indonesia.     

Umumnya bentuk kelas sosial masyarakat muslim di seluruh dunia sama, hanya istilahnya yang berbeda-beda. Secara umum pemimpin agama biasanya disebut dengan Ustad, Syekh, Imam, Ulama dan Mufti. Namun ada beberapa sebutan lain yang disesuaikan dengan bahasa dan kondisi sosial daerah masing-masing namun secara peran sama dengan istilah-istilah yang biasa didengar selama ini. Di Thailand misalnya, negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Budha namun memiliki populasi muslim yang cukup besar dan umumnya tinggal di daerah Thailand Selatan ini menyebut ulama atau mufti dengan sebutan Chularajmontri. Sedangkan di China yang memiliki keterikatan sejarah panjang dengan Islam menyebut ulama dengan sebutan Wu li ma. Sedangkan di Iran, Turki, negara-negara Asia Tengah dan India bahkan Rusia memberikan gelar dengan sebutan Mullah dan tentunya ada gelar lain. Selain gelar-gelar tersebut masih banyak gelar-gelar lain untuk penyebutan tokoh agama Islam di berbagai negara bahkan dalam satu negara berbeda-beda sebutannya seperti di Indonesia.

  Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia yang memiliki beragam suku dan bahasa memiliki banyak sebutan atau gelar untuk pemimpin agama Islam. Gelar tersebut maknanya sama namun sebutannya berbeda. Seperti Kiai yang umumnya digunakan di Jawa dan Madura namun saat ini sudah digunakan secara nasional, Lora dan Bindere di Madura, Gus di Jawa Timur dan Jawa Tengah, Tuan Guru di Nusa Tenggara Barat, Ajengan di daerah Jawa Barat atau Sunda, Buya di Sumatera Barat, Tofanrita di Sulawesi Selatan, Teungku di Aceh, Gurutta di Makasar, Datu di Kalimantan Selatan dan berbagai nama gelar tokoh agama lainnya.

Pemimpin agama di Indonesia bisa juga menjadi pemimpin pemerintahan (ulama dan umara) tergantung kondisi sosial masyarakatnya. Biasanya semakin kuat keislaman suatu kelompok suku maka untuk menjadi pemimpin agama dan pemimpin pemerintahan semakin terbuka. Contohnya di Madura yang masyarakatnya dikenal sangat menghormati kiai, mayoritas bupati di setiap kabupaten berlatar belakang seorang kiai. Di Maluku Utara yang merupakan tempat kesultanan Ternate, Kesultanan Islam di Timur Indonesia yang masih berdiri sampai sekarang, gubernurnya seorang kiai, yaitu KH Abdul Ghani Kasuba. Di Jawa Barat yang mayoritas dihuni oleh Suku Sunda, di mana jika ada orang Sunda tidak beragama Islam akan dianggap aneh meskipun ada pula orang Sunda yang non muslim, di samping itu populasi terbesar umat Islam Indonesia jika dilihat dari lingkup provinsi ada di Jawa Barat memiliki seorang gubernur dua periode yang berlatar belakang ustad atau pendakwah yaitu Ahmad Heryawan. Di Kota Padang yang dihuni suku Minangkabau yang mana jika ada orang Minang yang non muslim atau murtad tidak akan dianggap sebagai orang Minang memiliki wali kota yang berlatar belakang muballig/ustad, yaitu Mahyeldi Ansharullah Wali Kota Padang dua periode. Di Pasuruan yang terletak di daerah pesisir Utara Jawa, yang mana Utara Pulau Jawa dikenal dengan basis santri karena masuknya Islam di Jawa bermula dari Pantura, memiliki seorang bupati bergelar gus yaitu Gus Irsyad Yusuf. Selain nama-nama tersebut, masih banyak tokoh agama Islam di Indonesia yang juga menjadi pemimpin dalam dunia pemerintahan.

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, aktif menulis buku-buku khususnya dalam bidang Ilmu Komunikasi.