Ramadan di COVID-19 Bukan Berarti Tidak Ada Peluang

ADMINPESANTREN Jumat, 1 Mei 2020 06:38 WIB
309x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh: Roni Gunawan*

Ramadhan tahun ini dapat dipastikan bernuansa berbeda dengan Ramadhan sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang melanda negeri inilah biang keroknya. Akan tetapi, di balik kisah susah gara-gara corona, terselip asa melunasi janji yang tak pernah tergapai. Apa kira-kira?

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Ramadhan akan terasa hampa. Setidaknya ketika tulisan ini dibuat, atau hari kedelapan puasa, hal tersebut yang saya rasa. Tak ada keramaian di masjid, tak ada kisah ngabuburit, dan tak ada lagi diskusi-diskusi perihal rencana buka puasa bersama akan menjadi cerita yang mewarnai hari-hari berpuasa saya di tahun ini.

Sebab mewabahnya virus corona, semua harus berubah. Kita berusaha adaptif mengatasi hal ini. Kebijakan social distancing yang dinaikan eskalasinya menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota membuat kita harus lebih banyak diam di rumah. Sejatinya berdiam diri di rumah saat ramadhan ini hanyalah perpanjangan masa #DiRumahAJa yang sudah diberlakukan sebulan sebelumnya.

Tentu saja saya sedih menghadapi kenyataan ini. Namun, setelah dirasa-rasa selama delapan hari awal Ramadhan ini, rasanya ada sedikit optimisme bagi saya untuk menggapai target pribadi di setiap bulan puasa yang tak pernah tercapai. Ya, saya ingin lebih produktif selama bulan puasa ini. Maksudnya bagaimana?

Begini, setiap kali Ramadhan datang, bulan penuh berkah ini menjelang, saya selalu menargetkan diri agar bisa melaksanakan aktivitas lebih dari bulan-bulan lainnya, baik itu perihal ibadah maupun soal duniawi. Bukan apa-apa, ustadz saya pernah bilang suatu hari, bahkan untuk urusan dunia pun asalkan itu memiliki nilai kebaikan, akan dicatat sebagai ibadah. Apalagi yang berhubungan dengan ibadah itu sendiri, di bulan suci ini pahalanya akan berlipat ganda.

Targetnya seperti apa? Saya biasa mentargetkan untuk bisa khatam qur'an, shalat tarawih full, dan mengerjakan proyek Z-Contractor Indonesia setiap harinya. Akan tetapi, target-target itu hanyalah sebatas harapan yang tak tercapai. Alih-alih memaksakan diri untuk menggapai target tersebut, yang ada saya malah kedodoran di tengah jalan. Biang keroknya tiada bukan karena rutinitas lain yang banyak menyita waktu. Iya, biarpun saat puasa tapi kampus dan kantor tak memberikan kompensasi pengurangan kerjaan dan mata kuliah. Yang ada hanya penyesuaian jam kerja, begitu pula jam kuliah.

Kabar bagusnya, puasa tahun ini sepertinya saya akan bisa mencapai target pribadi saya tersebut. Alasannya apalagi kalau bukan kebijakan work from home yang membuat saya punya banyak waktu luang di rumah.

Ternyata di balik wabah corona, ada peluang kebaikan yang bisa kita raih. Mumpung banyak waktu luang di bulan Ramadhan ini, harapannya puasa kali ini saya bisa menjadikannya lebih produktif untuk menggapai target pribadi saya. Jadi, apa saja target saya? Kalau boleh saya berbagi pada kalian, maka beginilah kira-kira.

One Day One Juz, ini jadi harapan utama saya di Ramadhan kali ini. Malu rasanya tiap Ramadhan berniat ngaji satu juz perhari demi khatam al-Qur'an dalam sebulan tapi gak pernah tercapai. Padahal ada banyak tips yang menyarankan agar lebih ringan, yaitu membaca Qur'an sebanyak 2 lembar mushaf ba’da sholat fardhu. Namun tetap saja, saya banyak bolongnya. Kali ini semoga saja bisa sesuai target. Setidaknya selama empat hari ini saya sudah bisa mencapai empat juz. Semoga saja istiqomah.

Tarawih tanpa bolong. Ini juga jadi target yang selalu saja meleset di tahun-tahun lalu. Capai, tugas kampus, perjalanan dinas organisasi, jadi alasan yang terasa logis untuk saya mengabaikan sholat tarawih. Tahun ini sih maunya bisa full sebulan penuh bisa sholat tarawih. Tahun ini semoga saja saya bisa lebih disiplin lagi rutin menjalankan sholat tarawih. Selama WFH rasanya saya gak bakal pergi kemana-mana.

Kemudian, mempelajari skill baru. Yups, selama masa pandemi ini, mendadak banyak yang menawarkan kursus online, baik gratisan maupun berbayar. Jauh sebelum puasa, saya sudah ikutan kelas-kelas online untuk mengasah skill saya. Bulan Ramadhan ini saya masih mentargetkan untuk mengasah skill baru dengan mendaftar pada beberapa kelas online.

Kelas online yang saya ikuti di antaranya matchmaking Event Pameran Penelitian ikatan Ilmuan Indonesia International. Dari bocoran materinya saya bisa kenal dan mendapatkan E-mail dari profesor Indonesia yang mengajar atau tinggal di luar negeri, lumayan untuk apply beasiswa S2 suatu hari nanti.

Kelas lainnya, adalah Virtual International Camp, disini saya bisa bertemu dengan banyak mahasiswa dari berbagai negara yang diadakan oleh Binus University. Saya bisa belajar negosiasi, memperlancar bahasa Inggris, sampai menemukan partner bisnis di sini.

Itulah beberapa target yang menjadi harapan saya untuk bisa dicapai pada Ramadhan tahun ini. kebijakan pemerintah yang mewajibkan masyarakat untuk di rumah saja bisa menjadi peluang besar bagi saya dan kita semua untuk mewujudkan harapan.

Btw, kalau kalian, apa harapannya di Ramadhan tahun ini?

*Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surabaya.