Refleksi Ramadhan Era Pandemi

ADMINPESANTREN Selasa, 5 Mei 2020 04:26 WIB
170x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh : Moh. Makinun Amien*

Wabah yang merebak ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia bahkan juga Madura berdampak besar terhadap sistem pertumbuhan manusia di segala bidang. Banyak harapan dari masyarakat, pandemi berakhir pada bulan Ramadhan ini. Sebagai bulan ampunan dan bulan mubarak, pandemi menjadikan masyarakat sedikit was-was dalam beribadah. Benar, bahwa segala sesuatu Allah yang mengatur, jodoh, rejeki hingga ajal kematian. Namun jika tidak mempunyai langkah yang jelas hanya berkutat dalam keragu-raguan tidak akan menghasilkan solusi.

Ketika ditetapkannya beberapa kabupaten di Madura sebagai zona merah, kekhawatiran itu semakin menjadi. Serasa lebih besar dari kekhawatiran isu soal dzuhon di pertengahan Romadhan nanti, Naudzubillahi...! Bagaimana tidak demikian, jika beberapa akses perekonomian ditutup, persediaan pangan mulai surut, dan uang tabunganpun mulai menyusut, hal seperti ini “semoga tidak terjadi” menjadikan kita semua takut. Bisa saja kita selamat tidak mati karena virus, namun tidak menutup kemungkinan mati karena takut atau lapar karena semua akses ditutup.

Mati itu pasti datang, namun syukur tidak boleh hilang atas nikmat yang sampai saat ini kita rasakan. Bahwa segala sesuatu kekuatan yang ada pada diri ini tak ubahnya hanya belas kasih Tuhan sehingga kita, saudara, dan seluruh kerabat semuanya, kita ajak untuk bersyukur dan memohon ampunan. ”Maasyaa Allahu Kaana Laahaula Walaaquwwata illa billahi”. Berharap dengan kepada-Nya menjadikan diri kita tetap dalam lindungan Allah SWT dengan segala Nikmat-Nya. (Baca: Tarjuman)

Ungkapan tersebut lahir dari percikan iman, imanlah yang melandasi semua ibadah yang kita lakukan sebagai bentuk penghambaan pada Tuhan. Jika Ramadhan diibaratkan sebuah sistem, maka iman sebagai input, sedangkan puasa adalah proses, dan taqwa adalah output. Suatu perbuatan rasa syukur, sabar, ikhlas, dan taubat merupakan suatu bentuk cabang daripada iman, meyakini bahwa diri sebagai makhluk hanya bisa berusaha, selebihnya Tuhanlah yang kuasa.

Ramadhan di musim pandemi seperti ini, menjadi muhasabah tersendiri bagi kita sebagai manusia terdidik dengan ilmu dan pengetahuan agama untuk tetap teguh menjadikan iman sebagai landasan utama. Bukan lagi pengetahuan baru tentang disyariatkannya puasa kepada umat Muhammad seperti yang disyariatkan kepada umat terdahulu. Secara harfiyah sudah jamak diketahui tentang rukun, syarat, sunnah, serta sesuatu yang membatalkan puasa kita. Namun tidak dengan sesuatu yang menjadikan puasa kita sia-sia, hanya haus dan lapar yang tersisa.

Puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan diri dari makan, minum, dan masuknya sesuatu pada tubuh kita, terlalu sempit jika hanya itu. Puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang memanjakan nafsu kenikmatan dunia, demi puncak hasrat kenikmatan akhirat. Jika saat puasa, jelas dengan tegas ibadah yang katanya paling nikmat (bergaul dengan istri-suami) itu di siang hari Ramadhan pun dilarang, ketika waktu berbuka semua kembali halal namun dibatasi dengan status makruh apabila berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi makanan, apalagi di situasi pandemi yang sarat dengan keterbatasan, karena masih banyak yang lebih membutuhkan.

Krisis di era pandemi bukan hanya sekadar wacana, hal ini memang benar adanya. Jika tahun lalu merasakan bagaimana nikmatnya buka puasa bersama hampir di semua masjid-masjid merayakannya, nampak sekali bagaimana istimewanya Ramadhan untuk semua. Menjadikan semua manusia sama, duduk satu baris dengan menu buka yang sama. Hal tersebut tidak lagi kita jumpai tahun ini. Meskipun tradisi buka puasa bersama tidak lagi ada, maka jangan sampai tradisi berbagi pun juga hilang. Jika kita adalah sebagai salah satu dari manusia yang berekonomi berkecukupan, dengan cara apapun mari kita bagikan sedikit saja kepada saudara yang lebih membutuhkan, tukang becak yang mengayun di waktu sore, tukang panggul barang di pasar, tukang sapu di sepanjang jalan, atau penjual asongan, dan masih banyak lagi.

Nafsu yang menjadikan kita pelit terhadap harta yang kita miliki itu pun juga bagian dari cobaan kita dalam melaksanakan puasa. Jika kita uraikan kemanjaan nafsu manusia sangat banyak sekali, tak akan terhitung, sifat rakus dan angkuhnya itu. Sesuatu yang berlebih-lebihan meskipun pada dasarnya boleh akan berubah menjadi yang tidak boleh. Hingga menjadikan kita lalai dan lupa kepada tugas dan fungsi kita sebagai manusia untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jika mampu selama bulan Ramdhan ini membelenggu nafsu dari kenikmatan dunia, apapun itu; baik sesuatu yang memuaskan perut, memuaskan indera, memuaskan hati sekalipun, bahkan kelamin sekalipun. Jika mampu membelenggunya, dengan izin Allah, akan menjadi manusia yang Muttaqin, manusia yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT.

Pada dasarnya nafsu itu yang sering kita sebut cinta, mencintai sesuatu itu tidak boleh berlebihan, apalagi cinta itu menjadikan kita lupa kepada Tuhan. Cinta pada apapun itu, pada makhluk hidup ataupun makhluk mati, Ramadhan adalah bulan cinta dan kasih sayang Tuhan kepada makhluknya. Menguji iman, dengan amal puasa, untuk menjadi manusia bertaqwa. Allahu’alam...

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, ass. pimpinan redaksi Majalah New Fatwa