Meneguhkan Identitas Puasa di Tengah Covid-19

ADMINPESANTREN Jumat, 8 Mei 2020 08:39 WIB
390x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni

Oleh : Mukhtar Makin Yahya*

Munculnya pandemi Covid-19 beberapa bulan yang lalu serta menyebarnya ke berbagai negara tidak menyurutkan antusias umat Islam untuk terus berpuasa sejak awal Ramadan. Dari itu beberapa negara memberikan solusi “sementara” dalam memutus mata rantai penyebaran virus tersebut dengan menetapkan sikap stay at home sehingga ketetapan ini juga ‘menghambat’ sementara umat Islam untuk melaksanakan ritual mahdah yang sifatnya kolektif seperti shalat Jumat dan sebagainya. Ketentuan itu bersifat wajib terlebih di negara zona merah yang telah kehilangan puluhan korban setiap harinya seperti: Italia, Amerika Serikat, Jerman, berikut beberapa titik negara muslim: Brunai Darussalam, Malaysia, Indonesia, Mesir, termasuk kerajaan Saudi Arabia.

Dalam keyakinan umat Islam, Ramadan dikenal sebagai bulan kasih sayang, bulan keberkahan dan penuh ampunan. Waktu istijabah di bulan ini sangatlah terbuka lebar, kuota tiket surga ditambah, pintu neraka ditutup dan setan-setan di-lockdown. Menit ke menit, jam ke jam, siang ke malam semuanya dihiasai waktu yang istijabah seolah tak ada spasi antara kita dengan Maha Kuasa. Pemandangan ini berbanding jauh dengan keadaan di luar Ramadan: untuk menggapai waktu ampunan dan istijabah, umat Islam perlu menelisik kapan waktu itu dilimpahkan, seperti contoh waktu tengah malam, di saat orang-orang terlelap dan nyenyak dengan tidurnya. Maka dari itu, bulan Ramadan adalah momen paling efektif untuk mengharap ampunan dari Allah swt. termasuk berharap agar pandemi Covid-19 ini segera musnah dan tercabut sampai ke akar-akarnya.

Tak dapat disangkal bahwa di samping umat Islam adalah makhluk sosial yang seringkali berlaku moral, mereka juga tak luput bertindak “un-moral“ dari laku keseharian. Bahkan terkadang tindakan tersebut di bulan Ramadan masih saja terjadi menembus pagar kewajaran sekiranya tidak mencerminkan nilai-nilai keagamaan. Katakanlah soal tindak kriminal yang tak kunjung memudar: penipuan, pembunuhan, pencurian, narkotika, penimbunan barang di tengah pandemi, dan laku negatif di media sosial seperti status dan kolom komentar: entah berisi pencaci makian, umpatan, penghakiman sampai pada menanggapi komentar yang semestinya tidak perlu diberikan komentar. Tanpa disadari laku semacam ini sebenarnya akan merongrong nilai-nilai luhur dari identitas puasa itu sendiri sehingga berdampak hilangnya arah dan makna dari ibadah ini, dikiranya puasa Ramadan hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum. Karena itu timbul beberapa unek-unek seperti; Apa identitas sesungguhnya dari ritual puasa Ramadan? Apakah sekadar menahan lapar, haus? Ataukah untuk menyehatkan? Dan ataukah untuk pelangsing badan?

Menjadi hal yang telah diketahui bahwa puasa memiliki identitas transendental dalam ‘merekonstruksi nilai-nilai kerohanian’. Dengan kata lain laku puasa adalah nilai ritual yang disyariatkan untuk meneguhkan spirit ketakwaan umat Islam karena telah lama bersentuhan dengan pernak pernik keduniaan. Terutama mereka yang jarang mengindahkan hubungan spiritual dengan Tuhan di luar Ramadan sehingga puasa Ramadan adalah ritual paling tepat untuk mengembalikan hubungan yang telah lama tercerai, kembali dan patuh pada perintahNya.

Secara spesifik al-Quran mencatat larangan puasa hanya dalam tiga unsur saja: makan, minum dan berhubungan biologis; yang kesemuanya menunjukkan larangan mutlak yang harus dihindarkan. Hal ini karena ketiga unsur tersebut adalah embrio akan lahirnya tindak kriminal/kemaksiatan dalam kehidupan sosial. Sementara faktor lainnya seperti: memasukkan tetesan lewat mata, telinga, kepala, baik melalui suntikan biasa atau enema, sifatnya eksternal yang hal ini masih diperdebatkan dalam diskursus hukum keislaman (fikih). Realita ini dapat kita jumpai dalam surah al-Baqarah: 187, juga diperkuat ayat sebelumnya terkait pemberlakuan puasa yang kemudian tidak diakhiri dengan diksi ‘supaya kalian sehat, kuat atau melangsingkan badan’. Akan tetapi ayat itu diakhirkan dengan ungkapan “la 'Allakum Tattaqun”; supaya kalian (yang berpuasa) bertakwa. 

Lebih lanjut Ibnu Asyur, tokoh tafsir asal Tunisia mendefinisikan takwa dengan menghindari diri dari perbuatan maksiat. Yakni, pemberlakuan puasa ini tidak lain untuk menjauhkan diri dari perbuatan negatif, baik tindakan yang memiliki pengaruh langsung seperti: minum khamar, judi, mencuri, ghasab, ataupun tindakan secara tidak langsung berupa dorongan naluri seperti emosi dan dengki. Karena itu, puasa juga diposisikan sebagai wasilah untuk menghindari dua perilaku buruk itu supaya umat muslim dapat menghindari diri dari jiwa materialistis menuju alam ruhani yang merupakan wahana untuk mengantarkan mereka pada sifat Malaikat serta pada saat yang sama menghindarkan diri dari sifat nafsu hayawani.   

Dalam konteks tasawuf pintu gerbang yang mengundang manusia berbuat laku maksiat itu ada dua jalan; perantara mulut dan perantara kemaluan (nafsu). Ini memberi informasi bahwa faktor kemaksiatan yang dilakukan manusia digantungkan pada potensi sejauh manakah mereka menyeimbangkan dan menjaga kedua jalan tersebut. Artinya mereka yang tidak mampu memelihara dua jalan tersebut hanya akan menyalah fungsikan pada perbuatan yang tidak diinginkan. Karenanya perlu disadari bersama bahwa pemeliharaan jalan-jalan tersebut berkaitan erat dengan spirit ketakwaan setiap personal sehingga dalam kondisi semacam ini memposisikan lubang (mulut & kemaluan) bukan pada tempatnya -kata Nabi- adalah laku keharaman lagi mendapat dosa. Sementara mengarahkan dan memfungsikan keduanya pada tempatnya selagi halal maka ia dibolehkan bahkan mendapatkan pahala.

Dari sini timbul pengertian bahwa sehebat apapun ibadah puasa seseorang di bulan Ramadan, atau sebanyak apapun nilai ibadah yang dilakukan di malam Ramadan namun pada saat yang sama mereka enggan mengindahkan kesehariannya dengan perilaku mulia, niat tulus dan mampu mengatur hawa nafsunya. Maka puasanya tidak akan memberi nilai positif. Itulah mengapa Nabi menjamin dosa umat Islam untuk dihapuskan bagi mereka yang menjaga aturan main puasa. Sebab mereka benar-benar lapang dan ikhlas dalam menjalani puasa baik serta dengan menjaga gerak-gerik pandangan (mata) maupun kebrutalan nafsunya.

Nah! Untuk meneguhkan identitas puasa Ramadan ini kita perlu meningkatkan dan memberikan penyokong nilai-nilai luhur Ramadan untuk kemudian dapat diwujudkan dalam laku keseharian di antaranya ialah dengan berzikir, berdoa, bertaubat, mencari nafkah, iktikaf, membantu, memberi makan dan membaca al-Quran, serta perilaku baik lainnya. Mengenai hal ini, Syekh Abdul Halim Mahmud, grand syaikh Al-Azhar sekaligus tokoh sufi, dalam bukunya -Syahru Ramadan lebih menawarkan nilai-nilai luhur untuk mengisi keseharian puasa di bulan Ramadan dengan dua laku ritual: Membumikan al-Quran dan memperhatikan kepedulian sosial.

Seperti diketahui bahwa puasa Ramadan di samping populer sebagai bulan al-Quran, ia juga dikenal bulan ‘kepedulian sosial’ dalam bentuk saling berbagi dan menebar kebaikan. Kenyataan ini ditandai dengan praktik Rasulullah saw. di bulan Ramadan yang senantiasa bertadarus dengan Malaikat Jibril as. Sayyidina Usman memilih hidup bersama al-Quran, baik dalam atau di luar salat. Begitupun ulama generasi salaf semisal Imam Syafii, menghatamkan al-Quran enam puluh kali setiap Ramadan. Juga Imam Bukhari setiap hari Ramadan menghatamkan satu kali hataman.    

Pun dalam tradisi orang Mesir. Membaca al-Quran adalah kebudayaan yang telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari, apalagi di bulan Ramadan di mana mereka begitu semangat melantunkan al-Quran tanpa mengenal ruang, baik di rumah ataupun saat bepergian seperti: di jalan, pertokoan dan kendaraan. Terlebih saat menaiki bus, pandangan kita terasa dihiasi dengan pemandangan tilawah al-Quran.

Pernah suatu ketika kami tinggal di daerah Rab’ah (salah satu wilayah Nasy City Kairo, berdekatan dengan kampus putri al-Azhar) beberapa masyarakat sekitar mengadakan tadarus al-Quran setelah salat subuh di mana setiap selesai satu putaran, satu di antara mereka ada yang menjelaskan penafsiran yang terkandung di dalam al-Quran. Uniknya, tadarus ini dihadiri oleh bapak-bapak lanjut usia yang mana antara satu dengan lainnya tak pernah menonjolkan rasa gengsi saat ditemukan bacaan mereka kurang tepat atau kurang benar. Begitupun dengan beberapa ibu-ibu Mesir di masjid al-Azhar misalnya. Hampir setiap hari mereka menghadiri masjid al-Azhar untuk mempelajari al-Quran meski usia mereka kebanyakan lebih dari empat puluh tahun. Lebih dari itu, pada umur demikian mereka juga terbiasa talaki dan mengaji ilmu-ilmu agama dalam berbagai bidang seperti: tafsir, ushul fikih, fikih dan mantik. Luar biasa bukan?

Di lain sisi agama Islam sangat memperhatikan tingkat solidaritas akan kesejahteraan sosial di bulan Ramadan. Kesejahteraan di sini dimaksudkan agar kita saling membagi nilai kebaikan dengan bahu membahu dan mengulurkan tangan untuk mengurangi beban umat Islam yang tidak mampu. Khususnya menjalani puasa di musim corona seperti sekarang di mana mayoritas umat Islam sangat memerlukan uluran tangan.

Kepedulian semacam ini sebenarnya juga telah ditekankan Rasulullah dan para sahabat sejak empat belas abad silam. Bahkan banyak catatan riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah sangat dermawan soal bantu membantu di bulan Ramadan, baik di saat takjil maupun sahur. Umar bin Khattab menginfakkan hartanya empat ribu dirham (sekitar 17 juta rupiah) kepada fakir miskin. Pun Sayyidah Aisyah –istri Rasul yang dikenal paling romantis, tidak tanggung-tanggung membagikan hartanya sebanyak delapan puluh dirham (sekitar 338.959 juta rupiah) atau dalam catatan lain seratus ribu dirham (sekitar 423. 699 juta rupiah).

Selain itu pada bulan Ramadan warga Mesir memiliki budaya sosial yang cukup jarang ditemukan. Antara lain, membagikan berbagai macam konsumsi setiap menjelang buka puasa. Tradisi ini dikenal dengan Maidatu ar-Rahman atau hidangan Tuhan yang berjejeran di setiap titik wilayah Mesir. Budaya ini kemudian juga diindahkan oleh tim BUMI Imaba Mesir melalui mat’am plusnamdua yang membagikan makanan gratis kepada masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) sebanyak 20 porsi selama Ramadan. Di samping itu ditemukan juga budaya musadaah: yakni bantuan sembako atau uang yang dibagikan para donatur baik dibagikan pada warga pribumi Mesir atau Mahasiswa wafidin (pelajar asing). Belum lagi himbauan para masyayikh al-Azhar guna memprioritaskan bantuan sosial di tengah virus corona seperti dilakukan Syekh Ahmad Toyyib, Grand Syekh al-Azhar, Dr. Ahmad Mihrasawi rektor al-Azhar, dan Dr. Hasan Syafii pemikir Islam senior al-Azhar.   

Perlu disadari bahwa penyaluran laku kesejahteraan di sini boleh dibagikan dalam bentuk apapun: infak, sedekah dan zakat fitrah. Terkait zakat fitrah boleh-boleh saja dikeluarkan pada awal bulan Ramadan menimbang kondisi umat Islam yang sangat membutuhkan sandang dan pangan untuk memenuhi biaya hidup keseharian. Hal ini bertolak dari salah satu kasus viral seorang tetangga yang hendak menjual televisi demi menafkahi keluarganya namun tak kunjung terjual. Begitu juga dengan berita viral tentang dua warga daerah Sumatera Selatan yang akhir-akhir ini ditemukan kurus akibat kelaparan berhari-hari seperti diliput detik.com Rabu (22/4/2020) dan masih banyak lagi kasus lain yang belum terpantau.  

Dengan begitu demi mewujudkan perilaku positif yang sifatnya sosial. Tidak heran apabila syaikh Abdul Halim Mahmud memprioritaskan dua butir nilai luhur: al-Quran dan nilai kesejahteraan, khususnya di bulan Ramadan. Sehingga memberi pesan bahwa cara demikian akan lebih cepat melesat dalam membumikan nilai-nilai ketakwaan umat Islam terlebih di tengah pandemi Covid-19.

Sekian wa Allahu A’lam

Kairo, 02-05-2020

*Penulis adalah ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA) Mesir.