Meraih Berkah Bersama Ramadhan

ADMINPESANTREN Selasa, 12 Mei 2020 06:21 WIB
233x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh : Nor Azizah*

Setiap umat Islam pasti akan merasa bahagia saat mendengar berita bulan Ramadhan akan segera tiba. Ramadhan merupakan bulan mulia yang dipersembahkan untuk umat Islam; waktu berpesta bagi setiap insan penikmat ibadah dan taqarrub kepada Allah. Bulan di mana semua amal yang dikerjakan akan mendapat ganjaran berlipat ganda dibanding dengan amal yang dikerjakan pada waktu-waktu yang lain.

Ketika bulan Ramadhan diumumkan dan puasa selama sebulan penuh diwajibkan di sanalah garis start untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan, memperbanyak ibadah seperti dzikir, tadarus dan mengkhatamkan al-Qur’an serta sedekah yang menjadi tali pengikat antara satu muslim dengan muslim yang lain. Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an tepatnya di malam mulia Lailatul Qadr yang penuh kebaikan juga berkah. Hal inilah yang menjadikan bulan Ramadhan memiliki khas serta lebih diistimewakan daripada bulan-bulan yang lain.

Dari kedua belas bulan kalender Hijriyah, Ramadhan merupakan satu bulan suci yang hadirnya seperti sebuah kado istimewa dengan segala kemuliaan yang menjadi isi di dalamnya. Setiap muslim yang berpuasa pada bulan ini dijanjikan ampunan dari dosa-dosa yang telah lalu.

“Dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketakwaan maka diampuni baginya dosa yang telah berlalu”. HR. Ahmad.

Bulan Ramadhan kini telah sampai di penghujungnya dan kita telah melewati dua pertiga dari bulan Ramadan yang artinya Ramadhan yang mulia ini telah memasuki sepuluh hari terakhir dan akan segera bergegas pergi. Detik-detik terakhir menuju garis finish di bulan Ramadhan harusnya kita gunakan dengan sebaik mungkin, sebab Ramadhan mungkin akan datang kembali namun tak ada yang dapat memastikan bahwa kita bisa bertemu kembali dengan bulan mulia ini di tahun berikutnya.

Dalam sebuah hadist disebutkan

عن عائشة رضي الله عنها قالت كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في رمضان ما لا يجتهد في غيره، وفي العشر الاواخر منه ما لا يجتهد في غيره، رواه مسلم.

“Dari Sitti Aisyah Radliallu ‘Anha disebutkan bahwa Rasulullah bersungguh-sungguh (beribadah) di bulan Ramadhan dengan kesungguhan yang tidak sama seperti pada bulan yang lainnya, dan juga beliau bersungguh-sungguh di sepuluh terakhir bulan ramadhan yang tidak seperti di hari ramdhan lainnya”.

Hadist di atas merupakan satu dari serangkaian hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah perihal keadaan Rasulullah pada hari-hari menjelang Ramadhan berakhir. Rasulullah menjalani sepertiga terakhir Ramadhan dengan semangat yang menyala. Tidak hanya itu dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasullah juga membangunkan kelurga beliau yang lain agar turut beribadah, rasanya kesempatan emas di sepertiga terakhir Ramadhan terlalu istimewa jika dilewatkan sendirian maka dengan mengajak sanak saudara dan kerabat maka keberkahan bulan suci ini akan semakin merata dan dirasakan oleh banyak orang.

Kemuliaan Ramadhan tak akan habis dirasakan meski tak henti diperbincangkan. Berkahnya merata pada seluruh alam yang diterangi oleh Iman dan Islam. Ditambah lagi satu hal yang tak akan didapatkan kecuali pada bulan Ramadhan yaitu Lailatul Qadr; satu malam dengan kebaikan yang setara dengan seribu bulan, satu malam yang dinanti-nati oleh para hamba Allah agar dapat menuai berkah yang melimpah.

Al-Qur’an sebelumnya telah memberikan informasi tentang adanya malam penuh berkah ini. Lailatul Qadr diabadikan dalam al-Qur’an dengan satu surah khusus bernama Al-Qadr yang terdiri dari lima ayat. Syeikh Ismail Haqy bin Mushtafa Al-Istambuli dalam kitab Ruh Al-Bayan mengatakan bahwa Lailatul Qadr merupakan malam di mana al-Qur’an diturunkan seluruhnya dari Lauhil Mahfudz menuju Baiytul ‘Izzah yaitu suatu tempat mulia yang berada di langit dunia yang kemudian setelah itu barulah disampaikan kepada Rasulullah secara berkala selama tiga puluh tahun lamanya.

Dengan segala keistimewaannya Lailatul Qadr adalah sebuah rahasia yang menjadi kejutan bagi insan yang Allah kehendaki. Hanya orang-orang tertentu yang dapat mengetahui terjadinya malam mulia ini dengan tepat. Banyak sekali dari kalangan ‘ulama yang memberikan teori agar kita semua bisa menikmati Lailatul Qadr dengan bermunajat kepada Allah di malam penuh kemuliaan ini dengan tepat sasaran.

Tak ada yang dapat memastikan kapan Lailatul Qadr akan benar terjadi meski demikian bukan berarti sulit mendapatkan momen sangat istimewa ini. Riwayat-riwayat masyhur mengatakan bahwa Lailatul Qadr terdapat pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Al-Thabari:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أطلبوا ليلة القدر في العشر الاواخر من رمضان.

Dari Ibn Abbas RA Rasulullah SAW bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan”.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan hari-hari yang paling istimewa dibanding dengan hari lainnya yang juga berada pada bulan Ramadhan. Detik-detik terakhir ini sangat disayangkan jika terlewat dengan percuma. Maka agar tidak kehilangan momen penting ini seyogianya kita selalu mempersiapkan diri dan istiqamah melakukan ibadah.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت يا رسول الله إن علمت ليلة القدر ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني، قال الترمذي: حديث حسن صحيح

“Dari Aisyah RA berkata: aku bertanya kepada Rasulullah SAW wahai Rasulullah bagaimana jika aku mengetahui Lailatul Qadr apa yang harus aku ucapkan saat itu?. Rasulullah bersabda; ucapkanlah Allahumma Innaka ‘Afuwwun Tuhibbu al-Afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Mencintai ampunan maka ampunilah aku)”. Al-Turmudzi berkata bahwa hadist ini adalah hadits hasan sekaligus shahih.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAI Al-Khairat Pamekasan.