Ramadhan Indah, Di Tengah Pandemi Corona

ADMINPESANTREN Jumat, 15 Mei 2020 06:49 WIB
463x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni

Oleh : Muhammad Izul Ridho*

Nampak banyak yang berbeda dengan Ramadhan di tahun ini, 1441 H. Jika di Ramadhan sebelumnya berkumpul, menikmati makan sahur dan berbuka bersama keluarga di penghujung Ramadhan. Nampaknya tahun ini banyak yang dapat menikmati makan sahur dan berbuka puasa bersama keluarga dari awal Ramadhan, namun ada pula yang hanya dapat menikmati kerinduan karena tidak dapat melakukan mudik dan berkumpul bersama, sebab mereka sangat mencintai keluarganya di kampung. Nikmat ini adalah bagian dari keindahan Ramadhan yang jarang kita sadari serta hikmah di balik keadaan bumi yang sedang menghadapi krisis dan ancaman virus corona atau Covid-19, pandemi yang telah menjangkit puluhan ribu manusia di bumi.

Dalam catatan sejarah, pandemi atau wabah beberapa kali telah melanda dunia, namun dari setiap pandemi, manusia bisa melewatinya sebab manusia adalah mahluk Tuhan paling sempurna yang dianugerahkan akal dan kemampuan beradaptasi paling baik. Salah satunya terjadi di masa Umar Ibn Khattab menjadi khalifah, tepatnya tahun 18 Hijriyah di Syam (saat ini Palestina atau Syam Kabir, Damaskus atau Syam Saghir, Lebanon dan Yordania) terjadi wabah limpera yang melanda ribuan rakyat Syam.

Saat itu Abu Ubaidah sebagai gubenur Syam pertama menyampaikan dalam pidatonya bahwa wabah yang sedang melanda dunia saat itu sebagai sebuah rahmat dari Allah dan ia menginginkan rahmat itu juga diberikan padanya. Kemudian selang beberapa waktu setelah itu wabah itu menimpanya dan membuatnya menemui sang khalik. Setelah itu ditunjuklah Muadz bin Jabal sebagai pengganti Abu Ubaidah, dalam pidato pertamanya Muadz sebagai gubenur menyampaikan pandangan doa yang lebih mengherankan dari pendahulunya “wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Allah, kemuliaan doa para nabi-nabi terdahulu. Sesungguhnya Muadz memohon kepada Alah agar Muadz dan keluarga Muadz mendapat bagian dari rahmat tersebut” ucapnya.

Selang beberapa waktu putranya, Abdurrahman Ibn Muadz mendapat bagian dari rahmat Allah tersebut dan wafat sebabnya. Tak lama setelah itu Muadz juga wafat sebabnya. Amr Ibn Ash sebagai gubenur ketiga Syam pengganti Muadz, memiliki pandangan yang berbeda dari kedua pendahulunya dalam menyikapi wabah yang sedang melanda kala itu. Ia berpandangan bahwa wabah itu bagaikan api yang siap melahap seluruh negeri, sehingga ia memerintahkan rakyatnya untuk menghindarinya dengan berdiam diri di rumah dan mengalokasikan harta di baitul mal semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan rakyat.

Pilihan Amr Ibn Ash ini bukan tanpa kritik dan resiko, banyak sahabat yang mengkritiknya, namun perintah Amr Ibn Ash ini pada akhirnya dapat memutus penyebaran wabah tersebut, karena taatnya rakyat terhadap perintah Amr bin Ash serta adanya jaminan pemenuhan kebutuhan oleh pemerintah melalui baitul mal.

Langkah pemerintah Indonesia, untuk menghentikan penyebaran wabah Covid-19 dengan memberlakukan pembatasan sosial berskala besar di beberapa wilayah zona merah, merupakan pilihan yang cukup tepat walaupun masih terkesan gagap dan kurang berani. Sebab terkesan menghindar dari tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat secara penuh, jika menerapkan karantina wilayah, pilihan solusi yang tertuang dalam undang-undang nomor 06 tahun 2018 tentang karantina kesehatan. Himbauan atau larangan untuk tidak melakukan mudik juga merupakan langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran covid-19 masuk ke pedesaan yang notabeni peralatan medis dan APD di pedesaan sangat minim.

Sebagai mukmin yang baik, seperti arti kata mukmin yaitu orang yang memberikan rasa aman, sudah tentu mentaati keputusan dan himbauan pemerintah, untuk melakukan pembatasan sosial secara maksimal terlebih yang sedang berada di zona merah serta tidak melakukan mudik ke kampung halaman untuk menciptakan rasa aman bagi kekuarga dan tetangga di kampung. Namun keputusan dan himbauan pemerintah ini dapat ditaati oleh masyarakat jika pemerintah dapat menjalankan peraturannya dengan tegas, serta dapat memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.

Di tengah ketidakpastian ini, selain dengan memperbanyak ibadah mahdah dan dzikir-dzikir sudah seharusnya kita menjalani bulan Ramadhan dengan dua hal berikut; pertama intropeksi diri (muhasabah al-nafs) dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan, dengan bertobat nasuha yaitu berhenti berbuat dosa serta tidak mengulanginya kembali di lain waktu. Kedua, kembali menyambung silaturrahmi dengan keluarga yang mungkin sempat renggang karena kesibukan kita. Silaturrahmi adalah anjuran rasul yang dengannya mampu membuka pintu rizki, sebab di tengah ketidakpastian ini kita harus siap dengan kemungkinan terburuk.

*Penulis adalah lulusan terbaik Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan tahun 2019.