Dampak Doyan Rebahan bagi Kesehatan

ADMINPESANTREN Selasa, 19 Mei 2020 04:50 WIB
2133x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh : Barrul Waliday Maissy Absyari*

Menjalani aktivitas Ramadhan di tengah pandemi memang cukup melelahkan lahir batin. Aktivitas Ramadhan pun tidak seperti biasanya. Ngabuburit, bukber, tadarus hingga tarawih semuanya serba ‘di rumah aja’. Jika ingin keluar rumah, wajib mengenakan masker, dan dianjurkan untuk tidak berlama-lama. Hal ini karena diberlakukannya status PSBB – walau beberapa masih tidak kompeten – yang mengharuskan setiap orang untuk stay at home guna mencegah berkembangnya virus tak berperasaan tersebut.

Tidak hanya itu, dari efek pandemi inilah, yang sebelumnya sekolah dan beberapa jenis pekerjaan diliburkan, berubah pada sistem sekolah online dan work from home. Secara tidak langsung, hampir semua aktivitas serba dibatasi, demi kemaslahatan negeri ini. Begitulah pemerintah terus mengayomi dan mengawasi rakyat untuk tetap mematuhi peraturan yang berlaku selama pandemi, dengan harapan mampu menjaga kestabilan negara.

Pemberlakuan sistem di rumah aja menimbulkan beberapa efek bagi masyarakat, baik positif maupun negatif dengan alasan tersendiri. Salah satunya adalah implementasi budaya rebahan.

Rebahan adalah hal ternikmat yang mudah dilakukan, khususnya bagi orang yang ingin melepaskan kepenatan dari kesibukan. Bisah maloros tengnga (bisa meluruskan tulang belakang/red) kata orang Madura. Berita baiknya, rebahan akan sangat mudah dilakukan bagi kaum rebahan di tengah pandemi seperti saat ini. Bertepatan lagi pada bulan Ramadhan, yang seharusnya meningkatkan ketaqwaan, malah makin doyan rebahan sebab status kondisi yang mengharuskan di rumah aja.

Rebahan boleh saja asal tidak berlebihan, sebab terlalu over akan berakibat fatal pada kesehatan, hingga potensi terhadap kematian. Budaya rebahan di bulan Ramadhan sering terjadi di kala sahur telah usai. Tidak sedikit orang yang langsung merebahkan tubuhnya bahkan tidur sambil menunggu azan subuh berkumandang.

Dilansir dari CNN Indonesia, bahwa rebahan dan tidur setelah sahur dapat berdampak buruk bagi kesehatan, terlebih pada sistem pencernaan. Berikut ulasannya;

  1. Refluks

Refluks asam atau istilah medisnya Gastro-esophageal Reflux Disease (GERD) terjadi karena katup antara lambung dan kerongkongan tidak menutup sepenuhnya. Ini biasanya disebabkan oleh pengaruh gravitasi yaitu perubahan posisi telentang. Posisi telentang atau miring dapat menyebabkan makanan yang belum sepenuhnya dicerna di lambung mudah naik ke kerongkongan. Apalagi jika mengonsumsi makanan berat, setelahnya akan bangun dengan perut kembung. Sehingga apabila GERD dibiarkan akan menyebabkan asam lambung. Gejala seperti panas di dada dan tenggorokan, mual, bersendawa dan mulut pahit adalah tanda-tanda refluks.

1. Menurunkan kualitas tidur

Kebiasaan langsung tidur setelah sahur terutama mengonsumsi makanan berlemak dapat menurunkan kualitas tidur. Saat kenyang, seseorang mungkin merasa mengantuk, tetapi akan muncul rasa gelisah sehingga mudah terbangun saat tidur. Makanan tinggi lemak seperti gorengan atau olahan daging membutuhkan waktu yang lama untuk dicerna, sehingga seseorang harus memberi jeda waktu agar makanan tercerna dengan baik ke dalam perut.

2. Menaikkan berat badan

Adalah rahasia umum bahwa dampak dari kebiasaan langsung tidur setelah makan membuat berat badan melonjak naik. Tak heran, ketika Ramadhan banyak orang yang bukan bertambah kurus, malah sebaliknya. Hal ini disebabkan lebih banyak mengonsumsi kalori ketimbang membakarnya. Kurangnya aktivitas fisik saat puasa dan langsung pergi rebahan atau bahkan tidur setelah makan, membuat tubuh menimbun lemak karena tubuh tidak diberi kesempatan untuk membakar kalori yang masuk. Selain itu, Profesor dari Missouri State University, Jeremy Barnes menjelaskan, bahwa ketika tidur tubuh akan mengeluarkan hormon grehlin yang menjadi penyebab munculnya rasa lapar ketika bangun, jika begini jadinya, maka sudah tentu berat tubuh berangsur bertambah dan kecil kemungkinan untuk menurunkan berat badan.

3. Peningkatan asam lambung

Makanan yang masuk akan melewati kerongkongan, kemudian masuk pada area esofagus yang berfungsi melumat serta mengantarkan makanan ke lambung. Ketika sampai di lambung, konsistensi makanan sudah menjadi halus menyerupai cairan. Maka jika proses cerna tidak sempurna, makanan yang masih kasar di lambung dapat mengiritasi dinding lambung dan memicu asam lambung. Gejala yang dirasa saat asam lambung yakni nyeri di sekitar lambung atau perut kiri atas. Bisa juga terasa sensasi panas di dada. Bagi yang mudah mulas dam sakit perut sebaiknya hindari kebiasaan tidur setelah makan.

4. Sakit tenggorokan

Langsung tidur setelah sahur juga dapat menyebabkan sakit tenggorokan. Ini disebabkan oleh efek lanjutan refluks asam atau GERD.

5. Sambelit

Biasanya, pengosongan lambung manusia membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam setelah makan. Dengan posisi berbaring atau tiduran dapat menghambat proses pengosongan lambung. Jika hal ini dibiarkan berlanjut maka bisa memicu sambelit atau kesulitan BAB. Untuk mencegahnya, hindari makanan yang tinggi lemak, gula dan kafein dalam menu sahur. Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran agar pencernaan lancar.

6. Serangan jantung

Kebiasaan langsung tidur setelah makan ternyata mempunyai dampak yang sama buruknya dengan meluapkan emosi yang meledak-ledak. Mengutip penelitian Science Daily, bahwa orang yang mengonsumsi makanan berat dan langsung tidur kurang dari dua jam saja, maka 2,8 kali lebih mungkin mengalami peningkatan tekanan darah sepanjang malam. Apabila tekanan darah tidak kunjung turun dan terus menerus terjadi dalam waktu yang lalma, akan meningkatkan resiko terserang penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, stroke dan penyakit kronis lainnya.

Namun, tidak semuanya agenda Ramadhan di tengah pandemi berdampak negatif, tergantung cara kita memodifikasinya secara produktif. Ya, semisal rebahan yang produktif bisa berdampak positif bahkan menguntungkan bagi kita. Di antara cara pengaplikasiannya adalah mengisi rebahan dengan berkarya. Bagi penulis dengan menulis, bagi pelukis ya melukis. Berdakwah lewat medsos, berdagang online, dan masih banyak lagi. Terutama, di rumah aja pada bulan Ramadhan bisa membantu kita dalam meningkatkan aktivitas ibadah, seperti berusaha untuk tidak membolong tarawih, lebih sering mengaji, berdzikir, dan utamanya bagi yang terbiasa dengan kerja full time, dengan situasi seperti saat ini bisa lebih menpererat tali silaturrahmi bersama keluarga.

Mari tinggalkan budaya doyan rebahan yang cenderung merugikan agar tidak merusak nuansa Ramadhan serta menjaga kesehatan. Perbanyak berdzikir, berkarya dan berolahraga. Agar kesuksesan akhirat dan dunia dapat diraih secara komplit dan berfaidah.

*Penulis adalah santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Putri, berasal dari Bangkalan.