Idul Fitri; Momentum Memaafkan dan Melupakan

ADMINPESANTREN Jumat, 22 Mei 2020 06:39 WIB
611x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh : Zuyyinah*

Beberapa bulan terakhir ini sebagian besar negara di dunia, termasuk Indonesia dikejutkan dengan kehadiran covid-19 yang akhirnya memaksa masyarakat untuk melakukan physical distancing (menjaga jarak), istilah yang lebih pas digunakan daripada social distancing. Karena yang berjarak hanya fisik saja, bukan interaksi sosialnya. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang berkoloni. Dalam dunia sosial, kita tahu bahwa individu-individu membentuk sebuah lingkungan dimana di dalamnya terdapat interaksi atas dasar status dan peranan, nilai dan norma serta proses agar tatanan sosial tetap berlangsung untuk pemenuhan kebutuhan. Dengan menjaga jarak kita tetap bisa memenuhi semua unsur tadi, tapi dengan cara yang sedikit berbeda. Paling mudah saat ini adalah dengan memaksimalkan gadget. Maka segala kemungkinan yang terjadi pada kondisi yang normal pasti juga terjadi pada kondisi yang baru ini. Seperti halnya menyalurkan cinta, kasih sayang, kepedulian, gesekan, riuh gelombang, kekeliruan, kesalah pahaman atau bahkan amarah terhadap sesama.

Agama sifatnya realistis. Ia tidak melarang seseorang untuk marah, tidak pula melarang seseorang untuk berbuat salah. Karena sebagai manusia tentu tidak mungkin terlepas dari hal tersebut yang sifatnya sangatlah manusiawi. Kesalahan bukanlah aib yang kemudian pelakunya harus dicap hina dan dibenci tanpa ampun. Kesalahan orang lain bisa saja kita lakukan, bahkan mungkin lebih besar. Jadi bagaimana kita bisa berlapang dada, bermurah hati dan bersedia memaafkan orang yang berbuat salah terhadap kita?

Islam adalah agama cinta, kebaikan dan keindahan, yang mengajarkan kasih sayang dan menyerukan agar ummatnya senantiasa memaafkan saudaranya yang berbuat salah. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an begitupun dicontohkan oleh nabi agung Muhammad saw. Tentu apabila kita sendiri yang melakukan hal tersebut, harus memiliki kesadaran dan menghilangkan rasa gengsi untuk meminta maaf. Dalam hal ini, Imam Abu Hanifah mengajarkan hal penting terhadap kita.

Dalam kitab Mafatih al-Ghaib karya Imam Fakhruddin Ar-Razi, diriwayatkan, suatu ketika Abu Hanifah mendatangi rumah seorang majusi yang memiliki hutang kepadanya. Sesampainya di depan rumah si majusi, ternyata sandal Abu Hanifah terkena najis. Kemudian ia menggerak-gerakkan sandalnya, dan najis itu justru menempel ke tembok rumah si majusi tersebut. Ia kebingungan, apabila dibiarkan maka dinding tersebut kotor. Apabila digosok (dikerik) maka dindingnya akan menjadi rusak. Akhirnya ia berusaha menemui si majusi dengan mengetuk pintu rumahnya. (singkat cerita) Si majusi keluar menemuinya meminta maaf karena belum bisa membayar hutang. Akan tetapi Abu Hanifah malah berkata, "Ada hal yang lebih penting dari itu". Lalu ia meminta maaf dan mulai menceritakan tentang kejadian tembok tadi, masih dalam kekhawatiran karena takut merusak tembok tersebut. Ia lalu bertanya, "Bagaimana aku bisa membersihkan temboknya?" Kemudia si majusi berkata, "Aku akan memulai dengan mensucikan jiwaku terlebih dahulu". Dengan kelembutan sikap Abu Hanifah dan tindakannya yang begitu bijaksana, akhirnya si majusi tersebut masuk Islam pada saat itu juga.

Hal ini mengajarkan pada kita, betapa harus berhati-hati dalam Huqquq al-‘ibad, dan tetap santun dalam berperilaku terhadap siapapun. Untuk menghindari beratnya pertanggung jawaban di akhirat tentang hal ini, dalam Islam ada tradisi yang sangat baik, yaitu silaturrahim. Dimana orang-orang datang dari satu rumah ke rumah yang lain, atau berkumpul di suatu tempat, meminta maaf atas kesalahannya, dan yang lain memaafkan, begitupun sebaliknya. Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, ada satu daerah yang ketika memasuki bulan Syawal diadakan suatu acara khusus. Di dalamnya terdapat ikrar yang isinya apabila dalam pergaulan selama satu tahun yang telah dilalui ada kesalahan dari masing-masing, maka pada saat itu pula mereka saling memaafkan, saling ridha antara satu dengan yang lain.

Mengapa acara maaf memaafkan ini diadakan di bulan Syawal atau setelah puasa? Prof. Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa dengan berpuasa diharapkan dosa kita terhadap Tuhan telah diampuni-Nya. Sementara dosa kita terhadap sesama manusia tidak akan diampuni sebelum dimaafkan oleh orang yang kita berbuat salah terhadapnya. Bagaimana kita bisa kembali suci tanpa dosa (fitri)? Yaitu dengan meminta maaf kepada sesama. Maka tidaklah ber-‘idul fitri seseorang yang tidak saling maaf memaafkan.

Meminta maaf atau memberi maaf tidaklah cukup di lisan saja. Allah menjelaskan dengan menggunakan redaksi wa al-ya’fu wa al-yasfahu (QS. An-Nur [24]: 22) dan  faṣfaḥiṣ-ṣaf-ḥal jamīl (QS. Al-Hijr [15]: 85). Berarti ada dua, pertama, al-afwu (memaafkan), menganggap sesorang tidak bersalah atau kesalahannya dihapuskan. Kedua, as-shafhu (melupakan) kesalahannya. Sebagaimana dikatakan habib Ali Zaenal Abidin, ini lebih tinggi tingkatannya dari pada maaf. Terkadang orang memaafkan tapi tidak melupakan. Latihlah diri kita untuk bisa memaafkan dan meminta maaf terlebih dahulu sebelum orang lain memberi maaf kepada kita.

 ‘Idul fitri (lebaran) adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam yang oleh Allah swt. dijadikan sebagai hari untuk maaf memaafkan, supaya tidak ada lagi yang malu, tidak ada lagi yang segan. Sehingga banyak orang yang memang dengan sengaja menunggu momen ini hanya sekedar untuk meminta maaf. Mari kita sambut hari yang suci ini dengan hati yang tenang untuk membuka lembaran baru, melupakan kesalahan-kesalahn di masa lalu. Maha suci Allah atas segala karunia-Nya. Kemudahan-kemudahan selalu diberikan kepada hamba-hambanya yang mau berusaha.

Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Puteri IMABA.