Nurani dan Silaturahmi Idul Fitri di Tengah Pandemi

ADMINPESANTREN Selasa, 26 Mei 2020 06:54 WIB
702x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh : Khoirul Anam*

Ramadhan telah tiada, ia sekarang hanya tinggal nama, harus menunggu satu tahun lagi untuk kita bisa berjumpa dengannya. Ia menyisakan banyak kenangan bagi diri kita, mulai dari canda, tawa, bersama, bersedih, bahagia, dan masih banyak lainnya. Semua orang pasti sudah menyadarinya bahwa Ramadhan adalah tamu yang benar-benar agung dari tuhan alam semesta yang dihadiahkan kepada kita semua.

Ramadhan adalah dimana semua orang menciptakan semua kenangan dalam masa satu bulan baik itu asin, baik dan tidak baik sekalipun akan selalu diingat oleh semua manusia. Ramadhan menawarkan sebuah menu yang begitu lengkap di dalamnya, semua aneka rasa tersedia bagi semua, entah itu rasa yang bersifat jasmani (inderawi) bahkan yang bersifat rohani juga pasti ada.

Resep Ramadhan yang memang selalu ampuh karena langsung dari tuhan alam semesta, bumbu-bumbunya lengkap karena berbentuk firman yang semua makhluk tak akan pernah bisa menirunya. Ketika di bulan yang suci ini terpeleset berbuat maksiat, maka sama halnya kita sudah membuat resep itu keasinan, ia terasa begitu lezat dengan pahala yang dilipat gandakan serta aneka rasa lainnya.

Ramadhan begitu istimewa bagi semua, karena di bulan inilah al-Qur’an diturunkan. Ia tampak begitu indah dengan hiasan lailatur qodar yang memang semua penduduk bumi selalu menanti-nantikannya. Hal itu dikarenakan semua  perbuatan yang tepat di waktu ini akan menjadi lebih baik (taat) atau lebih buruk (tidak taat) daripada 1000 tahun.

Semuanya hanya tinggal kenangan, karena Ramadhan yang kemarin tidak akan kembali berjumpa dengan kita lagi. Melainkan untuk Ramadhan yang selanjutnya semoga kita bisa bersua kembali tentunya dengan diri dan hati yang semakin baik lagi. (Allahumma kama ballaghtana Ramadhan faballaghna Ramadhan). Amin…

Setelah bulan Ramadhan dan peristiwanya, ada bulan Syawal, ia bukan hanya sekedar nama bulan yang disematkan kepada bulan tersebut sehingga selalu dinanti oleh semua. Di dalamnya terdapat momen yang begitu sakral dan istimewa bagi semua, baik itu yang sudah berkeluarga atau belum berkeluarga, baik itu yang sudah punya pasangan atau tidak punya pasangan, baik itu anak kecil, remaja, dewasa dan bahkan tua yang mana momen istimewa itu kita kenal dengan istilah hari raya (idul fitri).

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hari raya mempunyai arti hari yang dirayakan untuk memperingati sesuatu yang penting dan sebagainya atau bisa kita katakan sebagai hari besar. Sedangkan menurut kami, hari raya diartikan sebagai sebuah hari yang khusus, yang mana di hari yang khusus ini tentu berbeda-beda di dalam setiap negara berdasarkan kebudayaannya. Terlepas dari hal itu, hari raya biasanya ditandai dengan perayaan-perayaan bagi kelompok yang bersangkutan dan mungkin juga dengan diliburkannya kantor dan sekolah secara umum.

Di Indonesia, hari raya itu sendiri kebanyakan berdasarkan pada agama-agama tertentu dalam melaksanakan perayaan seperti halnya agam Islam yang mana di dalam setiap akhir bulan Ramadhan tepatnya di pembuka lembaran baru bulan Syawal terjadi yang namanya hari raya idul fitri. Di dalam hari ini semua orang berkumpul untuk sekadar bahagia bersama, bersalam-salaman, berpelukan, bertukar cerita peristiwa di bulan Ramadhan dan sebagainya, yang pada hakikatnya hal itu dilakukan tidak ada lain kecuali untuk memperkuat tali persaudaraan yang dilakukan dengan silaturrahim juga memantau nurani entah masih hidup atau sudah mati.

Tepat pada tahun ini (1441 H), hari raya yang kita lakukan tidak sama dengan biasanya. Hal itu dikarenakan ada kendala yang saat ini tidak bisa dipungkiri yakni yang kita kenal dengan nama virus corona (COVID-19). Dengan sebab ini semua elemen pemerintahan tidak memperbolehkan manusia berada di dalam kerumunan apalagi bersalam-salaman karena hal itu akan melanggar peraturan yang ditetapkan dalam rangka memutus penyebaran virus corona ini. Hal itu jelas sangat tidak sejalan dengan kebiasaan orang-orang dalam menikmati hari raya baik idul fitri kemarin ataupun idul adha yang akan datang.

Namun sebagai makhluk sosial yang diciptakan dengan design yang begitu sempurna oleh tuhan, kita semua tidak boleh putus asa atau putus harapan bahwa idul fitri dan idul adha tidak akan menjadi sempurna. Oleh karena itu kita dianjurkan untuk selalu berkarya dalam segala hal bukan hanya karya yang berbentuk sesuatu yang nyata lalu diberi penghargaan, melainkan ini adalah buah hasil dari karya otak dan hati dalam rangka menyambung silaturrahmi dan menghidupkan hati nurani.

Berbicara tentang silaturrahmi, perlu kita kenali hal-hal yang dapat membuatnya gugur, dalam artian selama hal itu tidak dilakukan, maka hakikat dari silaturahmi tidak akan pernah gugur apalagi karena diterpa COVID-19.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُتَقَابِلِين (الحجر : ٤٧)

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan”

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَة فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ (الحجرات : ۱۰)

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”

Dari kedua ayat di atas tentu dapat kita ketahui bahwa disana ada makna yang bisa kita artikan sebagai silaturrahmi atau kita kenal dengan istilah persaudaraan, yang mana hal itu jelas akan membuat kita tampak bahagia karena beberapa banyak kehidupan yang berubah menjadi keras ketika ikatan persaudaraan telah pupus, ketika sumber-sumber kecintaan karena Allah telah kering, ketika individualisme telah menggeser nilai-nilai persaudaraan. Saat itu setiap individu berada dalam kehidupan yang sulit, merasa terpisah menyendiri dari masyarakatnya.

Kebanyakan manusia pada umumnya, perilaku mereka telah tercemari oleh hal-hal yang dapat merusak persaudaraan, yang terkadang mereka menyadari hal tersebut, dan terkadang tidak menyadarinya. Dalam sebuah hadist yang menerangkan tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari tiada naungan kecuali naungan Allah, Rasulullah menyebutkan salah satu di antaranya adalah, "Dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya."(HR Bukhari dan Muslim), dan di dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, "Orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, berhak atas kecintaan-Ku…."(HR Malik dan Ahmad).

Oleh karena itu beberapa hal yang dapat merusak persaudaraan adalah tamak dan rakus terhadap dunia, terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain, maksiat dan meremehkan ketaatan, tidak menggunakan adab yang baik (syar'i) ketika berbicara, tidak memperhatikan apabila ada yang mengajak berbicara dan memalingkan muka darinya, banyak bercanda dan bersenda gurau, banyak berdebat dan berbantah-bantahan, berbisik-bisik (pembicaraan rahasia). Satu hal yang perlu kita ingat, bahwa disana tidak ada yang meyatakan bahwa dapat dimakan oleh virus corona. Jadi dengan terbatasnya langkah dan jangkauan tentu masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap mempererat hubungan silaturrahmi.

Selain silaturrahmi tentu hari raya ini akan menjadi tolak ukur pula bagaimana keadaan hati nurani. Hal itu sering kita dengar dari khutbah idul fitri itu sendiri yang berbunyi “ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعته تزيد"  yang artinya “hari raya ini bukanlah bagi dia (orang) yang memiliki baju baru, melainkan bagi dia yang kadar taatnya semakin bertambah”. Dari hal itulah muncul kesimpulan hati nuranilah yang seharusnya selalu kita hidupi.

Dalam terminologi Arab, nurani disebut dhamir. Istilah dhamir ini dipahami sebagai perasaan kejiwaan yang berperan aktif dalam diri sebagai pengontrol (provost), yang memerintahkan untuk melaksanakan kewajiban dan menjauhi larangan. Perasaan yang akan melahirkan rasa senang ketika diri dalam kebaikan dan sebaliknya akan melahirkan rasa sedih dan tertekan apabila diri dalam kemungkaran dan kejelekan.

Ketika diri berbohong terhadap orang lain misalnya, bisa jadi manusia tidak pernah tahu kebohongan kita, tetapi nurani (dhamir) kita yang hidup akan melahirkan perasaan bersalah dan tertekan karena dosa tersebut. Rasulullah SAW mendefinisikan dosa sebagai sesuatu yang akan menimbulkan perasaan tidak nyaman dan tertekan dalam hati. Di samping itu, pelakunya tidak menyukai orang lain tahu perbuatan tersebut. Artinya, nurani kita akan menolak saat kita akan melakukan dosa, sekecil apapun.

Nurani merupakan standar sah dalam diri kita untuk menilai kebenaran dan keotentikan hidup kita. Rasulullah SAW bersabda, “Mintalah fatwa dari nurani, kebenaran adalah apabila nurani dan jiwamu tenang terhadapnya sementara dosa apabila hatimu gelisah” (HR Ahmad). Ini tentunya terjadi apabila nurani (dhamir) kita hidup dan sehat.

Dhamir berada pada ruang spiritual, kematian nurani merupakan krisis spiritual. Beberapa ahli psikologi menyebut fenomena ini dengan beberapa istilah, seperti spiritual alienation (keengganan spiritual), spiritual illness (penyakit hati), dan spiritual emergency (krisis spiritual). Krisis spiritual berlanjut pada krisis eksistensi diri sebagaimana disebut Carl Gustav Jung sebagai existensial illness (krisis eksistensi).

Semua ini bermuara pada semakin lemahnya kecenderungan dan kemampuan manusia dalam mengenal Tuhannya. Dalam bahasa sederhana, bisa dikatakan sebagai proses lemahnya iman kepada Tuhan.

Iman merupakan kata kunci dalam setiap permasalahan nurani dan spiritualitas. Karena iman bagi spiritualitas adalah ibarat air bagi tanaman. Sementara spiritualitas yang sehat dengan iman yang kuat dan benar akan menghidupkan nurani. Untuk itu, menghidupkan nurani terus dengan menghidupkan keimanan kepada Allah dalam diri.

Orang beriman adalah orang yang hidup hati nuraninya. Rasulullah SAW ketika ditanya, “Apa iman itu?” Beliau menjawab, “Apabila engkau merasa bersalah dengan perbuatan dosamu dan merasa senang dengan perbuatan baikmu, maka kamu seorang mukmin (beriman) “ (HR. Ahmad)

Jadi, imanlah yang menjadi sumber kepekaan nurani kita. Nurani yang hidup adalah nurani yang beriman kepada Allah. Yaitu iman kepada Allah sebagai ilah (Tuhan) yang disembah, ditaati, dipatuhi sekaligus ditakuti siksanya dan diharap surganya. Bukan sekedar mengimani bahwa Tuhan itu ada. Oleh karena itu dengan adanya covid-19 ini, bukanlah alasan untuk tidak melanjutkan silaturrahmi juga membuat hati nurani semakin hidup di dalam diri. Wallahu a’lam.

*Santri aktif Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan.