Spirit Fitri di Tengah Covid-19

ADMINPESANTREN Jumat, 29 Mei 2020 06:44 WIB
1228x ditampilkan Galeri Headline Kolom Alumni Karya Alumni

Oleh : Alfiyah Rizzy Afdiquni*

Pernah dengar lagu Mesut Kurtis feat Maher Zain di bawah ini?

أنت هدية من الله لنا.. بعد انتظارنا لك طول السنة .. فيك السرور و الهنا ..حمدا لك يا ربنا – مسعود كرتس

“Kaulah hadiah dari Allah untuk kami.. Setelah menunggu dikau sepanjang tahun.. Ada kebagiaan dan kepuasan.. Segala Puji bagi-Mu, Wahai Tuhan kami”

Benar, penggalan kalimat tulisan di atas merupakan lirik lagu Mesut Kurtis feat Maher Zain yang bertajuk Eidun Saeed. Sebagaimana judulnya, lagu tersebut menggambarkan kebahagiaan Umat Muslim dalam menyambut Idul Fitri setelah perjuangan menahan hawa nafsu -baik dhohir wa bathin berikut pelaksanaan serta peningkatan ibadah selama Ramadan. Secara umum, Idul Fitri biasanya diisi dengan Takbiran, Sholat Ied, Silaturrahmi bersama keluarga besar -termasuk maaf-maafan, Halal bi halal/Open House, THR (Tunjangan Hari Raya/Sangoh) dan pernak-pernik Idul Fitri lainnya.

Namun, hal yang tidak pernah kita sangka-sangka sebelumnya, Idul Fitri 1441 H tahun ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika kembali flashback ke awal tahun 2020, tentu kita semua tidak pernah mengira akan menghadapi Corona Virus yang sangat-sangat mempengaruhi aspek kehidupan kita. Mulai dari sistem pekerjaan, rumah tangga, peribadatan, pembelajaran serta perkuliahan.

Corona tak hanya memberi dampak kuat pada sektor fisik, namun juga pada sektor kesehatan mental. Sebuah penelitian yang diterbitkan Lancet Psychiatry sebagaimana dilansir dari detik.news menyebutkan, miliaran orang di dunia berjuang mengatasi kecemasan mental mereka. Kecemasan tersebut bisa sebab ekonomi yang melesu, tidak begitu paham materi pembelajaran atau perkuliahan online, hingga galau karena skripsi yang stuck (jalan di tempat) karena tidak bisa mengambil data.

Walaupun demikian, saya yakin kita semua adalah manusia yang kuat dan bisa berjuang bersama-sama melewati badai ini. Insyaallah, ujian Covid-19 menghantarkan kita menjadi pribadi mukmin yang lebih baik lagi, yang mana telah Allah Swt firmankan dalam surah Al-Ankabut ayat 1-4:

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (4(

Artinya: “Alif Lam Mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.” (QS Al-Ankabut : 1-4).

Melihat realita yang terjadi saat ini, di mana tentu kita tidak merayakan Idul Fitri seperti tahun-tahun sebelumnya. Seorang tenaga medis, dengan akun twitter @afrkml memberitahukan bahwa Indonesia masuk kategori Fast Pandemic yang bermakna peningkatan kasus Covid-19 secara signifikan namun tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas layanan kesehatan bahkan cenderung lamban, sehingga korban dari kalangan medispun banyak berjatuhan. Ia menambakan, jika melihat fakta lapangan setidaknya ada dua hal yang bisa dilakukan kita sebagai masyarakat; jangan tertular dan jangan menularkan.

Pandemi yang berlanjut hingga bulan Syawal ini, harusnya merupakan momentum menjadi mukmin bertakwa dan memiliki empati pada sesama, tetapi fakta riil yang terjadi justru sebaliknya, masih banyak yang berburu baju baru di mall dengan berjubel-jubel, pun tak jarang yang tak memakai masker, berpergian yang tak perlu, memaksakan pulang kampung, dan lain sebagainya, bahkan ada juga prank-prank unfaedah yang bersileweran di media, Astaghfirullah. Semoga kita bukan bagian itu ya.

Meski banyak agenda Idul Fitri yang ditiadakan, bukan berarti spiritnya ikut tiada juga. Hal terpenting adalah bagaimana memaknai Idul Fitri dalam memiliki hati dan iman yang suci, terbuka memaafkan orang lain -juga diri sendiri, dan tentu saja istiqomah dalam ibadah-ibadah sunnah. Adapun, halal bi halal dengan keluarga besar, alangkah baiknya untuk ditunda terlebih dahulu atau dialihkan ke ranah virtual hingga waktu dan keadaan baik yang dapat mempertemukan kembali.

Semoga Spirit Idul Fitri selalu menghiasi hari-hari kita ya. Aamiin. Walaupun Idul Fitri tahun ini berbeda, namun semangatnya selalu sama dan senantiasa membuncah di hati. Bonus kalimat indah dari teman penulis:

Atas Segala Ketetapan: Di ujung asa sesuai ikhtiar panjang dan doa yang dipanjatkan, ada sebuah ketetapan. Sederet jawaban yang entah sejalan atau bertolak belakang dengan harapan, masih bersemayam. Kemudian saat Tuhan belum menjawab doa, tetaplah teguh berbaik sangka, barangkali ada yang keliru dengan hajat kita. Atau mungkin ada yang salah dari cara menjemputnya? Tersebab sudah ada yang mengatur kehidupan kita. Kalau bukan rezekinya, yakini saja bahwa yang terbaiklah yang akan datang pada saatnya. -Okita Fatma M

Selamat Hari Raya Idulfitri 1441 H. Stay Fitri. Stay at Home.

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, mahasiswa tingkat akhir Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang