Sultan Agung Mataram dan Penanggalan Hijriyah Jawa

ADMINPESANTREN Selasa, 2 Juni 2020 07:11 WIB
555x ditampilkan Galeri Headline Opini Santri Karya Santri

Oleh: Muhammad Izul Ridho*

Penanggalan atau kalender yang dikenal oleh umat Muslim adalah penanggalan Hijriyah dan Masehi. Penanggalan Masehi merupakan penanggalan yang berpatokan pada perputaran bumi mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya, penanggalan model ini cukup pasti dan akurat dalam menentukan tanggal. Penanggalan ini dimulai sejak lahirnya Isa al-masih. Dalam pemahaman umat muslim Isa as berbeda dengan Isa al-masih yang diyakini anak Tuhan oleh umat Nasrani. Sedangkan penanggalan Hijriyah adalah penanggalan yang berpatokan pada perputaran bulan mengelilingi bumi.

Perputaran bulan mengelilingi bumi menjadi patokan umat Muslim untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan hari-hari raya penting lainnya. Digunakannya bulan sebagai tanda dan patokan sebab wahyu yang turun berkata demikian; Faman Syahida Minkum al-Syahrah Falyasumhu (Barangsiapa di antara kamu hadir (di daerah tempat tinggalnya) melihat hilal awal bulan, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu). Dalam sebuah hadist juga dijelaskan "Allah menciptakan hilal dari bulan sabit sebagai penentu waktu bagi umat manusia. Jika kalian telah melihatnya, maka berpuasalah. Jika kalian telah melihatnya, maka berbukalah. Jika kalian terhalang mendung, maka sempurnakan bilangan tiga puluh hari"

Saat Sayyidina Umar Ibn Khattab sebagai Khulafa al-Rasyidin hendak menetapkan awal dari tahun hijriyah, terjadi perbedaan pendapat di antara para sahabat nabi. Ada yang berpendapat agar dimulai sejak awal Nubuwwah, ada yang berpendapat sejak tahun wafatnya Nabi dan pada akhirnya para sahabat sepakat agar tahun hijriyah pertama dimulai sejak awal pertama kali Hijrah Nabi ke Madinah ditetapkan tanggal satu muharram sebagai awal tahun serta tahun penyusunan kalender hijriyah itu ditetapkan sebagai tahun ke enam belas hijriyah.

Islam masuk di tanah Jawa dan pengaruhnya mulai kuat dengan adanya kekuasaan di tangan umat Muslim, berdirinya kesultanan Mataram sebagai salah satu tandanya. Saat Sultan Agung Mataram, Mas Rangseng yang bergelar Sultan Agung Hanyokro Kusuma (1613-1645) putra Panembahan Sinopati Mataram, Mas Jolang naik tahta dan memulai kepemimpinannya, ia memiliki perhatian besar terhadap Islam. A. Latief C. A. dalam bukunya yang berjudul ”Tokoh Ulama Aswaja di Nusantara” meletakkan Mas Ranseng di urutan pertama para pejuang aswaja di Nusantara, mengikuti setelahnya Syeikh Nawawi al-Banteni dan Mbah Kholil Bangkalan.

Mas Rangseng adalah pemimpin sekaligus cendekiawan Muslim yang di masa itu memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan, filsafat dan sastra Jawa. Ia mengungkapkan pikiran, hasil ijtihad dan gagasannya dengan menyusun kitab Sastra Ganding, buah karyanya yang berisikan tentang; ahlak mulia, watak kesatria, kewajiban dalam bernegara, semangat juang, tatakrama kaula dan ciri-ciri muslim yang soleh. Gagasannya yang banyak tertuang dalam kitab tersebut dapat diterima dengan senang hati oleh masyarakat Jawa kala itu.

Kebijaksanaan politik Mas Rangseng terbukti dapat melestarikan budaya Jawa. Pada masa peralihan Majapahit terdapat sebuah kerampungan (keputusan) dari paruman (permusyawarahan) para wali di masjid Ampel Denta Surabaya, yaitu; Tut Wuri Angiseni, maksudnya adalah memasukkan unsur-unsur Islam dalam setiap budaya, hukum dan adat di tanah Jawa kekuasaan Demak. Setelah Demak menjadi bagian dari kekuasaan Mataram, yaitu setelah Mas Rangseng mengalahkan Pangeran Ratu Pekik (Muhammad Faqih) dalam sebuah pertempuran, yang akhirnya menjadi ipar Mas Rangseng, ia melanjutkan kerampungan para wali tersebut dengan beberapa kebijakannya dalam politik.

Salah satu kebijakannya adalah menjadikan penanggalan Hijriyah sebagai pedoman dalam penanggalan Jawa, sebelumnya Mataram masih menggunakan tahun Suko (Hindu) sebagai pedoman. Tahun Hijriyah disebut sebagai tahun Aboge agar mudah dimengerti oleh masyarakat Jawa kala itu. Penanggalan Aboge disusun sendiri oleh Mas Rangseng melalui hasil perhitungan ilmu falak atau astronomi yang memang dikuasainya sebagai salah satu cendekiawan dan khalifah di tanah Jawa. Berdasarkan perhitungannya Mas Rangseng menetapkan tahun Alif pada tanggal satu Suro (satu Muharram) yang bertepatan jatuh pada Rabu Wage.

Kebijakan tersebut menunjukkan strategi dakwah yang dilakukan oleh Mas Rangseng sangat bijaksana sebab dengan memasukan nilai-nilai Islam dalam budaya dan hukum adat Jawa, tanpa menghilangkan budaya yang sudah baik dan bermanfaat. Selain itu kebijakannya yang lain adalah mewajibkan para punggawa keraton berjamaah Subuh di masjid kraton dan pada bulan Maulid, adipati dan bupati-bupati taklukkan diwajibkan hadir pada pasowan (sebo) di Mataram. Kebijakan itu meniru tradisi kerajaan Majapahit, yang salah satu tujuannya adalah untuk menanamkan kedisiplinan.

*Penulis adalah santri aktif sekaligus Kasi Taftis Hadits Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata