Menakar Penerapan “New Normal” di Lingkungan Pesantren

ADMINPESANTREN Selasa, 9 Juni 2020 06:39 WIB
1699x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri New Normal

Oleh : Efa Sufhatul Imamah 

Corona Virus Disease atau bisa disebut dengan Covid-19 yang ditemukan pada tahun 2019 merupakan virus yang menginfeksi paru-paru, juga termasuk virus yang tidak terlihat namun mematikan. Covid-19 kini telah mempunyai nama resmi yaitu SARS-CoV-2 atau Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 yang telah banyak meresahkan masyarakat. Pemerintah telah berupaya melakukan berbagai usaha untuk mencegah tersebarnya virus tersebut, di antaranya PSBB (pembatasan sosial berskala besar) atau social distancing. Virus corona menyerang sistem pernapasan manusia dan salah satu cara mencegah infeksi virus corona adalah dengan menjaga daya tahan tubuh tetap kuat. Dokter, perawat, dan tenaga medis merupakan orang yang berada di garda terdepan dalam melawan wabah virus corona ini. Namun tidak cukup hanya dengan pengupayaan dari pemerintah tapi juga partisipasi masyarakat yang sangat penting, karena dengan adanya partisipasi dari masyarakat akan memudahkan dan melancarkan strategi pemerintah dalam menuntaskan COVID-19.

Angka kematian yang disebabkan oleh Covid-19 terus bertambah dari hari ke hari. Ada pasien yang meninggal dunia, banyak juga yang kemudian dinyatakan negatif dan akhirnya sembuh. Untuk angka kematian di Indonesia per tanggal 8 Juni 2020 mencapai angka 1.883 jiwa sedangkan yang sembuh berjumlah 10.904 orang.

Banyak sektor yang terdampak oleh wabah virus corona, salah satunya adalah sektor pendidikan. Sektor pendidikan merupakan salah satu lini kehidupan yang paling terdampak pandemi Covid-19. Sekolah dan perguruan tinggi juga diliburkan sebagai langkah pencegahan penyebaran virus corona. Apalagi pesantren, pesantren menghadapi masalah yang begitu kompleks, karena di pesantren tidak hanya belajar materi-materi yang harus dihapalkan dan dipahami, tapi juga harus menjalankan banyak ritual keagamaan dengan sistem asrama. Dengan adanya hal seperti ini pesantren juga banyak mengalami hambatan dalam penyelenggaraan proses belajar mengajarnya.

Banyak hal yang telah diupayakan pemerintah dalam menghadapi situasi sulit akibat wabah virus corona dalam bidang pendidikan. Salah satunya yaitu menggandeng TVRI-RRI untuk menyiarkan materi pembelajaran diniyah. Bukan hanya TVRI-RRI, namun segala media sosial dimanfaatkan, seperti halnya Youtube, Whatsapp, Facebook, dan Zoom Cloud Meetings. Namun hal itu harus menjadi bahan perhatian pemerintah dalam mengalokasikan dana pendidikan yang begitu banyak, karena bukan hanya para pelajar yang kehilangan aktivitas belajar, para orang tua juga banyak kehilangan pekerjaan. Pemerintah juga bisa menggandeng BUMN Bank Syariah agar mengalihkan program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) untuk memberi pendidikan para santri.

Bulan-bulan awal tahun ajaran baru bagi dunia pendidikan, semua sekolah baik negeri maupun swasta akan kewalahan dengan penyambutan para siswa/i baru yang berbondong-bondong untuk mendaftarkan diri sebagai peserta didik. Tidak terlebih juga pada kalangan pesantren, dimana hal itu akan menjadi tugas besar dalam mempersiapkan kembalinya santri dan penyambutan santri baru di tengah pandemi Covid-19.

Kementrian Agama (Kemenag) tengah menyusun aturan dan mekanisme kegiatan pembelajaran dan aktivitas pondok pesantren bila pemerintah memberlakukan tatanan baru atau new normal. Sebanyak lima juta lebih santri di seluruh Indonesia menanti keputusan pondok pesantren masing-masing dalam mengupayakan keberlangsungan new normal di area pesantren, dalam rangka evektivitas pendidikan mereka dan tentu saja keselamatan mereka agar terhindar dari Covid-19.

Banyak hal yang harus dilakukan pesantren dalam menyambut para santrinya, mulai dari aspek spiritualitas sampai strategi untuk mencegah menularnya wabah Covid-19 ini. Upaya yang dapat dilaksanakan, di antaranya adalah penyebaran informasi atau sosialisasi tentang ketentuan dan syarat yang harus dipenuhi para santri yang hendak kembali ke pesantren. Semisal surat pernyataan sehat yang ditandatangani oleh wali dan tempat kesehatan setempat, begitu pula surat pernyataan tidak melakukan perjalanan ke luar daerah yang disetujui oleh kepala desa bersangkutan.

Pesantren dalam menyambut para santrinya harus benar-benar menjalankan protokol kesehatan yaitu dengan menstrerilkan area pesantren, mewajibkan pakai masker, menyediakan tempat cuci tangan di area yang mudah dijangkau, jaga jarak, memeriksa suhu tubuh para santri dan sebagainya. Memang terdengar sulit, meski bagi pesantren sekalipun yang selama ini telah menyiapkan seluruh kebutuhan santri, baik dari segi peralatan sehari-hari, makanan, dsb. Namun, hal ini adalah demi kepentingan bersama, dan pesantren diyakini bisa melakukannya.

Pada prinsipnya, pesantren mendukung pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait wabah Covid-19 yang melanda berbagai negara, terlebih Indonesia. Sehingga dengan kembalinya para santri juga harus menjadi kewaspadaan bagi pengurus pesantren dalam melaksanakan protokol kesehatan. Dalam hal pembelajaran pesantren juga harus mengadopsi perkembangan untuk membantu proses belajar-mengajar. Karena perkembangan teknologi digital yang semakin cepat dan semakin canggih. Tapi harus diingat bahwa nilai utama pendidikan pesantren adalah perbaikan perilaku sesuai dengan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, kemandirian yang ditanamkan kepada santri selama ini, menjadikan pengurus pesantren, orang tua, dan santri pada khususnya akan lebih mudah dalam memasuki pesantren yang new normal ini.

* Penulis adalah mahasiswa semester akhir Program Studi Perbankan Syariah Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan