Covid-19; Tantangan Pesantren Mempertahan Trust Masyarakat

ADMINPESANTREN Jumat, 12 Juni 2020 06:29 WIB
1092x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh : Kholis Frendika*

Sejak zaman penjajahan Hindia Belanda sistem pendidikan di Indonesia memiliki dua pola yang tetap berlaku sampai saat ini yaitu pendidikan umum yang dipelopori oleh pemerintah dan pendidikan agama yang dipelopori oleh kiai dan pesantren. Diakui atau tidak pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam memajukan peradaban dunia. Terlebih di Indonesia, pesantren berperan sebagai pusat pendidikan yang sampai saat ini konsisten menjadi agent perubahan masyarakat sehingga hal ini mengindikasikan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil alamin.  

Perkembangan pesantren di Indonesia bisa dibilang prospektif. Hal ini disebabkan diterbitkannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas), bahwa:

"Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara".

Dengan begitu, tidak ada lagi diskriminasi terhadap pendidikan yang berbasis keagamaan di pesantren. Begitu juga pendidikan di pesantren lebih diakui dan mendapat pengakuan oleh pemerintah.

Disadari atau tidak, eksistensi pondok pesantren saat ini mendapat pengakuan bahkan dukungan dari publik. Hal ini bisa dilihat dengan adanya verifikasi fungsi pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan non formal yang lebih maju, modern, dan berkualitas. Seperti pondok pesantren agro bisnis, pondok pesantren salafi, pondok pesantren teknologi, pondok pesantren sains dan yang lainnya. Sehingga dengan begitu pondok pesantren mempunyai pengaruh terhadap perkembangan masyarakat, baik di aspek sosial, ekonomi, budaya dan politik.

Perkembangan yang sedemikian terkait juga dengan status dan peranannya yang semakin luas (wider mandate) dari sebagai lembaga keagamaan, pendidikan, sosial sampai ke kampung peradaban dan artefak peradaban Indonesia. Bagaimanapun peran pesantren sebagai lembaga keagamaan tidak dipungkiri, yaitu sebagai salah satu unsur penggerak Islam di Indonesia (Lombard, 2005).

Namun, di tengah pergulatan pandemi covid-19 yang semakin hari semakin mengkhawatirkan maka pesantren memiliki tantangan yang jauh lebih besar, bahkan tidak mudah. Terlebih saat dihadapkan pada momentum kembalinya santri pasca liburan, pesantren tetap dianggap perlu bahkan harus untuk melakukan sesuatu yang sekiranya tetap pada posisi sebagai agent perubahan masyarakat. Jika tidak, dikhawatirkan pesantren akan menjadi klauster baru penyebaran covid-19. Hal ini sangat mungkin terjadi mengingat bahwa kehidupan pesantren berbasis komunitas dan cenderung komunal. Dengan begitu pesantren tidak lagi menjadi agent perubahan masyarakat. Begitupun trust sepenuhnya tidak lagi dimiliki oleh pesantren. Bahkan demikian, Islam tak lagi hadir sebagai rahmatan lil alamin.

Pesantren dituntut untuk berbenah dan menyesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, keadaan yang mencekam menjadi alasan kuat bagaimana seharusnya pesantren mampu beradaptasi serta menjadi rujukan kemaslahatan umat. Oleh karenanya beberapa pesantren di Indonesia khususnya di Jawa Timur sudah banyak yang mulai beradaptasi dan menerapkan suatu pola hidup sehat dan bersih berbasis protokol pencegahan covid-19, terlebih saat menghadapi kembalinya santri dan pendaftaran santri baru.

Hal ini lantas bukan berarti mengubah karakteristik pesantren menjadi kebarat-baratan, atau sebagai upaya mengkulturasikan antara nilai agama dengan budaya Barat. Akan tetapi sebagai usaha berbenah dan menjadi garda terdepan saat umat membutuhkan, atau paling tidak pesantren turut berperan dalam membantu memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO (World Health Organization) tersebut.

Secara garis besar pesantren menghadapi dua tantangan, pertama makro dan kedua mikro. Pada dataran makro pesantren dituntut untuk mematuhi aturan yang diatur pemerintah, seperti yang tertuang dalam surat edaran Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, Nomor: SR.03.03/II/55/2020. Kemudian juga surat edaran Gubernur Jawa Timur nomor: 443/4146/2013/2020 perihal peningkatan kewaspadaan covid-19. Sedangkan pada dataran mikro, pesantren dituntut untuk menata ulang sistem yang sesuai, meliputi interaksi antara kiai dan santri, konsep pendidikan yang digunakan serta kurikulum yang diterapkan. Baik tantangan makro atau mikro keduanya harus direspon secara positif oleh pesantren melalui langkah-langkah strategis dan tidak menyimpang baik secara sosial, moral dan agama, sehingga tatanan yang baru bisa diwujudkan dan menjadi kemaslahatan bersama.

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

Mengantisipasi kerusakannya lebih diutamakan dari pada mengambil manfaatnya”

Kaidah di atas, bukan hal yang baru bahkan asing bagi sebuah institusi keagamaan seperti pesantren, di samping memang relevan dengan kehidupan sehari-hari  pun juga cukup mudah dalam pengaktualisasiannya.

Maka, sudah seharusnya pesantren bersifat responsif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dan yang akan terjadi. Bersikap isolatif dan menutup diri hanya akan menjadikan pesantren mengalami kelemahan dan kemunduran, yang pada waktunya akan ditinggalkan oleh masyarakat. Pesantren tetap diharapkan menjadi solusi dan rujukan umat dalam semua keadaan, (pesantren future solution).

*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, sekaligus mahasiswa Pascasarjana Fakultas Usuluddin University of Malaya Malaysia.