Melampaui New Normal Bagi Generasi Muda

ADMINPESANTREN Selasa, 16 Juni 2020 06:21 WIB
1935x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Opini Santri

Oleh : Khotibul Umam*

“Seseorang yang tidak mau berubah maka ia akan tertinggal.” RH.M. Thohir Zain

Itulah tulisan yang terpampang di kaos Pekan Ngaji 4 yang saya dapatkan dua tahun lalu. Dunia itu memang terus berubah, tidak akan tetap karena satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri. Pada umumnya seseorang yang telah berada di zona nyaman, akan sulit berubah dari posisi tersebut.

Kita semua tahu pandemi covid-19 masih akan panjang di Indonesia dengan melihat kebijakan dan apa yang sedang terjadi saat ini, dan kita semua tahu ke depan kita tidak bisa lagi hidup seperti dulu lagi yang bebas dan lepas. Covid-19 telah mengubah tradisi sosial dunia; mulai sekarang dan ke depan kita senantiasa harus jaga jarak dan menggunakan masker, bersarung tangan, makan vitamin, pola hidup sehat, mencuci tangan dan selalu menjaga kebersihan dan higienis menjadi hal standar kenormalan baru atau new normal.

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.  Menurut Wiku, prinsip utama dari new normal itu sendiri adalah dapat menyesuaikan dengan pola hidup. Dengan catatan new normal bisa dilakukan ketika infeksi virus covid-19 sudah terkendali. Tentunya harus ada indikator yang jelas untuk menyatakan virus itu sudah terkendali.

Ner normal memang menuntut suatu perubahan, dan perubahan adalah sesuatu yang lumrah terjadi, kita mau melakukan atau tidak melakukan apapun perubahan itu sudah pasti ada. Ada atau tidak ada covid-19, kehidupan manusia sudah biasa berubah dan terus akan berubah. Kita pun juga sama, kita kemarin berubah dari pola-pola hidup di masa yang lalu, tetapi memang covid-19 ini memaksa kita untuk berubah lebih drastis dan ekstrim.

Di dalam Islam sendiri kita mengenal istilah hakikat perbuatan dan washilah perbuatan, ada nilai inti dan ada perantara, sepanjang masa hakikat perbuatan selalu sama akan tetapi washilahnya yang berbeda-beda, akan ada banyak new normal dalam kehidupan kita sebagaimana dulu-dulu telah berlalu, contohnya orang yang lahir 80-an akan merasakan perubahan dari dunia analaog ke dunia digital. Revolusi digital ini telah mengubah cara pandang seseorang dalam menjalani kehidupan yang sangat canggih saat ini. Sebuah teknologi yang membuat perubahan besar kepada seluruh dunia, terutama dalam membantu mempermudah segala urusan.

New normal mengubah kebiasaan orang beraktivitas secara online, mulai dari bekerja, belajar, belanja maupun hanya sekedar silaturahmi. Keadaan ini juga memberikan orang-orang kesempatan untuk mempelajari skill-skill yang baru, cara-cara yang baru yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya, menjadikannya lebih kreatif dan inovatif di tengah pembatasan sosial. Terutama setelah selama beberapa bulan stay at home karena lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kita telah diberi kesempatan dengan banyak waktu untuk mengumpulkan ide dan menyalurkan hobi.

Tanpa kita sadari new normal dalam masa covid-19 telah memberikan kita kesempatan untuk tidak menjalani hidup secara monoton. Sudah saatnya kita bergerak untuk perubahan, bukan hanya terus rebahan dan mengeluhkan keadaan. Perubahan merupakan hukum alam yang tidak terelakkan, maka hanya berubah yang bisa dilakukan bila tidak ingin tertinggal bahkan tergilas kehidupan. Berubah bukan berarti berhenti menjadi diri sendiri, berubah artinya menjadi diri sendiri yang lebih baik dari sebelumnya, keahliannya lebih terarah, pengetahuannya bertambah, wawasannya lebih luas, pemahamannya lebih mendalam dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Proses perubahan mungkin melibatkan ketidaknyamanan dan kesulitan dalam menjalaninya, mengapa? Karena kita berusaha melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, mengubah sudut pandang kita, membiasakan hal-hal baru di luar apa yang biasa kita lakukan sebelumnya. Tetapi jika kita mau berusaha maksimal mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru yang lebih baik, maka prestasi dan kemajuanlah yang akan kita dapatkan. Semua orang berhak dan mampu untuk berubah, namun generasi muda yang harus mengawal perubahan tersebut.

Generasi muda harus menjadi terdepan dalam mengajar serta memperkenalkan budaya melalui virtual yang memang sudah menjadi keniscayaan akhir-akhir ini, agar dengan penggunaan virtual nilai budaya tidak tergerus dengan kondisi dan gerakan virtual yang dimanfaatkan saat ini. Generasi muda juga harus menjadi contoh dalam pemanfaatan teknologi untuk mempermudah sektor ekonomi masyarakat dan keberlangsungan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Selain itu, generasi muda bisa menciptakan peluang untuk merespon ketahanan pangan di situasi sulit ini dengan memanfaatkan tanah kosong di daerah masing-masing untuk bercocok tanam.

Harapan bersama menjalani new normal di masa pandemi, generasi muda lebih siap dan adaptif menciptakan peluang dan kreativitas di tengah anjloknya produktivitas masa pandemi. Menciptakan sel-sel untuk melakukan perubahan pada masyarakat sekitar dengan kemampuan yang dimiliki, memberikan edukasi, serta menjawab kebutuhan masyarakat untuk mengingatkan protokol kesehatan yang berlaku.

Generasi muda adalah 60% populasi Indonesia dan sudah saatnya mengambil langkah perubahan, kita harus berubah, Indonesia harus berubah. Jadi sebenarnya sederhana. Ketika kita ingin merubah situasi bangsa dan negara ke depan maka mulailah perubahan itu pada diri sendiri. Orang bijak berkata, “Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” Mungkin inilah hikmah kita mengalami pandemi ini, kita dipaksa melakukannya dengan cepat tanpa selalu menunggu waktu untuk melakukan perubahan yang lebih baik dengan kenormalan baru. 

*Penulis adalah desainer majalah New Fatwa sekaligus mahasiswa semester akhir Prodi Perbankan Syariah Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan