New Normal; Kehidupan Baru Berdampingan Dengan Covid 19

ADMINPESANTREN Jumat, 19 Juni 2020 12:52 WIB
499x ditampilkan Galeri Headline Artikel Ilmiyah Kolom Alumni

Oleh : Fathurrohman  

Kita semua tahu, awal mula virus corona ini mucul pada awal Desember 2019 di salah satu kota di China, yakni kota Wuhan. Kemudian menyebar ke wilayah-wilayah lain di seluruh China. Hingga tanggal 30 Mei 2020 korban yang terjangkit virus ini sudah mencapai 83.046 jiwa dan 4.634 dari mereka dinyatakan meninggal dunia. Setelah beberapa bulan, virus ini terus menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia. 7,367,776 jiwa yang tertular dan 414,780 jiwa telah meninggal. Korban pertama di Indonesia terdeteksi pada tanggal 2 April 2020 Sebanyak 2 orang. Mereka adalah warga Depok Jawa Barat, sebagaimana diumumkan oleh presiden dan menteri kesehatan. Semenjak kejadian itu, negara mengumumkan bahwa covid 19 sudah menyebar di Indonesia. Dari hari ke hari jumlah korban yang tertular terus meningkat. Hingga tanggal 10 Jun 2020 korban mencapai 34,316 orang dan 1,959 dinyatakan meninggal dunia. Sesuai dengan prediksi WHO bahwasanya virus ini akan terus menyebar ke berbagai negara dan belum bisa diprediksi kapan akan berakhir.

Dengan adanya wabah covid-19 ini, kehidupan masyarakat sekarang tidak sama dengan sebelum-sebelumnya yang bebas tanpa adanya pembatasan jarak dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain. Semua aktivitas dan interaksi masyarakat saat ini harus benar-benar diperhatikan, karena wabah semakin hari akan semakin meluas ke berbagai negara di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Pemerintah membuat kebijakan dalam penanganan penyebaran covid-19 Mengutip dari Embassy Of The Republic Of Indonesia Washing Ton Dc, dengan mengambil beberapa langkah supaya virus ini tidak semakin menyebar. Di antaranya melakukan rapid tes, menyiapkan obat dari hasil riset, menyiapkan rumah sakit isolasi. Selain itu, juga melansir dari Kompas, Presiden dalam pidatonya menyampaikan bahwa langkah utama adalah untuk menjaga jarak (social distancing) atau Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB). Ia juga menekankan bahwa seluruh kegiatan belajar dan bekerja sebaiknya dilakukan dari rumah. Selain itu, masyarakat juga perlu menghindari beraktivitas di kerumunan termasuk dalam hal ibadah.

Langkah-langkah pemerintah dalam menangani covid-19 dari kemenkes RI.

a.         Meningkatkan perilaku dan pengetahuan masyarakat

b.        Menerapkan pola hidup bersih yaitu mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin yang baik dengan cara hidung dan mulut ditutup dengan tisu atau kain agar tidak menular pada orang lain, makan makanan yang bergizi, melakukan olahraga minimal setengah jam setiap hari, selalu menjaga kesehatan, dan cukup beristirahat.

c.         Pencegahan dan pengendalian infeksi dalam dunia pendidikan.

Cuci tangan, bersihkan ruang lingkungan sekitar, tunda pelaksanaan kegiatan di luar ruang kelas yang mengumpulkan orang banyak, kordinasi dengan dinas kesehatan setempat.

Pandemi ini bukan hanya menjadi ancaman persoalan kesehatan masyarakat semata, akan tetapi juga melumpuhkan roda perekonomian, pendidikan dan aktivitas lainnya. Maka kita harus mencari solusi bagaimana covid-19 ini tidak melumpuhkan aktivitas kehidupan kita semua. Di satu sisi kita harus menjaga diri dari penularan dengan cara mengurangi aktifitas sosial yang dapat berpotensi terjadinya penularan virus ini. Namun jika kita tidak beraktivitas, khususnya dalam bidang ekonomi maka kita juga akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup, maka keduanya sama-sama penting untuk kita amalkan sehari-hari.

Dalam menjalani kehidupan kita dapat memilih agar hidup kita tetap produktif dan selalu aman dari berbagai masalah yang kita hadapi, khususnya dalam masa pandemi covid-19 ini. Saat ini virus bukan lagi musuh yang harus kita takuti dan jauhi, akan tetapi sudah menjadi sahabat kita. Apakah kita menyerah? Tidak. Akan tetapi bagaimana kita dalam menyikapi dan menghadapi serta sadar diri agar virus tidak menghampiri kita yang dapat menyebabkan kita demam, sesak nafas dan sebagainya, hingga pada akhirnya menghilangkan nyawa kita.

Masyarakat harus bisa memulai hidup baru berdampingan dengan Covid-19, yang tidak hanya saja diam di rumah dan tidak beraktivitas. Kita harus mulai beraktivitas sebagaimana biasanya yang disebut dengan New Normal atau kehidupan baru berdampingan dengan covid-19. Bukan berarti tidak melakukan apa-apa dalam pencegahan, akan tetapi tetap melakukan ikhtiar sesuai dangan anjuran pemerintah dan protokol kesehatan.

New normal sebagai solusi dalam menjalani hidup pada masa pandemi, namun tidak terlepas dari peraturan pemerintah dan protokol kesehatan yang harus selalu hidup bersih, rajin mencuci tangan, mejaga jarak, memakai masker dan lain-lain yang dapat mencegah penularan covid 19 ini agar hidup kita menjadi aman dari penularan yang dapat membahayakan pada diri kita sendiri dan juga orang lain.

Beberapa upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam memutus rantaian covid-19 ini sudah sesuai dengan syariat Islam. Janganlah membahayakan pada diri sendiri dan orang lain “la dhararah wala dhirarah”. Agama Islam sebagai jembatan dalam terwujudnya maslahah dan menolak kemudharatan yang disebut dengan “dar’ul al-mafasid wa jalbu al-mashalih.

Sebagaimana perkataan al-Syatibi dan al-Ghazali, bahwa ketika kita ingin menuntaskan tujuan yang diinginkan oleh umat manusia secara syariah maka kita harus melakukan dari yang urgen terlebih dahulu dalam ushul fikih yang disebut dengan maqashid as-syariah. Maka dalam maqashid as-syariah yang menjadi indikator dalam pencapaian maslahah terdiri dari tiga bagian yakni primer (daruriyyat), sekunder (hajiyyat), dan tersier (tahsiniyyat). Menurut al-Ghazali, aspek-aspek al kulliyah/al-ushul al-khamsah yaitu perlindungan terhadap agama (hifzd al-din), jiwa (hifzd al-nafs), akal (hifzd al-aql), keturunan (hifdz al-nasl), dan harta (hifzd al-maal). Maka semua yang bertujuan untuk memelihara kelima dasar tesebut merupakan al-maslahah, sedangkan semua yang bertentangan dengan al-maslahah di sebut mafsadah.

Oleh karena itu kehidupan berdampingan dengan covid-19 ini adalah salah satu solusi bagi masyarakat dalam mencapai maslahah yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka sesuai dengan maqashid as-syari’ah yang disebut dengan hifzd al-nafs yaitu menjaga nyawa pada masa sekarang untuk bisa bertahan hidup, masyarakat harus bisa hidup dengan cara baru, kebiasaa baru, yaitu berdampingan dengan covid-19, akan tetapi sesuai dengan arahan protokol kesehatan dalam beraktivitas.

* Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, saat ini menempuh studi pasca sarjana di Prodi Ushul Fiqh Fakultas Syariah University of Malaya Malaysia.